Kawan Tuli Coffee and Space: Ruang Inklusif dengan Konsep yang Berbeda
Di tengah berkembangnya kafe-kafe di Kota Solo, hadir sebuah konsep yang unik dan penuh makna melalui Kawan Tuli Coffee and Space. Tidak hanya menjual minuman, tempat ini menyajikan pengalaman interaksi inklusif yang jarang ditemui.
Pengalaman Berbeda: Masuk ke “Dunia” Teman Tuli
Saat masuk ke lokasi Kawan Tuli Coffee and Space, pelanggan akan melihat seorang karyawan dengan papan tulis di depan meja. Ia menunggu respons visual dari pelanggan karena tidak menguasai bahasa isyarat. Komunikasi dilakukan melalui tulisan di papan tulis, sehingga membangun suasana yang berbeda dari biasanya.
Pengalaman ini justru membuka perspektif baru tentang inklusivitas. Menurut Co-Founder Kawan Tuli Coffee and Space, Florentino Bintang atau akrab disapa Tino, selama ini masih banyak ruang publik yang belum ramah bagi teman-teman tuli.
“Aku seakan datang ke dunia mereka. Saat semua pelayan tuli, lalu sebagai teman dengar aku merasakan sebagaimana yang mereka rasakan saat mengakses fasilitas publik yang semestinya aksesibel juga untuk mereka,” ujarnya.
Analogi Sederhana: Tantangan Akses Komunikasi Sehari-hari
Tino memberikan gambaran sederhana tentang bagaimana rasanya jika posisi dibalik. Misalnya, jika teman-teman tuli antri di puskesmas yang tidak ada nomornya dipanggil, itu adalah perasaan yang serupa.
“Ini dalam day to day basis kita pengen teman-teman dengar punya experience yang sama,” jelasnya.
Melalui pengalaman di coffee shop ini, ia ingin masyarakat memahami bahwa hambatan komunikasi sering kali bukan soal kemampuan, melainkan soal akses dan kebiasaan.
Interaksi Tidak Harus Bahasa Isyarat: Semua Bisa Saling Mengerti
Florentino Bintang menegaskan bahwa Kawan Tuli Coffee and Space tidak mewajibkan pelanggan menguasai bahasa isyarat. Ia justru ingin membuktikan bahwa komunikasi dengan teman tuli bisa dilakukan dengan cara sederhana, seperti menunjuk menu, menulis, atau menggunakan media visual.
“Ini menunya kurang. Ini kok kurang manis. Kita sediakan sticky notes dan white board kecil. Nggak harus (bahasa isyarat),” terang Tino.
Pendekatan ini membuat interaksi tetap berjalan lancar tanpa hambatan berarti, sekaligus membuka ruang edukasi bagi pengunjung.
Wadah Inklusif dan Peluang Kerja untuk Difabel
Lebih dari sekadar coffee shop, Kawan Tuli Coffee and Space juga hadir sebagai ruang pemberdayaan bagi teman-teman difabel, khususnya teman tuli. Tino mengakui bahwa mempekerjakan teman tuli bukan tanpa tantangan. Namun, hal itu bukan alasan untuk menutup peluang.
“Kita sadar betul ada beberapa barrier ada beberapa tantangan yang mungkin cukup berat juga dilakukan sama teman-teman businessman. SOP menyesuaikan. Bagaimana training program mereka. Ada banyak yang harus dilakukan tim manajemen kalau mau mempekerjakan teman-teman tuli,” jelasnya.
Dari Ide Sederhana Menjadi Ruang Kolaborasi Dua Dunia
Gagasan ini berawal dari keinginan untuk menciptakan ruang pertemuan antara dua komunitas: teman dengar dan teman tuli. “Akhirnya saya waktu itu bilang kita coba buat kecil-kecilan dulu. Makanya kita namai Kawan Tuli Coffee and Space,” terangnya.
Nama tersebut juga merupakan singkatan dari collaboration space, yaitu ruang kolaborasi yang mempertemukan dua dunia yang selama ini jarang berinteraksi secara alami.
“Sebenarnya singkat dari collaboration space. Space untuk bertemu teman-teman dengar dan teman-teman tuli. Teman-teman dengar mau ketemu teman-teman tuli bingung tempatnya dimana? Teman-teman tuli ketemu teman-teman dengar alasannya kenapa? Kita desain tempat ini dua dunia itu. Kita ingin bangun awareness. Teman-teman tuli juga keluar dari dunia mereka,” ungkapnya.
Kehadiran Kawan Tuli Coffee and Space
Kehadiran Kawan Tuli Coffee and Space di Jalan Ronggowarsito No. 16, Kampung Baru, Pasar Kliwon, Solo menjadi bukti bahwa inklusivitas tidak selalu rumit. Dengan pendekatan sederhana, komunikasi antara teman dengar dan teman tuli bisa berjalan alami.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











