"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Nasib Pilu Pak Tarno, Pesulap yang Kini Jual Mainan di Jalanan dan Stres Ditagih Utang Puluhan Juta

Kehidupan Pak Tarno yang Memprihatinkan

Pak Tarno, pesulap legendaris Indonesia yang dulu pernah menjadi ikon hiburan di tahun 2000-an, kini hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Di usia senjanya, ia harus berjuang melawan penyakit sambil menghadapi berbagai masalah keuangan dan kesulitan hidup. Kondisi ini membuatnya harus rela menjual mobil pribadinya untuk melunasi utang yang tidak jelas asalnya.

Teror Telepon dan Utang yang Tak Jelas

Masalah bermula saat Pak Tarno sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Dalam kondisi yang lemah, seorang mantan sopir berinisial A diduga menggadaikan mobil milik Pak Tarno ke sebuah pihak leasing tanpa izin. Hal ini menyebabkan munculnya tagihan dari leasing yang mencapai Rp35 juta.

Menurut keterangan istri keduanya, Lisa Karlina, mereka mulai merasakan keanehan saat telepon genggam Pak Tarno terus-menerus dihubungi oleh pihak penagih (debt collector). “Tiba-tiba ada tagihan nelpon, hampir beberapa kali, ada 10 kali, kadang 5 kali. Tahunya ada tagihan dari leasing,” ungkap Lisa saat ditemui di kontrakan Pak Tarno di kawasan Warakas, Jakarta Utara.

Pak Tarno juga mengaku teror telepon yang diterimanya tak kenal waktu. Padahal kala itu kondisi kesehatannya tengah menurun. “Dapat telepon pagi, siang, sore. Padahal saya lagi di rumah sakit,” aku Pak Tarno.

Penjualan Mobil untuk Melunasi Utang

Karena merasa tertekan dengan teror telepon yang masuk terus-menerus, Pak Tarno dan keluarga akhirnya mengambil keputusan pahit. Agar beban pikiran tidak memperparah kondisi kesehatan Pak Tarno, mereka memutuskan untuk menjual mobil tersebut.

Mobil tersebut terjual dengan harga sekitar Rp54 juta. Uang hasil penjualan itu seluruhnya digunakan untuk melunasi utang di leasing agar pihak penagih berhenti menelepon. Namun, masalah tidak berhenti di situ. Pak Tarno mengaku tidak mendapatkan sisa uang dari penjualan tersebut, dan kini ia sama sekali tidak memiliki kendaraan pribadi.

“Mobil itu sudah dijual, tapi Bapak (Pak Tarno) mungkin tidak tahu dan uangnya tidak ada ke beliau. Mungkin untuk menutupi utang-utang di leasing tersebut supaya Bapak tidak kepikiran dan tidak tambah sakit,” jelas sang Manajer, Laura.

Kehidupan yang Semakin Sulit

Akibat kejadian ini, Pak Tarno yang dulu selalu didampingi sopir pribadi, kini harus rela hidup prihatin. Untuk keperluan syuting atau bepergian, ia terpaksa menggunakan jasa ojek online atau mengandalkan jemputan dari pihak stasiun televisi. “Sekarang Pak Tarno nggak punya mobil. Ke mana-mana pakai ojek online atau kalau ada syuting dijemput sama orang TV-nya,” tambah Laura.

Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Pak Tarno kini hanya berjualan mainan di kawasan Kota Tua. Dalam sehari Pak Tarno dan istri menerima penghasilan yang tak menentu.

Profil Pak Tarno: Dari Penjual Martabak ke Pesulap Legendaris

Sutarno atau akrab disapa Pak Tarno merupakan seorang pesulap legendaris Indonesia yang telah dikenal banyak orang melalui berbagai media. Tak hanya sebagai pesulap, pria yang akrab disapa Pak Tarno itu juga kerap tampil sebagai presenter dan komedian.

Pak Tarno semakin dikenal banyak orang karena sering mengucapkan kalimat “dibantu ya, bimsalabim jadi apa, prok-prok-prok” ketika akan melakukan sulap. Meski pernah berjaya pada masanya, kini kondisi Pak Tarno tampak memprihatinkan.

Ia dikabarkan harus berjualan ikan cupang demi menyambung hidup. Dalam sebuah video yang dilihat di akun TikTok @roamiegoetzmuller, Pak Tarno terlihat mengenakan kemeja merah bergaris hitam, topi putih dan celana pendek biru. Ia tampak duduk di kursi roda sambil menjajakan dagangannya.

Setelah video Pak Tarno ini viral dan beredar di media sosial, banyak netizen yang mendoakan kesehatannya.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *