"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Sports  

Terjemahan Lirik Lagu “Dancing in the Breeze Alone” – Reality Club: Matahari Sudah Pergi

Sejarah dan Lirik Lagu Dancing In The Breeze Alone dari Reality Club

Reality Club adalah sebuah band indie asal Jakarta yang telah mengukir nama di dunia musik Indonesia. Didirikan pada tahun 2016, band ini terkenal dengan karya-karyanya yang menyentuh hati dan mampu menjangkau pasar internasional. Anggota band ini terdiri dari Fathia Izzati (vokal, keyboard), Faiz Novascotia Saripudin (vokal, gitar), Nugi Wicaksono (bass), dan Era Patigo (drum). Mereka mengusung genre musik seperti indie rock, indie pop, dan alternatif yang dipengaruhi oleh musik barat.

Lagu “Dancing In The Breeze Alone” merupakan salah satu karya yang menarik perhatian penggemar musik. Lagu ini masuk dalam album Reality Club Presents… yang dirilis pada tahun 2023. Lirik lagu ini menggambarkan perasaan kesepian dan refleksi diri setelah kehilangan seseorang atau hubungan yang berarti. Melalui liriknya, Reality Club menyampaikan pesan tentang ketidakmampuan untuk menghadapi keadaan yang sulit dan kesedihan yang tak bisa dihindari.

Berikut adalah terjemahan lirik lagu “Dancing In The Breeze Alone”:

  • The sun is all gone, in this arrangement

    Matahari sudah menghilang, dalam pengaturan ini

  • So the darkness intercepts, time’s a wasting so let’s get out of this hole

    Jadi kegelapan datang, waktu terus berjalan jadi mari kita keluar dari lubang ini

  • The fighting is done, yet noone has won

    Pertarungan telah berakhir, namun tak ada yang menang

  • The wicked aftermath

    Akibat jahatnya,

  • Leaves us primitive and crass

    Membuat kita jadi primitif dan kasar

  • As the wound begins to heal, the scar is only settling in

    Saat luka mulai sembuh, bekasnya baru mulai menetap

  • The disturbance of the peace, you’re weak in the knees no more

    Gangguan pada kedamaian, kamu tak lagi lemah di lutut.

  • With an empty harmony, we’re dancing in the breeze alone

    Dengan harmoni yang hampa, kita menari dalam angin sendirian

  • My core is distraught

    Inti diriku terguncang

  • I’m shaken, it’s not the way I’m willing to behave

    Aku goyah, ini bukan cara yang ingin aku tunjukkan

  • Think I dug myself a grave

    Sepertinya aku sudah menggali kuburku sendiri

  • We can’t understand, the forces at hand

    Kita tak bisa mengerti, kekuatan yang ada

  • Comprehending the divine

    Memahami yang ilahi

  • Giving darkness of such kind

    Memberikan kegelapan seperti ini

  • Well only the weak, could ever abide and play that game

    Hanya yang lemah, yang bisa bertahan dan memainkan permainan itu

  • Only the weak, would ever have no one else to blame

    Hanya yang lemah, yang tak punya orang lain untuk disalahkan

  • Only the weak? Oh how unfortunate that’s me, oh how unfortunate that’s me

    Hanya yang lemah? Oh betapa malangnya itu aku, oh betapa malangnya itu aku

  • As the wound begins to heal, the scar is only settling in

    Saat luka mulai sembuh, bekasnya baru mulai menetap

  • The disturbance of the peace, you’re weak in the knees no more

    Gangguan pada kedamaian, kamu tak lagi lemah di lutut.

  • With an empty harmony, I’m dancing in the breeze alone

    Dengan harmoni yang hampa, aku menari dalam angin sendirian

  • With an empty harmony, I’m dancing in the breeze alone

    Dengan harmoni yang hampa, aku menari dalam angin sendirian

  • With an empty harmony, I’m dancing in the breeze alone

    Dengan harmoni yang hampa, aku menari dalam angin sendirian




Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *