Pendekatan Humanis dan Dialog Panjang Berhasil Menata Pedagang di Jalan Vihara Pasar Wage Purwokerto
Pendekatan humanis dan dialog panjang menjadi kunci keberhasilan penataan pedagang di Jalan Vihara, Pasar Wage, Purwokerto. Setelah melalui proses bertahun-tahun, ratusan pedagang akhirnya bersedia direlokasi demi mengembalikan fungsi jalan dan menata ulang wajah pasar tradisional tersebut.
Kepala DKUKMP Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi menjelaskan bahwa pihaknya akan menyisir seluruh area pedagang untuk memastikan proses penataan berjalan tuntas. Ia menyebutkan total ada 244 pedagang yang terlibat, sementara jika ditambah dengan pedagang di lorong Pasar Wage mencapai 735 orang. “Yang di lorong juga kami tata,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penataan ini bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang selama bertahun-tahun. Menurutnya, langkah ini menjadi titik balik dari perjuangan panjang tersebut. “Trigger-nya justru dari masyarakat yang melakukan aduan lewat kanal lapak aduan, bahwa fungsi jalan harus dikembalikan. Itu menjadi pemicu kami,” jelasnya.
Selain itu, dorongan juga datang dari pedagang yang berada di dalam pasar. Pemerintah kemudian membuka ruang diskusi yang panjang untuk mencari solusi terbaik. “Disamping itu ada dorongan dari pedagang yang di dalam. Kami ngobrol, diskusi,” katanya.
Proses penataan tidak hanya dilakukan dalam beberapa bulan terakhir, tetapi sejak tahun-tahun sebelumnya sudah dilakukan pembahasan bagaimana cara menata. Ia mengakui, setiap upaya penataan yang dilakukan sebelumnya kerap memicu penolakan, terutama dari pedagang yang berada di luar area pasar.
“Setiap kali saya mau menata yang di dalam, pasti protes. Ketemu di ujung sini, Pak Toha dan teman-teman, menyampaikan keluhan kenapa yang di dalam ditata,” ungkapnya.
Dari situ, pihaknya mulai mengubah pendekatan dengan merangkul pedagang di luar area pasar. “Akhirnya saya berpikir, yang di luar itu memang bukan persil pasar, tapi harus kami rangkul. Kami mulai ngobrol, diskusi, bahkan di forum-forum tidak resmi.”
Pendekatan ini dilakukan secara bertahap dengan membangun kesadaran bersama di kalangan pedagang. “Kami mencoba mengerucutkan, harus ada penyadaran. Kami datangi satu per satu.” Dinamikanya banyak, karena mereka sudah nyaman di situ. Status quo itu sulit diubah, apalagi akses pembeli sangat mudah di lokasi tersebut.
Meski sempat terjadi penolakan, pendekatan humanis terus dilakukan melalui komunikasi intensif. “Kami sadarkan bahwa harus ‘brayan bareng’ lagi. Kami komunikasikan bahwa ini untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu mengembalikan pasar ke marwahnya.” Dari situ pelan-pelan tumbuh kesadaran pedagang.
Terkait proses relokasi, Gatot menargetkan pemindahan pedagang dari Jalan Vihara selesai dalam waktu singkat. “Malam ini mereka kami pindahkan dan besok pagi kami harapkan sudah clear semuanya.” Ia juga menyebutkan bahwa tim akan membersihkan dan membongkar lapak. Ada yang bongkar sendiri secara sukarela, ada juga yang dibantu tim.
Dia memastikan apabila masih ada pedagang yang berjualan keesokan harinya, pendekatan persuasif tetap dikedepankan. “Kalau besok masih ada yang jual, kami lakukan pendekatan humanis lagi. Kami ingatkan.” Insya Allah yang menolak sudah tidak ada, ujarnya.
Seluruh pedagang, lanjutnya, telah mendapatkan tempat baru di dalam pasar, meski masih ada beberapa lokasi yang perlu penataan lanjutan. “Semua sudah dapat tempat, tinggal ditata. Ada yang lokasinya belum dibersihkan, besok dibersihkan.”
Untuk ukuran lapak, menurutnya bersifat variatif, menyesuaikan kondisi dan ketersediaan ruang. “Ukuran variatif, karena kami sesuaikan dengan kondisi di lapangan. Ada yang sudah menempati, ada juga yang masih menunggu penataan di blok sebelah.”

Dia juga menegaskan penataan ini baru langkah awal dari rencana besar revitalisasi pasar. “Ini baru awal dari penataan. Kami belum selesai. Ke depan kami upayakan revitalisasi di tahun depan.” Jika itu bisa terealisasi, maka penataan akan lebih maksimal.
22 Maret 2026 disebut sebagai hasil kesepakatan bersama antara para pihak terkait. “Itu kesepakatan antara P3W dengan P4WP. Kami jadikan titik ini sebagai awal untuk melakukan penataan.” Salah satu langkah konkret yang diambil adalah memindahkan pedagang dari Jalan Vihara ke dalam area pasar.
Ke depan, pihaknya juga berencana melebur paguyuban pedagang agar tidak ada lagi sekat antar kelompok. “Ke depan saya ingin tidak ada lagi P3W atau P4WP. Kami lebur jadi satu, supaya tidak ada ego kelompok.” Nanti keanggotaannya mewakili semua.











