"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Masjid Raya Petumbukan: Tradisi Bubur Lambok dan Sejarah Ramadan yang Mendalam

Sejarah dan Arsitektur Megah Masjid Raya Petumbukan

Masjid Raya Petumbukan yang terletak di Desa Petumbukan, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, merupakan salah satu ikon religi dan budaya yang masih hidup dan berkembang sejak pertama kali didirikan pada tahun 1937. Selain menjadi pusat ibadah, masjid ini juga dikenal karena tradisi unik dan turun-temurun yang masih dijalankan setiap bulan Ramadan, yaitu pembagian bubur lambok yang menjadi favorit warga sekitar.

Bangunan Masjid Raya Petumbukan kini tampak semakin megah dan modern dibandingkan saat pertama kali berdiri. Menurut Syaiful Bahri Lubis, tokoh masyarakat setempat, masjid ini dibangun sejak 1937 dan hingga kini tetap berdiri dengan keindahan yang menarik perhatian.

Desain arsitektur masjid ini terinspirasi dari Masjid Kuba di Mekah. Tiang-tiang pilar kuat yang menopang teras dan kubah utama yang dikelilingi kubah-kubah kecil berwarna putih dan biru langit mencerminkan kesan megah dan elegan. Dinding dalam sudah dilapisi keramik, sementara jendela-jendela kayu berkaca menambah kesan estetika pada bangunan.

Masjid ini mampu menampung ratusan jemaah di dalam ruang utama, sementara halaman yang luas bisa menampung jemaah dalam jumlah lebih banyak pada momen-momen tertentu. Bentuk masjid mengikuti desain Masjid Kuba di Mekah sebagai inspirasinya. Tiang-tiang pilar mengikuti bentuk penyokong teras, sedangkan warna dinding sengaja dipilih untuk menyerupai batu alam.

Di bagian belakang masjid terdapat tiga makam keluarga pewakaf lahan yang dulunya merupakan milik Permaisuri Tengku Darwis Syah. Makam ini menjadi bagian penting dari sejarah masjid yang telah berdiri selama bertahun-tahun.

Tradisi Bubur Lambok Sajian Khas Ramadhan

Salah satu tradisi yang sangat melekat dengan Masjid Raya Petumbukan adalah pembagian bubur lambok selama bulan Ramadhan. Dua jam sebelum waktu berbuka, warga mulai berkumpul di halaman masjid menunggu sajian bubur khas Melayu ini.

Bubur lambok ini hampir sama dengan bubur pedas yang juga khas Melayu. Setiap hari selama Ramadhan, bubur ini selalu dibagikan dan rasanya enak sekali. Dana untuk pembuatan bubur ini diatur oleh Badan Kemakmuran Masjid (BKM) yang bekerja sama dengan para dermawan.

Setiap harinya, sekitar 500 porsi bubur lambok disiapkan oleh panitia dan berasal dari donasi dermawan wilayah tersebut. Bubur tidak dimasak di area masjid, melainkan di rumah pembuatnya, dan baru dibawa ke masjid sekitar pukul 16.30 untuk dibagikan kepada warga yang hadir.

Warga biasanya sudah menyiapkan tempat agar bubur lambok bisa dibawa pulang ke rumah masing-masing. Dari pengakuan Syafiul, tradisi ini sudah ada sejak lama. “Dulu bubur lambok ini nenek saya yang buat, dan sekarang nenek saya sudah 100 tahun usianya. Jadi memang sudah puluhan tahun karena waktu saya kecil saja pun ini sudah ada kami dapatkan,” katanya.

Tradisi ini menunjukkan kekayaan budaya yang terjaga dengan baik di Masjid Raya Petumbukan.

Perjalanan Renovasi dan Perubahan Nama Masjid

Sejak pertama kali berdiri, Masjid Raya Petumbukan telah mengalami tiga kali renovasi. Awalnya, bangunan masjid terbuat dari kayu-kayu sederhana, lalu diperbaiki dan dibangun ulang berkat dukungan dermawan yang sukses di perantauan.

Selain fisik, nama masjid ini juga sempat berganti-ganti. Awalnya bernama Masjid Besar Raya Petumbukan, kemudian berubah menjadi Masjid Jamik, lalu Masjid Ruhama Petumbukan. Namun sejak 26 Februari 2010, nama Masjid Raya Petumbukan kembali dipakai hingga sekarang.

Aktivitas Ramadan dan Kehidupan Keagamaan di Masjid

Selain tradisi pembagian bubur lambok, selama Ramadan Masjid Raya Petumbukan juga menjadi pusat kegiatan keagamaan seperti tadarusan dan iktikaf. Banyak jemaah yang rutin beriktikaf setiap harinya, menambah kekhusyukan ibadah di bulan suci ini.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *