"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Museum Islam Nusantara Tebuireng Jadi Tujuan Ngabuburit Edukatif

Pengalaman Edukatif Warga Jombang di MINHA Tebuireng

Di tengah suasana Ramadan yang khas, warga Jombang tidak hanya mengisi waktu dengan berburu takjil atau berjalan-jalan di pusat keramaian. Banyak dari mereka memilih untuk menghabiskan sore hari dengan cara yang lebih bermakna, yaitu mengunjungi Museum Islam Nusantara KH Hasyim Asy’ari (MINHA) di kawasan Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek.

Salah satu pengunjung setia, Teguh Setiawan (41), mengatakan bahwa kunjungan ke museum ini menjadi pilihan ideal untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Ia datang ke MINHA pada Senin (2/3/2026) dan merasa terkesan dengan perubahan besar yang terjadi setelah revitalisasi.

Tampilan Baru yang Menarik

Menurut Teguh, tampilan MINHA kini jauh lebih menarik dibanding sebelumnya. Revitalisasi yang rampung dan dibuka kembali pada 13 Januari 2026 membuat suasana museum tampak lebih modern dan nyaman bagi pengunjung.

“Sekarang tampilannya jauh lebih menarik. Penataan koleksinya rapi dan pencahayaannya bagus, jadi lebih hidup,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Kamis (5/3/2026). Perubahan paling mencolok terlihat pada tata ruang dan penyajian koleksi. Di beberapa area, artefak sejarah ditampilkan dengan pencahayaan dramatis serta dilengkapi penjelasan visual yang informatif.

Hal ini membuat pengunjung dapat lebih mudah memahami perjalanan panjang penyebaran Islam di wilayah Nusantara. Berbagai koleksi penting dipamerkan di museum ini, mulai dari kitab-kitab kuno, naskah literasi Islam, hingga artefak budaya yang menunjukkan perpaduan antara tradisi lokal dan dakwah Islam.

Di ruang pamer utama, pengunjung juga dapat melihat wayang kulit serta figur para ulama yang memiliki peran besar dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Selain itu, terdapat pula replika prasasti dan nisan kuno dari sejumlah daerah yang menjadi bukti jejak penyebaran Islam di berbagai wilayah Nusantara.

Tempat Edukasi yang Ramah Generasi Muda

Teguh menilai keberadaan museum tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat umum untuk mengenal sejarah dengan cara yang lebih ringan dan menarik. Apalagi setelah direnovasi, suasana museum dinilai lebih ramah bagi generasi muda.

“Tempatnya sekarang lebih estetik dan interaktif. Jadi tidak terasa seperti belajar sejarah yang berat. Justru terasa seperti perjalanan melihat masa lalu,” ujarnya. Akses masuk yang terbuka bagi masyarakat juga menjadi alasan museum ini ramai dikunjungi, terutama pada bulan Ramadan ketika banyak warga mencari tempat alternatif untuk ngabuburit.

Menjelang waktu berbuka, Teguh pun meninggalkan museum dengan pengalaman berbeda. Bagi Teguh, menunggu adzan maghrib di tempat tersebut bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga menambah wawasan tentang sejarah dan peran ulama dalam perjalanan bangsa.

Sejarah dan Revitalisasi MINHA

Setelah menjalani proses revitalisasi, Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA) di kompleks Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, kembali dibuka untuk masyarakat. Museum yang berada di area Makam Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini dibuka kembali dengan konsep baru yang lebih tertata dan ramah pengunjung.

Pengelola museum memulai pembukaan tersebut melalui tahap uji coba layanan kunjungan yang berlangsung mulai hari ini Selasa (13/1/2025) hingga Sabtu (31/1/2026). Pada masa ini, seluruh pengunjung dapat menikmati fasilitas museum tanpa dikenakan biaya masuk sebagai bagian dari evaluasi kesiapan layanan sebelum operasional penuh.

Revitalisasi MINHA merupakan bagian dari program pengembangan museum yang dikelola oleh Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat peran museum sebagai ruang pelestarian sejarah sekaligus sarana edukasi publik mengenai perjalanan Islam di Nusantara.

Dengan wajah barunya, MINHA Tebuireng menghadirkan penataan ruang pamer yang lebih rapi, alur kunjungan yang jelas, serta penyampaian informasi koleksi yang disusun secara kronologis dan mudah dipahami. Narasi sejarah kini dirancang lebih komunikatif agar dapat menjangkau berbagai kalangan, termasuk pelajar dan generasi muda.

Harapan Masa Depan

Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Esti Nurjadin, menyampaikan bahwa pembaruan yang dilakukan tidak hanya bersifat visual, tetapi juga menyentuh aspek substansi pameran. Menurutnya, museum kini menawarkan pengalaman yang lebih mendalam dalam memahami bukti-bukti peradaban Islam di Indonesia, sejak awal penyebarannya hingga masa kemerdekaan.

“Melalui penataan ulang ini, pengunjung diharapkan dapat menangkap gambaran sejarah Islam di Indonesia secara lebih menyeluruh dan berkesinambungan,” ucap Indira dalam rilis resmi yang diterima Tribunjatim.com pada Selasa (13/1/2026).

Ia menjelaskan, revitalisasi mencakup pembenahan Lantai I dan Lantai II dengan penambahan zona tematik, ruang pamer baru, serta penguatan narasi sejarah yang disajikan secara komprehensif dan kontekstual. Lebih lanjut, Indira berharap kehadiran MINHA dengan konsep baru dapat memperluas fungsi museum, tidak hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga sebagai ruang belajar, dialog kebudayaan, dan pusat edukasi sejarah Islam yang mampu memperkuat nilai-nilai kebangsaan secara inklusif dan berkelanjutan.

“Harapannya dengan konsep baru ini bisa menjadi edukasi bagi para pengunjung terkait bagaimana nilai-nilai kebangsaan itu diperkuat dalam setiap derap langkah kita semua,” ungkapnya.


Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *