"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Daerah  

Banjir Berulang Ganggu Warga Perumahan Bekasi, Pengembang Dianggap Kurang Siap

Warga Bekasi Kembali Kecewa dengan Banjir yang Terus Berulang



Bekasi, –

Ketua RT 06 di salah satu perumahan di Bekasi, Firdaus, mengungkapkan bahwa warga setempat mengeluhkan banjir yang kembali terjadi di wilayah tersebut. Menurutnya, banjir ini menjadi masalah serius yang memengaruhi kehidupan sehari-hari warga.

Firdaus menyebutkan bahwa warga berharap pengembang dan pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah antisipatif agar banjir tidak terus berulang. Ia menilai, meskipun banjir disebabkan oleh faktor alam seperti curah hujan tinggi, tetapi ada harapan dari warga agar pihak-pihak terkait bisa memberikan solusi jangka panjang.

“Keluhannya pengen developer bisa mengantisipasi banjir. Mungkin ini faktor alam, curah hujan tinggi dan banjir merata se-Kabupaten Bekasi. Tapi kan kita pengen ada antisipasi dari pengembang ataupun dari pemerintah daerah setempat,” ujar Firdaus saat ditemui.

Hingga kini, Firdaus belum mendengar adanya permintaan maaf dari pihak pengembang terkait musibah banjir yang telah terjadi beberapa kali. Ia juga menyampaikan bahwa kawasan perumahan tersebut sebelumnya disebut bebas banjir, namun kini kondisinya berubah.

“Saya belum ada dengar ada permintaan maaf dari pihak pengembang kepada warga, belum dengar,” kata Firdaus.

Banjir yang melanda perumahan mencapai ketinggian sekitar satu meter membuat warga khawatir akan terulang kembali. Apalagi, jarak antara perumahan dengan Kali Sepak sangat dekat, sehingga risiko banjir semakin besar.

“Kalau khawatir ya pasti banget. Kami juga lagi pikirin untuk nanti menghadap ke pihak developer supaya ada tindakan dari pihak pengembang,” ujarnya.

Firdaus menjelaskan bahwa warga bersama pengurus lingkungan telah berkumpul untuk membahas langkah-langkah antisipasi banjir. Salah satu penyebab utama banjir adalah belum tuntasnya normalisasi Kali Sepak. Ia menyebut bahwa normalisasi hanya sampai di sekitar Pasar VGH.

“Permasalahan itu timbul dari Kali Sepak yang belum dinormalisasi semuanya. Waktu itu KDM hanya normalisasi Kali Sepak dari Pasar VGH,” ucap Firdaus.

Aliran Kali Sepak dari gorong-gorong yang berada di depan perumahan hingga ke hilir belum tersentuh normalisasi. Firdaus berharap pihak pengembang atau pemerintah dapat melakukan normalisasi hingga ke hilir.

“Harapan kami warga, gorong-gorong itu dibongkar, dinormalisasi sampai ke hilir. Bila perlu diturap atau dipondasi pinggirannya satu meter,” kata Firdaus.

Menurutnya, jika langkah tersebut dilakukan, kondisi perumahan akan lebih aman dari ancaman banjir. Sebagai informasi, salah satu perumahan di Bekasi telah dilanda banjir sebanyak tiga kali, yaitu pada Maret 2025, Juli 2025, dan pertengahan Januari 2026. Banjir pada Januari 2026 disebut sebagai yang paling parah.

“Pertama di bulan Maret 2025 itu banjir besar masuk ke rumah sampai sebetis atau sekitar 60 sentimeter. Lalu di bulan Juli 2025 banjir lagi, tapi tidak masuk rumah. Nah, per 18 Januari ini banjirnya lebih besar dari yang pertama, masuk rumah lebih tinggi lagi,” ujar Firdaus.

Pada banjir terakhir, ketinggian air mencapai sekitar satu meter, terutama di area jalanan perumahan. Akibatnya, warga RT 06, khususnya di Blok E dan Blok D, terpaksa mengungsi ke sejumlah lokasi yang lebih aman.

Saat ini, perumahan itu memiliki empat blok yang telah dibangun, yakni Blok C, D, E, dan F. Dari keempat blok tersebut, Blok E dan Blok D menjadi wilayah yang paling terdampak.

“Jumlahnya sekitar 110 keluarga yang terdampak. Blok E dan D yang paling terasa dampaknya,” kata Firdaus.

Firdaus menjelaskan, banjir dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi secara merata di wilayah hulu, termasuk Bogor, sehingga menyebabkan Kali Sepak Gabus meluap.

“Kalau hujannya lokal, sebesar apa pun biasanya tidak banjir. Tapi kalau hujannya melebar sampai ke hulu, Kali Sepak meluas. Katanya Kali CBL dan Kali Bekasi juga meluap, jadi dampaknya kembali ke perumahan kami,” ucapnya.

Ia menambahkan, perumahan itu mulai dibangun sejak 2022 dan mulai dihuni pada pertengahan 2023. Selama 2023 hingga 2024, kawasan tersebut belum pernah mengalami banjir.

“Banjir pertama yang saya rasakan itu Maret 2025. Sebelumnya tidak ada,” kata Firdaus.

Sebelumnya, unggahan akun Instagram @bekasi.terkini memperlihatkan sejumlah rumah di Bekasi terendam banjir cukup dalam. Namun berdasarkan pantauan di lokasi, hingga pukul 18.30 WIB banjir telah surut sepenuhnya. Meski demikian, masih terdapat beberapa kubangan air yang tersisa. Warga mulai beraktivitas kembali, meskipun sebagian memilih belum menurunkan barang-barang mereka karena khawatir terjadi banjir susulan.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *