"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Dulu di sungai, kini pasar terapung meramaikan Jakarta

Sejarah dan Makna Pasar Terapung yang Kini Hadir di Jakarta

Di tepian Sungai Martapura, pagi dulu selalu dimulai dengan riuh dayung yang membelah air. Perempuan-perempuan Banjar berdiri di atas jukung, membawa hasil bumi, saling menyapa, saling tawar, dalam irama yang tak pernah tergesa. Pasar terapung bukan sekadar tempat jual beli, ia adalah denyut kehidupan.

Kini, denyut itu berpindah. Bukan lagi hanya di sungai yang sunyi di Kalimantan Selatan, tetapi hadir di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Dermaga Pasar Terapung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta resmi dibuka. Sebuah potongan kecil dari Banua, kini berdiri di jantung Jakarta.

Bagi banyak orang Banjar yang merantau, pemandangan ini bukan sekadar wisata. Ia seperti memanggil pulang sesuatu yang lama tersimpan. Aroma makanan khas, warna kain Sasirangan, dan suara transaksi di atas perahu, semuanya terasa akrab, sekaligus menggetarkan.

“Rasanya seperti pulang kampung, walau cuma sebentar,” ujar seorang perantau asal Banjarmasin yang datang ke TMII. Matanya tak lepas dari jukung yang berjajar rapi. Di balik keramaian Jakarta, ia menemukan potongan kenangan yang selama ini hanya hidup di ingatan.

Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR menyambut positif pembangunan dermaga ini. Ia menyebut Pasar Terapung sebagai identitas budaya masyarakat Banjar yang tumbuh dari kehidupan sungai, yang kini diperkenalkan lebih luas ke masyarakat nasional.

Menurutnya, kehadiran Pasar Terapung di TMII bukan sekadar destinasi wisata, tetapi representasi jati diri urang Banjar. Sebuah identitas yang tidak boleh hilang, meski zaman terus berubah.

Di sisi lain, para pelaku UMKM melihat peluang baru. Produk-produk khas seperti kue tradisional, olahan kuliner Banjar, hingga kain Sasirangan kini punya panggung yang lebih luas. Tidak lagi hanya dinikmati di daerah, tetapi juga oleh pengunjung dari seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Seorang pedagang mengaku terharu ketika melihat antusiasme pengunjung. “Biasanya kami jualan di sungai, sekarang bisa di Jakarta. Rasanya bangga sekali,” katanya. Di matanya, ini bukan sekadar berdagang, tetapi membawa cerita kampung ke ibu kota.

Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin menilai kehadiran dermaga ini sebagai langkah besar dalam memperkuat posisi Kalsel sebagai pusat warisan budaya sungai di Indonesia. Ia berharap ini menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal lebih jauh budaya Banjar.

Namun di balik kebanggaan itu, ada pula rasa haru. Pasar terapung yang dulu begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari kini harus “dibawa” ke Jakarta agar tetap dikenal. Sebuah pengingat bahwa tradisi perlu terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

Di TMII, anak-anak yang mungkin tak pernah melihat sungai Martapura kini bisa menyaksikan bagaimana transaksi terjadi di atas air. Mereka melihat langsung bagaimana budaya bekerja, bukan sekadar dari buku atau layar.

Bagi generasi muda Banjar di perantauan, ini menjadi jembatan. Jembatan antara masa lalu dan masa depan. Mereka tidak hanya mendengar cerita orang tua, tetapi bisa melihat, merasakan, bahkan menyentuh warisan budaya itu secara langsung.



Pedagang tradisional menjajakan dagangannya di Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Ahad (9/2). – (/Prayogi)



Pasar terapung di Banjarmasin – (banjarmasin.olx.co.id)

Kontras itu terasa begitu kuat. Dulu, pasar terapung hanya bisa dijumpai di pagi hari yang berkabut di sungai. Kini, ia hadir di tengah kota besar, di antara gedung-gedung tinggi dan jalanan padat.

Namun justru di situlah kekuatannya. Budaya yang mampu berpindah tanpa kehilangan makna adalah budaya yang hidup. Dan Pasar Terapung, dengan segala kesederhanaannya, membuktikan bahwa identitas tidak harus tertinggal di kampung halaman.

Kini, di jantung Jakarta, suara dayung itu kembali terdengar. Membawa rindu, menghadirkan bangga, dan menyisakan haru, bahwa dari sungai kecil di Banua, sebuah budaya bisa mengalir jauh, hingga ke pusat negeri.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *