"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Bisnis  

Profil Agung Widiyatmoko, Bos Kuliner Sukoharjo, Beri THR Uang dan Motor, Ini Alasannya

Sosok Agung Widiyatmoko, Bos Kuliner yang Beri THR Sepeda Motor ke 29 Karyawan

Agung Widiyatmoko, seorang pengusaha kuliner asal Sukoharjo, Jawa Tengah, menarik perhatian publik karena memberikan THR dalam bentuk sepeda motor kepada 29 karyawannya. Selain itu, ia juga memberikan uang tunai senilai upah minimum regional (UMR) sebagai bentuk apresiasi.

Apresiasi yang Tak Terduga

Agung, yang merupakan pemilik Rumah Makan Pawon Ayu, mengungkapkan alasan pemberian hadiah tersebut. Ia menjelaskan bahwa sepeda motor diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap karyawan yang telah bekerja setia selama ini. Meskipun THR biasanya berupa uang, tahun ini ia memilih untuk memberikan sesuatu yang lebih istimewa.

Untuk membeli 29 sepeda motor Honda Beat, Agung merogoh kocek hingga Rp 580 juta. Pemberian kendaraan ini dilakukan dengan cara yang sangat mengejutkan. Sebelumnya, ia mengajak karyawan makan malam bersama setelah shalat tarawih. Dalam acara tersebut, ia secara tiba-tiba mengumumkan pemberian sepeda motor sebagai kejutan.

Pengalaman Karyawan yang Terkejut

Salah satu karyawan, Pujihartini (45), tidak menyangka akan menerima THR berupa sepeda motor. Ia mengatakan, tiga hari sebelumnya ia sudah mendapat THR uang tunai sebesar Rp 2,5 juta. Namun, pada hari Senin, ia kembali terkejut saat menerima sepeda motor.

“Alhamdulillah senang, campur aduk. Ya nggak percaya,” kata Pujihartini. Ia bekerja di rumah makan Pawon Ayu selama sekitar lima tahun. Sedangkan rumah makan tersebut berdiri sekitar enam tahun lalu, tepatnya saat pandemi Covid-19.

Harapan Agung untuk Karyawan

Agung berharap dengan pemberian sepeda motor ini, karyawan memiliki semangat baru dan tetap solid. “Mudah-mudahan semangat mereka itu tetap langgeng seperti semangat waktu menerima,” ujarnya.

Tips Mengatur THR dengan Bijak

THR sering kali menjadi momen yang dinantikan, namun tanpa pengelolaan yang tepat, uang tersebut bisa habis dalam waktu singkat. Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie menyarankan agar pengelolaan THR dimulai sejak dana diterima, bukan saat mendekati Lebaran.

Menurutnya, strategi pertama adalah menggunakan dana untuk kewajiban seperti zakat fitrah dan THR kepada pekerja rumah tangga. Setelah itu, sisa dana dibagi ke dalam dua pos utama: kebutuhan H-7 dan Hari H hingga H+7.

Prita menilai kesalahan mendasar terletak pada cara pandang terhadap THR. Banyak orang menganggapnya sebagai “uang kaget” yang bebas dihabiskan, bukan sebagai bagian dari pendapatan tahunan. Untuk menjaga keseimbangan, ia merekomendasikan pembagian anggaran dengan rumus 10-70-20:

  • 10 persen: keinginan (misalnya baju baru atau hiburan)
  • 70 persen: kebutuhan Lebaran (zakat, sedekah, mudik, makanan, THR, salam tempel)
  • 20 persen: tabungan, investasi, atau melunasi utang

Dengan pola ini, THR tidak hanya memenuhi kebutuhan hari raya, tetapi juga membantu menjaga kondisi finansial tetap sehat setelahnya.


Gusun Fawaida

Gusun Fawaida merupakan seorang Penulis yang fokus pada isu lingkungan kerja, produktivitas, dan human interest. Ia senang mengamati perilaku manusia, membaca buku self-improvement, dan minum kopi sambil menulis ide. Motto: “Tulislah untuk memberi dampak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *