"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Sejarah Mathla’ul Anwar: Pilar Pendidikan Islam Sejak 1916 Sebelum NU Lahir

Peran Penting Mathla’ul Anwar dalam Sejarah Indonesia

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menekankan pentingnya peran organisasi Islam Mathla’ul Anwar dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Organisasi yang lahir dari Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten ini bahkan disebut sebagai salah satu pilar penting dalam pembentukan karakter keislaman dan kebangsaan di Tanah Air.

Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin saat membuka Muktamar XXI Mathla’ul Anwar yang dirangkaikan dengan Musyawarah Nasional (Munas) VI Muslimat Mathla’ul Anwar di Plaza Aspirasi KP3B, Kota Serang, pada Sabtu (11/4/2026). Dalam sambutannya di hadapan ribuan peserta, Nasaruddin menggambarkan Mathla’ul Anwar sebagai “cahaya dari Menes” yang terus memancarkan pengaruh positif ke berbagai penjuru Indonesia.

“Mathla’ul Anwar itu seperti intan berlian. Dari setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berwarna-warni dan indah,” ujarnya.

Jejak Sejarah Panjang dari Menes

Mathla’ul Anwar merupakan organisasi Islam yang memiliki akar sejarah panjang di Indonesia. Berdiri di Menes, Pandeglang, pada awal abad ke-20, organisasi ini tumbuh sebagai gerakan pendidikan dan dakwah yang berfokus pada pemberdayaan umat melalui ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman moderat. Keberadaannya bahkan lebih awal dibandingkan Nahdlatul Ulama (NU), yang berdiri pada 1926.

Sejak didirikan oleh KH Mas Abdurrahman pada 10 Juli 1916, Mathla’ul Anwar aktif mendirikan lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, serta mengembangkan jaringan dakwah di berbagai daerah. Dari sebuah kawasan kecil di Banten, Mathla’ul Anwar berkembang menjadi organisasi nasional yang memiliki pengaruh signifikan, terutama dalam bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.

“Cahaya itu berasal dari Menes, lalu berkembang dan menyebar ke seluruh Indonesia. Ini kontribusi besar yang tidak boleh dilupakan,” tegas Nasaruddin.

Peran Strategis di Era Modern

Dalam konteks kekinian, Nasaruddin menilai Mathla’ul Anwar memiliki peran strategis dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Ia menekankan pentingnya organisasi keagamaan yang moderat dan inklusif dalam menghadapi tantangan kebangsaan ke depan. Menurutnya, kontribusi Mathla’ul Anwar tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan, tetapi juga mencakup pembangunan sosial dan penguatan nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.

Ia pun mengajak seluruh kader untuk terus memperkuat peran tersebut, terutama dalam merawat persatuan dan kesatuan bangsa.

Ribuan Peserta Hadiri Muktamar

Sementara itu, pelaksanaan Muktamar XXI Mathla’ul Anwar berlangsung meriah namun tetap khidmat. Ribuan peserta dari berbagai daerah memadati kawasan Plaza Aspirasi KP3B sejak siang hari. Mereka tampak mengenakan atribut khas berwarna hijau, yang menjadi identitas organisasi. Tingginya antusiasme membuat area utama tidak mampu menampung seluruh peserta.

Panitia menyediakan layar lebar di sejumlah titik agar seluruh hadirin tetap dapat mengikuti jalannya acara yang berlangsung dari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Sejumlah tokoh nasional dan daerah turut hadir dalam agenda lima tahunan tersebut, di antaranya Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar Embay Mulya Syarif, Gubernur Banten Andra Soni, Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusumah, serta Anggota DPR RI Jazuli Juaeni.

Kehadiran para tokoh tersebut semakin menegaskan posisi Mathla’ul Anwar sebagai salah satu organisasi Islam besar di Indonesia yang terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa, khususnya melalui jalur pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *