"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Penenun Sehati Noinbila: Ubah Stigma, Lawan KDRT, Lahirkan Sarjana

Peran Kelompok Tenun Sehati dalam Pemberdayaan Perempuan dan Pelestarian Budaya

Kelompok Tenun Sehati di Desa Noinbila, Kecamatan Mollo Selatan, telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat sejak berdirinya pada tahun 2018. Kelompok ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan seni tenun, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan perempuan yang memberikan dampak sosial positif. Dari proses menenun, terjadi perubahan signifikan, termasuk pengurangan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan peningkatan dukungan antar anggota keluarga.

Awal Berdirinya Kelompok Tenun Sehati

Kelompok ini awalnya lahir dari kesepakatan keluarga besar yang ingin mengumpulkan kain tenun sebagai hantaran atau isi lemari bagi ponakan yang akan menikah, sesuai tradisi Timor. Dari situ, kelompok ini mulai berkembang menjadi sarana ekspresi perempuan-perempuan di desa. Nama “Sehati” mencerminkan bahwa kelompok ini terdiri dari para ibu, anak-anak, menantu, ponakan, cucu, dan cece yang saling mendukung satu sama lain.

Ketua Kelompok Tenun Sehati, Martha Sanam (44), menjelaskan bahwa ia dan saudaranya belajar menenun sejak dini, bahkan dari usia SD. Ia mengatakan bahwa awalnya mereka hanya menenun untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun seiring waktu, kegiatan ini berkembang menjadi sumber pendapatan dan alat pemberdayaan.

Struktur dan Metode Kerja

Awalnya, kelompok ini memiliki sembilan anggota, kemudian berkurang menjadi tujuh orang, dan saat ini tercatat ada 23 anggota, meski hanya tujuh yang aktif secara rutin. Martha menjelaskan bahwa metode kerja kelompok ini adalah bekerja secara individu, tetapi dengan pembagian tugas yang disesuaikan dengan pesanan.

Contohnya, jika ada pesanan 10 lembar kain tenun, maka setiap anggota akan mengerjakan satu lembar, sedangkan tiga lembar sisanya bisa dikerjakan oleh siapa saja yang sudah selesai. Proses ini membuat kerja sama antar anggota tetap terjalin tanpa terlalu terpaku pada struktur formal.

Bantuan dan Pengembangan Kelompok

Kelompok Tenun Sehati menerima berbagai bentuk bantuan, baik dari luar negeri maupun pemerintah daerah TTS. Misalnya, bantuan rumah produksi tenun diberikan melalui Yayasan SSP TTS, serta alat tenun yang diberikan oleh pemerintah. Hal ini membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil tenun.

Meski tidak melakukan promosi secara luas, produk kelompok ini sudah dikenal hingga luar daerah, bahkan sampai ke luar negeri seperti Selandia Baru. Martha mengatakan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap kualitas tenun membuat banyak orang datang sendiri untuk memesan.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Salah satu dampak terbesar dari keberadaan kelompok ini adalah perubahan sosial dalam rumah tangga. Sebelum fokus pada tenun, banyak suami anggota kelompok terlibat dalam KDRT akibat konsumsi alkohol. Namun, dengan adanya pekerjaan menenun, para istri mampu menghasilkan uang harian, sehingga mengurangi risiko KDRT.

Selain itu, tenun juga menjadi modal utama untuk menyekolahkan anak-anak. Beberapa dari mereka telah menyelesaikan pendidikan tinggi, sementara yang lain masih berkuliah. Bahkan, ada yang menggunakan uang dari hasil tenun untuk membayar komite sekolah, dengan cara membagikan selendang pesanan kepada guru dan siswa.

Pelatihan dan Pelestarian Budaya

Martha juga menjelaskan bahwa kelompok ini tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada pelatihan. Mereka membuka pelatihan menenun untuk generasi muda, termasuk anak-anak SD kelas 3-6. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk melestarikan seni tenun dan memastikan bahwa pengetahuan ini tidak hilang.

Motif tenun yang diproduksi oleh kelompok ini mencakup Amanuban, Amanatun, dan Mollo. Bahan dasar benang yang digunakan seperti sutra, alam, dan amalon. Produk yang ditawarkan meliputi selempang, selendang, sarung, dan selimut dengan harga yang beragam.

Keberlanjutan dan Harapan

Meskipun pesanan cukup padat, Martha dan anggota kelompok tetap aktif dan tidak pernah sakit. Mereka bekerja dari pukul 08.00 hingga 17.00, atau bisa lembur hingga pukul 23.00. Setiap bulan, anggota kelompok bisa menerima pesanan sebanyak 25-30 pemesan dengan motif dan ukuran yang berbeda-beda.

Martha berharap agar perempuan di Timor dapat lebih aktif dalam melestarikan tenun. Ia menegaskan bahwa tenun bukan hanya kain, tetapi juga simbol identitas budaya yang harus dilestarikan. Melalui tenun, ia juga berkontribusi dalam aksi sosial, seperti memberikan bantuan kepada janda, duda, dan orang tua di desa.

Dengan ketulusan dan kegigihan, kelompok Tenun Sehati terus bertahan dan berkembang, membawa perubahan positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *