"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Bisnis  

IKN Butuh 12 Ton Ikan Bulanan, Nelayan Binaan ITB Siap Pasok

Kehidupan di Tepian Sungai Mahakam: Peran Kampung Loa Kulu dalam Menyokong Ibu Kota Nusantara



Di tepian Sungai Mahakam, suara air yang mengalir tak hanya sekadar bunyi. Suara itu adalah denyut kehidupan, tentang harapan yang sempat tenggelam, lalu bangkit perlahan, hingga kini bersiap menjawab kebutuhan sebuah ibu kota baru. Di balik geliat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sebuah kampung di Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, diam-diam bersiap menjadi tulang punggung pangan bagi ibu kota masa depan.

Ketika ribuan aparatur sipil negara mulai berdatangan ke IKN, kebutuhan pangan juga ikut meningkat. Di sini, Loa Kulu hadir sebagai pusat produksi ikan yang potensial. Di atas keramba jaring apung yang tersusun rapi di aliran Sungai Mahakam, Muhmajadi berdiri. Sudah 24 tahun ia menekuni budidaya ikan. Di hadapannya, ribuan ikan nila berebut pakan, menciptakan riak-riak kecil yang terdengar seperti napas panjang yang akhirnya kembali teratur.

Perjalanan menuju titik ini bukan tanpa luka. Tahun 2005 menjadi masa paling kelam ketika wabah Koi Herpes Virus (KHV) menyapu habis ikan mas yang menjadi tumpuan hidup para pembudidaya. Bangkai ikan mengapung di sepanjang keramba, menyisakan rasa putus asa yang hampir mematikan semangat. Muhmajadi termasuk yang terdampak paling dalam. Usaha yang dirintis sejak 2002 seolah runtuh dalam hitungan minggu. Banyak pembudidaya lain menyerah dan meninggalkan keramba yang sunyi.

Namun, tidak bagi Muhmajadi. Ia memilih bertahan. Bersama kelompoknya, ia mengambil keputusan penting: beralih dari ikan mas ke ikan nila, komoditas yang lebih tangguh menghadapi perubahan lingkungan. Keputusan itu menjadi titik balik. Hari ini, dari 36 petak keramba miliknya, Muhmajadi mampu memanen hingga satu ton ikan nila setiap bulan. Dalam satu kelompok pembudidaya, produksi bahkan bisa menembus lebih dari 10 ton.

Kampung Perikanan Budidaya Loa Kulu kini dihuni 40 kelompok pembudidaya, yang bergerak dari pembibitan hingga pembesaran ikan. Nila menjadi komoditas utama, sekaligus tulang punggung ekonomi lokal. Namun cerita ini tak berhenti pada angka produksi.

Tahun 2025, Muhmajadi bersama delapan pembudidaya lain mendapat kesempatan langka: mengikuti pendidikan intensif di Sekolah Perikanan Rakyat (SPR) Institut Teknologi Bandung selama tujuh bulan. Di sana, mereka tak hanya belajar teknik budidaya, tetapi juga manajemen bisnis, mitigasi penyakit, hingga pendekatan ilmiah dalam perikanan modern. Sekembalinya dari sana, peran Muhmajadi berubah. Ia tak lagi sekadar pembudidaya, tetapi juga mentor bagi kelompok lain. Pendampingan yang ia lakukan bahkan membantu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sungai Payang mencatat panen perdana ikan patin.

Di sisi lain, prinsip yang ia pegang tetap sederhana: merawat alam agar alam tetap memberi. Ia menghindari ketergantungan pada bahan kimia. Untuk mengatasi penyakit ikan, ia meracik obat herbal sendiri, cara yang mungkin tampak tradisional, tetapi terbukti menjaga keseimbangan ekosistem dalam jangka panjang.

Momentum besar datang seiring perpindahan pusat pemerintahan ke IKN. Masuknya ribuan penduduk baru membuka pasar yang sebelumnya tak terbayangkan. Permintaan ikan meningkat. Konsumsi melonjak. Dan Loa Kulu berada tepat di jalur itu. Saat ini, kelompok pembudidaya di Loa Kulu telah mulai memasok ikan nila ke kawasan sekitar Sepaku, wilayah yang bersinggungan langsung dengan pusat IKN. Setidaknya satu ton ikan dikirim setiap bulan.



Namun itu baru permulaan. Proyeksi kebutuhan pasar IKN diperkirakan mencapai sekitar 12 ton ikan per bulan. Angka yang tidak kecil, tetapi juga bukan mustahil untuk dipenuhi. Bagi para pembudidaya di Loa Kulu, ini bukan sekadar peluang ekonomi. Ini adalah panggilan untuk menjadi bagian dari fondasi sebuah ibu kota baru.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, menegaskan peran strategis kawasan ini. Menurutnya, Loa Kulu bukan hanya sentra produksi, tetapi juga benteng ketahanan pangan berbasis protein hewani. Data menunjukkan, Kabupaten Kutai Kartanegara menyumbang 79 persen produksi perikanan budidaya di Kalimantan Timur, dengan total mencapai 126.139 ton per tahun. Dari jumlah itu, Kecamatan Loa Kulu berkontribusi lebih dari 10.000 ton setiap tahunnya.

Lebih dari sekadar angka, sektor ini menjadi sandaran hidup bagi sedikitnya 1.057 rumah tangga di wilayah tersebut. Namun jalan ke depan tetap penuh tantangan. Harga pakan yang terus naik menggerus keuntungan. Perubahan iklim memengaruhi kualitas air. Risiko kematian ikan akibat kondisi ekstrem masih menjadi ancaman nyata.

Untuk itu, pemerintah daerah mulai mendorong adopsi teknologi tepat guna, memperkuat kemitraan, serta mempercepat sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) agar produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Di penghujung hari, suara kecipak air di keramba-keramba Loa Kulu bukan lagi sekadar aktivitas rutin. Ia adalah simbol dari sebuah perubahan, tentang bagaimana masyarakat lokal merespons zaman, memadukan kearifan dengan pengetahuan, dan menjadikan keterbatasan sebagai pijakan untuk melompat lebih jauh. Bagi Muhmajadi dan ribuan pembudidaya lainnya, merawat ikan di aliran Sungai Mahakam bukan sekadar profesi. Ia adalah ikhtiar panjang, untuk memastikan bahwa di balik megahnya bangunan Ibu Kota Nusantara, ada kehidupan yang terus bergerak, menjaga satu hal paling mendasar: pangan yang tak boleh pernah berhenti mengalir.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *