JAKARTA,
Kritik terhadap Pembangunan Kembali JPO Sarinah
Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, menyampaikan kritik terhadap rencana pembangunan kembali Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Menurutnya, langkah tersebut dinilai kurang efektif karena akan beroperasi bersamaan dengan pelican crossing, yang merupakan fasilitas penyeberangan jalan dengan memencet tombol.
Alfred menyoroti bahwa masih banyak JPO di Jakarta yang memerlukan perbaikan karena kondisinya terlalu curam. Ia menyebut JPO seperti itu sebagai “JPO aborsi” karena tidak nyaman dan membahayakan bagi pengguna.
“Iya lebih baik memperbaiki yang kurang layak. Misalnya di JPO yang masih curam banget,” ujar Alfred saat dihubungi.
Ia juga mengkritisi alasan yang disampaikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bahwa pembangunan kembali JPO Sarinah dilakukan untuk alasan keamanan menyeberang. Menurut Alfred, jika demikian, maka keberadaan pelican crossing maupun zebra cross di Sarinah selama ini dinilai tidak aman untuk membantu warga menyeberang.
Padahal, tujuan dari kedua fasilitas tersebut adalah untuk mengembalikan hak pejalan kaki agar setara dengan pengendara di jalan raya.
“Jadi, haknya orang berjalan kaki itu sama dengan haknya para pengendara di jalan raya. Dia bisa menyeberang dengan aman, nyaman ya. Yang perlu diubah itu bukan pejalan kakinya yang disuruh di atas,” jelas Alfred.
“Yang perlu ditingkatkan itu kan kesadaran para pengendara memberikan ruang. Sehingga dalam sosialisasi kami selalu kami sampaikan, 15 detik (waktu menyeberang) itu sangat berarti bagi nyawa pejalan kaki,” tambah dia.
Selain itu, keberadaan pelican crossing dan zebra cross juga mendorong kebiasaan berkendara yang lancar, bukan buru-buru.
Alfred mengingatkan, kelancaran berkendara merupakan salah satu indikator untuk menguatkan branding sebagai kota global.
“Jakarta itu sebenarnya dengan kota-kota lain sebenarnya enggak perlu lagi kecepatan, yang perlu itu kelancaran. Itu sebenarnya kuncinya gitu,” tutur Alfred.
“Jadi kalau mau mengembalikan label Jakarta sebagai kota global gitu, kota global itu indikatornya bukan cuma ekonomi loh ya gitu. Jadi coba tanya orang-orang yang mau naik JPO bahagia enggak?” tambah dia.
Progres Pembangunan JPO Sarinah
Pembangunan JPO Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, saat ini tengah berlangsung. Pramono sebelumnya menyebut, sebenarnya JPO masih diperlukan warga.
Konstruksi JPO sudah membentang di sisi kiri dan kanan lantai 2 halte Transjakarta MH Thamrin. Ada tulisan “Mohon maaf ada pekerjaan konstruksi” yang tertulis pada bagian itu. Konstruksi tersambung dengan tiang yang ada di sisi barat dan timur halte. Bagian atas JPO telah dilengkapi rangka yang akan menjadi atap fasilitas tersebut.
Saat dipantau dari lantai 2 Halte MH Thamrin, lantai JPO sedang dalam proses pengerjaan. Beberapa pekerja proyek sedang beristirahat. Sejumlah helm dan peralatan kerja ditaruh di lantai JPO. Nantinya, JPO akan berada di sisi barat mal Sarinah yang tersambung dengan bagian taman pusat perbelanjaan itu.
Mengapa JPO Dibangun Kembali?
JPO Sarinah dibangun kembali karena hasil kajian menunjukkan bahwa fasilitas penyeberangan tersebut masih dibutuhkan, terutama bagi penyandang disabilitas.
“JPO Sarinah dalam kajian ini memang diperlukan terutama untuk difabel. Jadi itu salah satu alasan kemudian kenapa diadakan,” ucap Pramono saat ditemui di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan.
Pramono mengakui rencana pengaktifan kembali JPO Sarinah memunculkan pro dan kontra di masyarakat. Salah satu penolakan datang dari kelompok pejalan kaki yang ingin penyeberangan tetap dilakukan di permukaan jalan melalui pelican crossing.
“Memang saya juga sudah membaca pro-kontranya masyarakat yang apa kelompok pejalan kakikan menginginkan lewat tetap jalan kaki di bawah,” kata dia.
Meskipun JPO Sarinah akan dibangun kembali, Pramono menegaskan pelican crossing yang saat ini ada tidak akan ditutup. Kedua fasilitas penyeberangan itu akan dioperasikan secara bersamaan. Dengan begitu, warga bisa memilih cara menyeberang yang paling nyaman dan aman sesuai kebutuhan masing-masing.
“Jalan kaki di bawahkan tetap dibuka kemudian di atas sebagai alternatif pilihan. Jadi tetap, semua enggak ada yang ditutup,” ucap Pramono.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











