"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Bisnis  

Jalur Pertumbuhan Asaki: Ekspansi Industri Keramik Capai 700 Juta Meter Per Segi



Industri keramik di Indonesia tengah menghadapi masa transisi yang penuh harapan. Dewan Pengurus Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Periode 2026 – 2029 telah menyiapkan peta jalan (roadmap) pengembangan industri keramik nasional. Roadmap ini mencakup berbagai aspek penting seperti pertumbuhan investasi, tingkat utilisasi, dan penambahan kapasitas produksi.

Target Peningkatan Utilisasi Produksi

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menjelaskan bahwa pihaknya telah merancang roadmap untuk tiga tahun ke depan. Salah satu fokus utama adalah target peningkatan utilisasi produksi. Saat ini, utilisasi produksi keramik nasional berada di level 73% pada 2025. Dalam beberapa tahun ke depan, Asaki menargetkan kenaikan utilisasi menjadi 80% pada tahun ini, kemudian meningkat menjadi 85% pada tahun berikutnya. Pada 2028 dan seterusnya, target utilisasi diproyeksikan melebihi 90%.

Edy menyatakan bahwa proyeksi optimistis ini akan didukung oleh kebijakan dan program pemerintah. Beberapa kebijakan yang mendukung industri keramik dalam negeri antara lain kebijakan anti-dumping, safeguard, serta penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib. Kebijakan-kebijakan ini telah membantu pemulihan industri keramik pada tahun lalu.

Program Pemerintah yang Mendorong Pertumbuhan

Di samping itu, ada sejumlah program pemerintah yang berpotensi membuat prospek industri keramik terus membaik. Misalnya, Program 3 Juta Rumah, pembangunan Sekolah Rakyat, dan pembangunan Koperasi Merah Putih yang cepat dan masif. Selain itu, insentif di sektor properti juga turut berkontribusi pada pertumbuhan industri keramik.

Asaki bahkan mengestimasikan bahwa Program 3 Juta Rumah bisa meningkatkan utilisasi produksi keramik sekitar 16%. Jika program ini terealisasi sesuai target, utilisasi produksi industri keramik nasional akan melampaui 90%. Namun, untuk tahun ini, Asaki masih menggunakan angka yang moderat di level 80%.

Peningkatan Kapasitas Produksi

Selain utilisasi, kapasitas produksi industri keramik juga akan meningkat. Berdasarkan data yang dirilis, kapasitas produksi industri keramik nasional tahun lalu berada di level 650 juta meter². Pada tahun ini, kapasitas terpasang akan bertambah sekitar 4% menjadi 672 juta meter². Dua tahun ke depan, yaitu pada 2028, akan ada tambahan kapasitas produksi sehingga mencapai 701 juta meter². Angka ini akan semakin mengokohkan posisi industri keramik Indonesia di lima besar dunia.

Skema Kerja Sama OEM

Salah satu pendongkrak kapasitas produksi industri keramik nasional adalah skema kerja sama Original Equipment Manufacturing (OEM) antara importir dan produsen keramik lokal. Melalui skema OEM, ada pembangunan pabrik dengan kapasitas 60.000 meter². Selain itu, ada rencana ekspansi pembangunan pabrik dengan kapasitas 50.000 meter². Skema OEM tumbuh seiring dengan kebijakan pemerintah yang memperkuat proteksi industri keramik dalam negeri dari produk impor.

Swasembada Keramik

Dengan berbagai perbaikan kinerja dan proyeksi ekspansi ini, Edy mengklaim bahwa Indonesia sudah bisa mencapai swasembada keramik. “Multiplier effect dari kebijakan sudah mengalir. Kami berani menyampaikan sudah swasembada keramik. Tanpa impor, kami sudah bisa memenuhi permintaan keramik dalam negeri,” ujarnya.

Peran Pemerintah dalam Mendukung Industri Keramik

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri keramik bersifat siklikal. Kinerjanya sangat dipengaruhi oleh dinamika pertumbuhan makro ekonomi, terutama dari sisi aktivitas pembangunan di sektor properti dan konstruksi. Pemerintah telah memberikan sejumlah dukungan kebijakan untuk meningkatkan daya saing industri keramik nasional, mulai dari SNI, anti-dumping, safeguard, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), standar industri hijau, hingga Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).

Berdasarkan data Kemenperin, saat ini Indonesia memiliki 36 perusahaan keramik dengan total kapasitas terpasang sebesar 650 juta meter². Indonesia merupakan negara produsen keramik terbesar kelima di dunia. Empat produsen keramik terbesar adalah China, India, Brazil, dan Vietnam.

Agus meyakini industri keramik nasional bakal terus mencetak pertumbuhan dengan dorongan dari kebijakan dan program pemerintah, serta permintaan dari sektor swasta maupun masyarakat. Saat ini, rata-rata konsumsi keramik di Indonesia baru sekitar 2,5 meter² per kapita. Masih jauh di bawah rata-rata regional Asia Tenggara dengan konsumsi keramik 3 – 3,5 meter² per kapita, maupun negara produsen utama seperti China yang mencapai 4 meter² per kapita.

Menurut Agus, data ini menunjukkan bahwa potensi pasar domestik masih sangat besar untuk dikembangkan, sekaligus menjadi peluang ekspansi bagi industri keramik. “Kami juga optimis bahwa dengan kinerja yang terus meningkat dengan baik, misi kita untuk menjadikan sektor keramik naik tingkat ke posisi keempat dunia bisa segera tercapai,” ujarnya.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *