"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Antrean panjang meski isu, pembeli kue gambang Johar: Unik dan cocok jadi oleh-oleh

Antrean di Toko Kue Gambang Semarang Terus Meningkat

Toko Kue Gambang yang berada di Pasar Johar, Semarang, kini menjadi pusat perhatian masyarakat setempat. Meski sempat terjadi polemik, antrean di toko tersebut justru semakin ramai dalam beberapa hari terakhir. Banyak pembeli mengaku penasaran setelah mendengar isu-isu yang beredar di media sosial. Isu-isu tersebut mencakup berbagai topik, mulai dari kepemilikan anak Walikota Semarang hingga penjebolan tembok di Johar yang merupakan bangunan cagar budaya. Hal ini juga memengaruhi rating Google.

Banyak orang ingin mencoba kue gambang atau ganjel rel. Kue ini adalah adaptasi lokal dari roti khas Belanda, yaitu ontbijtkoek. Pada masa kolonial, kue ini dibawa oleh orang-orang Belanda dan kemudian diolah ulang oleh masyarakat Semarang dengan bahan dan selera lokal. Jika ontbijtkoek cenderung lembut dan manis dengan aroma rempah, ganjel rel dibuat lebih padat, tidak terlalu manis, dan menggunakan gula merah.

Kue ganjel rel yang memiliki ciri “seret” pada teksturnya usai ditelan kini mengalami moderenisasi di toko kue gambang. Dibuat dengan tekstur yang lebih empuk dengan beragam varian rasa dan selai, membuat kue itu bisa menjangkau banyak segmen. Hal ini akhirnya mendatangkan para warga untuk langsung mencicipi roti khas tempo dulu yang kini dikemas lebih modern.

Ayu (58), warga Semarang, menyebut roti gambang atau ganjel rel memiliki nilai nostalgia yang jarang ditemui saat ini. “Ini sebenarnya kue tempo dulu, sekarang sudah jarang dijual. Saya sudah pernah coba sejak lama, tapi yang di sini lebih lembut dan ada topping-nya, jadi tidak bosan,” ujarnya.

Ia menilai inovasi rasa membuat roti gambang lebih mudah diterima berbagai kalangan, termasuk anak muda. “Kalau yang asli kan benar-benar original, tidak ada topping. Kalau ini lebih variatif, jadi anak-anak juga bisa suka,” katanya. Ayu juga menilai harga yang ditawarkan masih terjangkau dan layak untuk dibeli, bahkan sebagai oleh-oleh khas Semarang. “Masih terjangkau. Menurut saya ini bisa jadi oleh-oleh juga, karena khas dan tidak banyak dijual,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Naila (19), mahasiswa asal Klaten, Jawa Tengah, yang datang bersama temannya saat libur kuliah. Ia mengaku mengetahui toko tersebut dari media sosial, khususnya TikTok. “Tahu dari TikTok, dan media sosial saya jadi penasaran,” ujarnya. Naila yang baru pertama kali mencoba roti gambang menilai rasanya cukup sesuai dengan selera anak muda. “Rasanya soft, enak. Ini first time saya coba roti gambang dan menurut saya worth it,” katanya.

Sementara itu, Azahra (19) yang datang bersama Naila, menilai tempat tersebut memiliki daya tarik tersendiri dari sisi konsep dan suasana. Ia mengaku awalnya tidak menyangka kawasan pasar Johar bisa menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. “Awalnya saya kira pasar Johar itu ya pasar biasa, tapi ternyata menarik. Tempatnya bisa jadi spot nongkrong juga,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai Semarang masih perlu menambah ruang-ruang kreatif dengan konsep yang kuat agar lebih menarik bagi anak muda. “Kalau dibandingkan Bandung, memang masih lebih banyak di sana. Tapi di sini sudah mulai ada yang menarik,” tambahnya.




Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *