"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Tak Hanya Daging, Telur Ikan Sapu-Sapu Juga Jadi Umpan Populer

Penggunaan Ikan Sapu-Sapu yang Tidak Hanya untuk Daging



JAKARTA – Ikan sapu-sapu tidak hanya digunakan sebagai bahan makanan, tetapi juga memiliki nilai jual lainnya. Salah satunya adalah telur ikan ini yang dimanfaatkan sebagai umpan memancing. Hal ini diungkapkan oleh Ali (35), seorang pencari ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung yang telah menjalani pekerjaan tersebut selama sekitar 10 tahun.

Ali menjelaskan bahwa telur ikan sapu-sapu memiliki harga jual yang berbeda tergantung dari cara pengolahannya. “Kalau buat umpan mancing, per kilo Rp 20.000. Kalau yang dari lubang, satuannya bisa seribu telur itu Rp 5.000,” ujar Ali saat ditemui di bawah Jembatan Ciliwung Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (22/1/2026).

Menurut Ali, telur ikan sapu-sapu umumnya diminati untuk keperluan memancing jenis ikan tertentu. “Ikan lain enggak suka amis. Lele sama bawal yang cocok,” kata dia.

Telur Dipisah, Daging Dijual

Dalam praktiknya, telur ikan sapu-sapu tidak selalu dijual bersamaan dengan daging. Setelah ikan dibersihkan, bagian telur dipisahkan untuk kemudian dijual sebagai umpan pancing, sementara dagingnya dijual per kilogram kepada pengepul atau yang disebut Ali sebagai “bos”.

Soal pemanfaatan daging ikan sapu-sapu, Ali menyebut sebagian besar hasil tangkapan mereka tidak langsung dikonsumsi oleh para pencari ikan. “Ada bosnya yang ngelola. Ada yang buat pakan ikan, pakan ayam,” ujar Ali.

Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti ke mana saja daging ikan sapu-sapu tersebut akan berakhir setelah diserahkan kepada pengepul. Saat ditanya lebih jauh mengenai pengolahan lanjutan dan jalur distribusinya, Ali memilih tidak memberikan penjelasan.

Namun, ia mengaku heran ketika belakangan ikan sapu-sapu ramai dibicarakan sebagai bahan makanan manusia. “Saya juga heran orang bisa heboh. Dari dulu juga ikan. Di Indonesia kalau enggak pro ya kontra,” kata Ali.

Bagi Ali, ikan sapu-sapu tidak berbeda dengan jenis ikan lainnya. “Kalau kata saya mah enggak masalah, namanya juga ikan. Bukan makanan haram juga,” ucap dia.

Hasil Tangkapan Kian Menyusut

Ali menjelaskan bahwa dalam sekali menjaring, jumlah ikan sapu-sapu yang didapat tidak menentu. Namun, ia menyebut hasil tangkapan kini cenderung menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Paling dikit sekitar 7 kilo. Sekarang paling 8 kilo juga nggak ada,” kata dia.

Dalam satu kali jaring, Ali mengatakan bisa mendapatkan lebih dari 10 ekor ikan, tergantung kondisi air dan arus sungai. Aktivitas ini dilakukan bersama sekitar 15 orang lainnya yang bekerja di area kolong jembatan tersebut.

Meski berada di lokasi yang cukup ramai dilalui kendaraan, keberadaan mereka kerap luput dari perhatian publik. “Banyak yang lewat aja, enggak berhenti, jadi orang nggak tahu,” ujar Ali.

Dari Sungai ke Gerobak Siomay

Di sisi lain, sebagian daging ikan sapu-sapu belakangan diketahui diolah menjadi makanan, salah satunya siomay. Salah satunya digunakan oleh pedagang siomay di kawasan Stasiun Duren Kalibata.

Mamat (bukan nama sebenarnya) (51), pedagang asal Pasar Minggu, mengakui menggunakan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku. “Kalau pakai daging ikan sapu-sapu, warnanya memang agak lebih gelap, mirip bakso. Beda sama siomay yang kebanyakan tepung atau daging ikan segar yang warnanya agak pink,” ujar Mamat.

Ia juga mengakui aroma amis dari daging ikan ini jauh lebih kuat dari jenis ikan lainnya. “Terus memang biasanya lebih amis, tapi itu bisa diakalin pakai jeruk nipis,” kata dia.

Namun, Mamat menegaskan tidak selalu menggunakan 100 persen ikan sapu-sapu. “Kadang kalau enggak semuanya dari ikan sapu-sapu, saya campur sama ikan yang dagingnya memang dijual di pasar,” ujar Mamat.

Alasan utama pemilihan bahan ini adalah harga. “Ya karena lebih murah. Terus juga kan sama-sama ikan. Nggak beracun juga, toh layak dimakan,” kata Mamat.

Belakangan, isu ikan sapu-sapu ramai diperbincangkan dan berdampak pada penjualan. “Berpengaruh. Kadang pembeli nanya, ini siomay pakai ikan atau daging. Saya jawab ikan. Ada yang jadi beli, ada juga yang nggak jadi,” kata Mamat.

Ia sendiri mengonsumsi siomay buatannya dan tidak mengalami masalah kesehatan. “Pernah, pasti. Namanya juga yang bikin, kadang nyicip pas ngaduk adonan,” kata Mamat.

Risiko Kesehatan Tetap Perlu Diwaspadai

Dokter penyakit dalam Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, mengingatkan bahwa konsumsi ikan sapu-sapu dari perairan tercemar tidak selalu menimbulkan dampak langsung, tetapi berisiko menimbulkan masalah kesehatan dalam jangka panjang.

Menurut Ari, bahaya utama bukan pada jenis ikan, melainkan lingkungan tempat ikan tersebut hidup. “Ikan yang hidup di perairan tercemar berisiko mengandung bakteri, kuman, hingga logam berat,” ujar Ari.

Ia menegaskan bahwa proses pemasakan tidak selalu mampu menghilangkan kandungan logam berat yang sudah terakumulasi dalam tubuh ikan. Dalam jangka pendek, konsumsi ikan tercemar bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual dan muntah.

Namun, dampak yang lebih serius justru muncul dalam jangka panjang. “Dalam jangka panjang tentu bisa menyebabkan kerusakan ginjal maupun lever,” kata Ari.

Menurut dia, logam berat bersifat akumulatif dan dapat menumpuk di dalam tubuh jika dikonsumsi secara berulang, meskipun dalam jumlah kecil.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *