"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Bisnis  

Pembelaan Hendrik: Belum Balik Modal dari Rp3,5 Miliar dan Pendapatan 6 Juta Per Hari

Viralnya Hendrik Irawan dan Kontroversi di Balik Dapur MBG

Sebuah video yang menampilkan Hendrik Irawan, seorang pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Cimahi, mendadak menjadi perbincangan publik. Video tersebut memperlihatkan ia berjoget sambil merekam aktivitas di dapurnya. Tidak hanya gaya jogetnya yang menarik perhatian, tetapi juga pernyataannya mengenai pendapatan harian yang mencapai Rp6 juta. Hal ini memicu reaksi keras dari warganet dan memicu pro-kontra.

Kritik Pedas dari Lita Gading

Kontroversi semakin membesar setelah Lita Gading, psikolog sekaligus mantan artis, memberikan komentarnya. Ia menilai bahwa Hendrik seharusnya siap menerima kritik dari netizen karena kontennya sendiri yang memicu perdebatan. Ia menyampaikan dengan nada tegas bahwa kritiknya bukan ditujukan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), melainkan pada individu yang dinilai merusak citra program tersebut.

“Kamu yang joget-joget, netizen yang disalahin. Ngapain kamu upload kalau enggak mau dihujat netizen?” ujar Lita Gading. Ia juga menegaskan bahwa orang-orang seperti Hendrik harusnya diberantas karena bisa merusak kepercayaan publik terhadap program pemerintah.

Respons Santai dan Tak Terduga

Alih-alih merespons dengan emosi, Hendrik justru merespons dengan cara yang tidak terduga. Ia memilih bersikap santai dan bahkan mengaku mengidolakan sosok yang mengkritiknya. “Alhamdulillah sayah termasuk pens teteh lita gading beliau sosok wanita tangguh kuat dan membela hak rakyat insa aloh amanah klo teteh lita gading,” ujarnya.

Respons ini membuat situasi sedikit mereda, meski perdebatan di publik belum sepenuhnya usai.

Siap Diaudit dan Klaim Modal Sendiri

Hendrik juga menyatakan kesiapannya untuk diaudit oleh pihak berwenang, termasuk Badan Gizi Nasional. Ia menegaskan bahwa dapur MBG yang ia kelola dibangun dengan modal pribadi. “Semuah sppg ya audit ya karena semuah sppg menerima Kaka heheh itu uang instip pegen akun gedung yang kami bikin dengan modal sendri dan yg sayah bikin 3.5 m Kaka dan blom balik modal sayah siap diaudit dan mempertangung jawabkan apa yg selam ini,” katanya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi upayanya untuk menjawab keraguan publik terkait transparansi dan pengelolaan dana.

Antara Konten, Kritik, dan Kepercayaan Publik

Kasus ini memperlihatkan bagaimana program besar seperti MBG tidak hanya diuji dari sisi kebijakan, tetapi juga dari perilaku para pelaksana di lapangan. Di era media sosial, satu konten sederhana bisa berdampak luas membangun kepercayaan, atau justru memicu kecurigaan.

Di satu sisi, transparansi dan keterbukaan memang penting. Namun di sisi lain, cara penyampaian juga menjadi kunci. Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya nama individu, tetapi juga kepercayaan publik terhadap program negara.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *