Tantangan dan Pertumbuhan Industri Pembiayaan di Tahun 2025
Tahun 2025 menjadi tahun yang menantang bagi industri pembiayaan, mengingat dinamika pasar yang dipengaruhi oleh perubahan perilaku daya beli dan konsumsi masyarakat. Di sisi lain, meningkatnya sensitivitas terhadap risiko di berbagai segmen juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. Kondisi ini mencerminkan situasi ekonomi makro dalam negeri serta keputusan finansial masyarakat.
PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance), sebagai salah satu perusahaan yang berkaitan erat dengan perekonomian masyarakat, merespons tantangan tersebut dengan menerapkan langkah-langkah pengelolaan bisnis yang fokus pada penguatan kualitas portofolio dan ketahanan operasional. Selain itu, strategi pada setiap lini produk juga disesuaikan untuk menjawab dinamika pasar.
Dari upaya tersebut, BFI Finance berhasil menjaga pertumbuhan total aset pada 2025 sebesar 1,4 persen dibandingkan nilai pada 2024, yaitu menjadi Rp 25,5 triliun. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan piutang dikelola sebesar 8,9 persen year-on-year (yoy) dengan capaian Rp 26,3 triliun. Perusahaan juga membukukan pembiayaan baru sebesar Rp 21,9 triliun atau naik 9,3 persen dibandingkan periode sepanjang 2024 lalu.
Presiden Direktur BFI Finance Sutadi menyatakan bahwa kemampuan perusahaan dalam mempertahankan pertumbuhan adalah hasil dari permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang manageable. Ini semua berkat kerja keras seluruh tim, semangat kolaborasi yang strategis, serta kepercayaan dari konsumen, investor, dan pemangku kepentingan.
Komposisi Piutang dan Pendapatan
Melalui ragam layanan pembiayaan, BFI Finance terus mendukung aktivitas ekonomi pada berbagai segmen konsumen, mulai dari kebutuhan individu hingga kebutuhan skala bisnis besar. Hingga Desember 2025, komposisi piutang dikelola didominasi pembiayaan produktif, yakni modal kerja sebesar 57,3 persen dan investasi sebesar 17,6 persen. Sementara itu, piutang pembiayaan yang disalurkan untuk tujuan multiguna tercatat memiliki porsi 22,0 persen dan pembiayaan berbasis syariah sebesar 3,1 persen.
Dalam hal pendapatan, BFI Finance mencatatkan total pendapatan senilai Rp 6,7 triliun sepanjang 2025, atau meningkat 6,5 persen dibandingkan 2024. Profitabilitas perusahaan juga stabil dengan angka 1,0 persen yoy, menjadi Rp 1,581 triliun.
Pengelolaan Risiko yang Baik
Meskipun menghadapi tantangan, BFI Finance tetap mampu mengelola risiko dengan baik. Non-Performing Financing (NPF) per 31 Desember 2025 berada di level bruto 1,39 persen dan neto 0,22 persen. Posisi ini lebih rendah dibandingkan NPF rata-rata industri yang berada di level bruto 2,51 persen dan neto 0,77 persen (data Otoritas Jasa Keuangan/OJK per Desember 2025).
Sutadi menambahkan bahwa melalui pengelolaan manajemen risiko yang cermat, BFI Finance mampu mempertahankan stabilitas kinerja sekaligus menjaga posisi keuangan yang solid sebagai fondasi pertumbuhan pada masa depan.
Rasio Keuangan dan Dividen
Pada rasio keuangan penting lainnya, Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) masing-masing tercatat sebesar 7,9 persen dan 14,8 persen. Sementara itu, gearing ratio terpantau sebesar 1,3 kali.
Upaya mempertahankan kinerja tersebut tidak mengurangi komitmen perusahaan untuk memberikan nilai tambah berkelanjutan kepada para pemegang saham. Pada 2025, perusahaan telah menyelesaikan pembagian dividen dengan total Rp 902 miliar untuk tahun buku 2024, serta membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2025 pada 18 Desember sebesar Rp 35,00 per lembar saham atau setara Rp 520 miliar.
Kinerja Industri Pembiayaan
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agusman menyatakan bahwa penyaluran pembiayaan baru industri multifinance tercatat mencapai Rp 78,16 triliun pada Januari 2026. Penyaluran tersebut didominasi pembiayaan multiguna dengan porsi 47,47 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman. – (Astra )
Ia menyampaikan bahwa segmen pembiayaan modal kerja diperkirakan masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan industri multifinance pada 2026, seiring peningkatan kebutuhan masyarakat dalam pengadaan barang dan jasa serta ekspansi usaha.
Proyeksi Pertumbuhan dan Sektor Otomotif
Agusman menuturkan bahwa pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance di Provinsi Papua Selatan mencatat capaian tertinggi secara nasional pada Januari 2026, yakni sebesar 116,09 persen yoy. Peningkatan ini antara lain didorong oleh peningkatan pembiayaan alat berat yang mencapai Rp 484,69 miliar.
Selain itu, perbaikan pasar otomotif pada awal tahun ini menjadi sinyal prospek pertumbuhan yang positif bagi pembiayaan multifinance di sektor kendaraan. Sepanjang 2022 hingga 2025, piutang pembiayaan kendaraan roda empat tumbuh rata-rata 6,80 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan pembiayaan untuk kendaraan roda empat bekas mencatat rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni sebesar 12,75 persen yoy.
Per Januari 2026, total penyaluran pembiayaan roda empat tercatat sebesar Rp 229,43 triliun. Sementara itu, pembiayaan kendaraan listrik pada Januari 2026 tumbuh 39,13 persen yoy menjadi Rp 21,05 triliun, didorong peningkatan penjualan kendaraan listrik dan diperkirakan akan tetap tumbuh positif pada 2026 sejalan dengan tren elektrifikasi kendaraan.
Agusman menuturkan proyeksi pertumbuhan piutang industri sebesar 6–8 persen pada 2026 dinilai realistis. Untuk mencapainya, perusahaan perlu mengoptimalkan potensi sektor dan wilayah yang prospektif dengan tetap menjaga kualitas aset dan manajemen risiko.











