JAKARTA — Perusahaan asuransi di Indonesia mulai melihat peluang baru dalam sektor asuransi pengangkutan atau marine cargo berkat strategi diversifikasi pasar ekspor yang dilakukan pemerintah. PT Asuransi Asei Indonesia menilai bahwa pergeseran fokus ekspor ke negara-negara non-tradisional dapat memberikan dampak positif terhadap permintaan produk asuransi ini.
Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe, menjelaskan bahwa ekspor Indonesia kini semakin aktif menjangkau negara-negara Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, dan negara berkembang dengan pertumbuhan permintaan komoditas yang tinggi. Menurutnya, pergeseran ini membuka peluang baru untuk pengangkutan barang ke rute dan pasar yang lebih luas.
“Pergeseran ini berdampak positif terhadap potensi pertumbuhan premi marine cargo karena membuka peluang pengangkutan ke rute dan pasar baru,” ujarnya.
Namun, ia juga menyampaikan bahwa pasar non-tradisional memiliki karakteristik risiko yang berbeda dari pasar tradisional. Berikut beberapa tantangan utama yang dihadapi:
-
Infrastruktur pelabuhan dan logistik yang belum merata
Banyak negara tujuan ekspor memiliki infrastruktur yang belum memadai, sehingga memengaruhi proses pengangkutan dan pengelolaan risiko. -
Stabilitas politik dan regulasi yang bervariasi
Setiap negara memiliki aturan dan situasi politik yang berbeda, yang bisa memengaruhi jalannya perdagangan dan operasional asuransi. -
Keterbatasan data historis klaim untuk rute tertentu
Data yang tidak lengkap membuat perusahaan asuransi kesulitan dalam mengevaluasi risiko secara akurat.
Dody menekankan bahwa hal ini menuntut perusahaan asuransi untuk melakukan penilaian risiko secara lebih mendalam. Hal ini termasuk penyesuaian klausul polis, seperti war risk, delay, dan pengecualian, serta pengelolaan akumulasi risiko lintas wilayah secara lebih disiplin.
Meski ada tantangan, secara keseluruhan, Asei melihat peluang pertumbuhan premi marine cargo sebagai bagian dari ekspor komoditas unggulan nasional. Ia menyarankan agar perusahaan asuransi meningkatkan pengelolaan risiko, terutama dalam underwriting yang lebih prudent, dukungan reasuransi yang memadai, serta pemanfaatan data risiko global.
Oleh karena itu, perusahaan asuransi di masa depan harus menguatkan manajemen risiko dan underwriting berbasis rute dan komoditas, menyesuaikan struktur premi dan klausul pertanggungan, mengoptimalisasikan kerja sama reasuransi, serta memantau dinamika perdagangan dan geopolitik global.
“Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pertumbuhan marine cargo, sekaligus memastikan kinerja underwriting tetap terjaga di tengah lingkungan global yang semakin kompleks,” kata Dody.
Senada dengan pendapat Dody, pengamat asuransi Wahyudin Rahman menyebut bahwa pergeseran tujuan ekspor ke pasar non-tradisional seperti Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika memang sudah terlihat. Ia menilai bahwa perubahan ini meningkatkan kompleksitas risiko, termasuk regulasi, pelabuhan, dan stabilitas negara, yang membuat peran asuransi marine cargo semakin strategis.
Di sisi lain, ia juga menyoroti adanya ketegangan geopolitik yang dapat mengubah peta perdagangan global. Menurutnya, rute pelayaran akan makin panjang, biaya logistik naik, dan risiko pengangkutan meningkat.
“Kondisi ini justru mendorong kebutuhan proteksi yang lebih komprehensif sehingga marine cargo tetap relevan meski volumenya fluktuatif,” tegasnya.
Sementara itu, pengamat asuransi Irvan Rahardjo mengungkapkan bahwa tantangan utama lini usaha marine cargo saat ini mencakup persaingan ketat, kompleksitas risiko seperti kapal tua dan rute berbahaya, tekanan tarif premi, gangguan rantai pasok global, isu geopolitik, perubahan iklim, serta rendahnya literasi risiko.
Berdasarkan catatan Bisnis, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan memperluas perjanjian perdagangan bebas dengan menjangkau pasar ekspor hingga ke Amerika Selatan, seperti Peru. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah akses pasar Indonesia ke luar negeri.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan bahwa pemerintah akan memperluas pasar ekspor dengan negara non-tradisional, termasuk Peru di Amerika Selatan. Budi mengklaim saat ini pemerintah tengah memproses perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif alias comprehensive economic partnership agreement (CEPA) dengan Peru.
“Ke semua negara, itu kan negara-negara non-tradisional, ya. Kita mau masuk, sekarang Peru, Peru lagi proses penyusunan CEPA-nya. Terus ke negara-negara Eurasia,” kata Budi seusai acara peluncuran Gemini Academy Untuk UMKM Bisa Ekspor di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (21/2/2025).
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











