"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Kisah Dr Imam Syafii: Dari Tukang Bersih Pasar ke Pendiri 4 Akademi Sepak Bola

Latar Belakang Profesor Imam Syafii

Profesor Imam Syafii, yang dikenal sebagai sosok penting dalam dunia sepak bola Indonesia, lahir pada 24 Januari 1966 di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Sejak kecil, ia memiliki ketertarikan besar terhadap sepak bola. Ia sering bermain di kampungnya dan menghabiskan waktu sekolahnya di Bangkalan.

Ia bersekolah di SDN Jaddih 1, lalu melanjutkan ke SMPN 2 Bangkalan dan SMAN 2 Bangkalan. Saat itu, ia sering berjalan kaki dari rumah ke kota untuk bersekolah. Untuk menjaga seragamnya tetap bersih, ia menitipkan seragam tersebut kepada temannya. Cuaca yang panas membuatnya memilih untuk “gandol” truk gamping yang melintasi jalan menuju rumahnya.

Perjalanan Pendidikan dan Kehidupan

Setelah lulus SMA, Prof Imam meminta orang tuanya untuk membiayainya kuliah. Ayahnya, yang bekerja sebagai tukang ledeng panggilan, hanya mampu membiayai pendaftaran kuliahnya. Ia kemudian melanjutkan studi di IKIP Surabaya dengan jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga. Meski hanya bisa membayar biaya pendaftaran, ia berhasil mendapatkan beasiswa Supersemar.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Pasar Genteng, Surabaya. Di sana, ia juga diberi tempat tinggal asalkan mau membersihkan pasar. Keinginannya untuk menyelesaikan pendidikan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk membantu 8 adiknya agar bisa menempuh pendidikan setara.

Perjalanan Karier di Dunia Sepak Bola

Selain fokus pada studi, Prof Imam juga sangat mencintai sepak bola. Ia mengikuti kompetisi internal Persebaya dan pernah magang di kantor PSSI Jatim. Setelah lulus S1, ia ditunjuk menjadi Ketua IV PSSI Jatim pada usia 24 tahun. Ia kemudian bergabung dengan PSSI pusat pada tahun 2005 hingga 2009 di bawah kepemimpinan Nurdin Halid.

Karena merasa jenuh dengan organisasi, ia memutuskan untuk fokus pada pelatihan sepak bola usia dini. Ketekunannya ini dilirik oleh Real Madrid Foundation di Spanyol. Ia ditunjuk menjadi PIC Real Madrid Foundation di Sidoarjo. Setelah lima tahun, ia mengubah nama akademi tersebut menjadi Indonesia Soccer Academy, yang mampu melahirkan pemain nasional seperti Marselino Ferdinan.

Kontribusi dalam Pelatihan Sepak Bola Usia Dini

Dalam 10 tahun terakhir, Prof Imam berhasil melahirkan 11 pemain yang masuk ke timnas. Beberapa di antaranya adalah Imam Faudji, Hugo Samir, Marcelino Ferdinand, Brylian Aldama, dan lainnya. Selain itu, ia juga melanjutkan pendidikannya di Universitas Airlangga Surabaya dan menyelesaikan Program Doktoral di Universitas Negeri Surabaya.

Ia juga menjadi akademisi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan pernah menjadi dekan di IKIP Mataram selama 4 tahun. Di sana, ia mendirikan Mataram Soccer Academy yang menjadi cikal bakal sepak bola NTB. Ia kemudian mendirikan Bangkalan Soccer Academy (BSA), Surabaya Soccer Academy, dan Probolinggo Football Academy.

Penghargaan dan Dedikasi

Ketekunan dan dedikasinya dalam pelatihan sepak bola membuatnya meraih gelar guru besar di Unesa. Ia kini menjabat sebagai Guru Besar Bidang Kepelatihan Sepak Bola Usia Dini di Unesa. Meskipun sudah menjadi profesor, ia tetap aktif melatih anak-anak di empat akademi miliknya.

Pada masa pandemi Covid-19, ia tetap melatih murid-muridnya melalui metode video call agar aktivitas mereka tidak terhenti. Bahkan, ia tidak melakukan PHK terhadap staf pelatih. Ia juga sering mendampingi murid-muridnya berlaga di luar negeri, baik dari tingkat ASEAN hingga Amerika.

Upaya Membentuk Sikap Positif

Prof Imam juga mempelopori adanya sikap bersalaman antardua tim di lapangan. Hal ini akhirnya menjadi kebiasaan yang terus diterapkan hingga saat ini. Di usianya yang ke-60, ia masih bertekad memberikan ilmu dan pengalamannya untuk ratusan anak didik di empat akademi sepak bola miliknya serta menjadi guru besar di Unesa.

“Di Unesa masih 10 tahun lagi,” tutupnya.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *