"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Perempuan Pemicu Tuduhan Es Gabus Terungkap, Aspri Hotman Paris Turun Tangan

Sosok Wanita yang Viral dengan Tuduhan Es Gabus

Seorang wanita tiba-tiba menjadi perhatian publik setelah diduga menjadi warga pertama yang menuduh es gabus milik Suderajat bukan terbuat dari bahan makanan. Sosoknya terekam dalam video viral yang beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, ia terlihat mengenakan kaus putih dengan rambut panjang sebahu. Wanita tersebut tampak berada di lokasi kejadian dan ikut menghancurkan dagangan milik pedagang es gabus.

Ia juga melontarkan pernyataan yang menyebut es gabus tersebut terbuat dari spons bedak karena mudah dihancurkan. Sebelum aparat melakukan pemeriksaan, Suderajat diketahui lebih dulu dicurigai oleh sejumlah warga terkait bahan yang digunakan dalam produk es gabus yang dijualnya. Salah satu warga yang terekam menyampaikan pendapat dalam video tersebut adalah perempuan yang kini menjadi sorotan. Video itu diunggah melalui akun Threads @apri_idn pada Selasa, 27 Januari 2026.

Dalam rekaman video, wanita tersebut terdengar menyebut es gabus menyerupai spons bedak dan meragukan bahan pembuatannya. “Ini mah spons, spons bedak. Masa agar-agar bisa diperas kayak gini? Astagfirullah, nggak mungkin agar ini,” ucapnya. Pernyataan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan disebut-sebut menjadi salah satu pemicu munculnya laporan terhadap Suderajat, yang berujung pada pemeriksaan oleh aparat.

Media Sosial Tidak Aktif Lagi

Berdasarkan penelusuran warganet, wanita disebut sebagai warga kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Wanita itu disebut berusia sekitar dua puluh tahun, dan pernah dimintai keterangan terkait es gabus Sudrajat.

Seiring viralnya kasus, akun media sosial wanita itupun diketahui sudah tidak aktif. Meski demikian, sebagian warganet masih mencoba mencari informasi tentangnya dan menuntut agar ucapannya dipertanggungjawabkan. Kasus ini memicu perdebatan di media sosial yang memintanya untuk muncul dan bertanggung-jawab atas ucapannya yang viral.

Berawal Dari Laporan Warga

Dugaan bahwa es gabus yang dijual Suderajat mengandung bahan spons pertama kali mencuat setelah seorang warga, M. Arief Fadillah (43), melapor ke Call Center 110 pada Sabtu (24/1/2026). Laporan tersebut menyebut adanya dugaan penggunaan Polyurethane Foam (PU Foam) pada es yang dijual Suderajat di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat.

Menindaklanjuti laporan itu, aparat kepolisian mengamankan seluruh dagangan pedagang es tersebut guna pemeriksaan lebih lanjut. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan awal oleh Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya menunjukkan seluruh sampel es dan makanan yang dijual Suderajat aman dan layak konsumsi. Meski begitu, sampel tetap dikirim ke Dinas Kesehatan dan Laboratorium Forensik Polri untuk memastikan hasil yang lebih komprehensif dan berbasis ilmu pengetahuan.

TikToker Minta Warganet Telusuri Sosok Wanita

Kasus penjual es gabus bernama Suderajat kembali memunculkan babak baru. Setelah tuduhan penggunaan bahan berbahaya terbukti tidak benar, perhatian publik kini tertuju pada sosok yang diduga pertama kali memicu viralnya tudingan tersebut. Sebelum Suderajat dituding oleh oknum aparat kepolisian dan TNI, narasi keliru soal es gabus itu ternyata sudah lebih dulu beredar di media sosial.

Tuduhan awal disebut berasal dari seorang perempuan yang terekam dalam video sedang meremas-remas es gabus dan mempertanyakan bahan pembuatnya. Video perempuan tersebut kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial dan diduga menjadi pemantik utama hingga kasus Suderajat bergulir besar. Perempuan itu pun disebut sebagai pihak pertama yang menyebarkan narasi bahwa es gabus yang dijual Suderajat berasal dari bahan berbahaya.

Seorang TikToker bahkan secara terbuka menyoroti sosok perempuan tersebut dalam unggahannya. Ia menyebut, perempuan itu memiliki peran besar dalam munculnya trauma yang dialami Suderajat dan keluarganya. “Nih, kalian masih inget ga dengan foto perempuan, yang ada di belakang layar gue ini? Ini perempuan adalah awal yang dari timbulnya siksa dan trauma yang dialami oleh penjual es kue,” kata sang TikToker dalam postingannya.

Tak berhenti di situ, TikToker tersebut juga meminta warganet untuk ikut menelusuri keberadaan perempuan tersebut agar mau muncul dan mempertanggungjawabkan ucapannya. “Coba nih, cari perempuan ini. The Power of TikTok. Bagikan share sebanyak-banyaknya agar si perempuan ini juga ikut serta diseret dan dimintai pertanggungjawabannya karena semua bermula rasa trauma dan siksa itu timbul dari perempuan ini. Mulutnya, yang enggak tahu dan enggak ngerti es itu adalah es kue,” jelasnya.

Dalam unggahan itu, perempuan tersebut juga dituding telah ikut memfitnah Suderajat hingga berdampak pada terhentinya rezeki sang pedagang kecil. “Jangan cuma pengen viral, lu memutus rezeki orang yang padahal rezeki itu untuk anak dan istri,” ujarnya. Video tersebut pun kembali viral dan memicu gelombang reaksi keras dari warganet. Banyak yang menilai tuduhan tanpa dasar itu telah berdampak serius pada kehidupan Suderajat, yang sempat mengalami tekanan psikologis akibat stigma negatif yang terlanjur menyebar luas.

Aspri Hotman Turun Tangan

Kasus penjual es gabus Suderajat kembali memanas setelah sorotan publik bergeser pada sosok perempuan yang disebut-sebut sebagai pemicu awal tuduhan keliru. Perempuan itu mencuat usai akun TikTok @buyathomyofficial mengunggah video yang menuding dirinya sebagai pihak pertama yang menyebarkan narasi salah soal es kue, hingga berujung pada penganiayaan terhadap Suderajat. Perempuan itu disebut sebagai sosok yang pertama kali menyebarkan narasi keliru soal es yang dijual korban.

[Nah, berikutnya akan dibahas bagaimana respons dari aspri Hotman Paris terhadap kasus ini.]

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *