"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Bisnis  

Untuk bertahan hidup, jual bakso di gang

Pengalaman Jalan-jalan di Gang yang Penuh Kehidupan

Jalan sempit yang terletak antara perumahan padat menjadi salah satu rute favorit untuk berjalan pagi. Melewati gang kecil, saya merasakan dinamika kehidupan sehari-hari dan sering berbincang dengan warga setempat, termasuk kepada penjual penganan.

Etalase mie ayam dan bakso sering saya lihat di sebuah jalan kecil yang penuh dengan permisi. Setiap kali melewati gang, saya selalu mengucapkan “punten” (bahasa Sunda, artinya permisi) kepada para warga. Tidak jarang warga gang bersantai di depan rumah sambil berbincang dengan tetangga. Rasanya tidak sopan jika berjalan tanpa mengucapkan permisi kepada mereka.

Di antara rumah-rumah di gang, terselip warung sayur dan sembako, lapak jajanan, tukang jahit, serta tempat permak lepis (perbaikan jahitan), dan lainnya. Usaha dagang tersebut menjadi sumber utama atau pendukung penghasilan keluarga.

Satu gerai menjual bakso, mie ayam, soto mie Bogor, dan pisang cokelat. Meskipun menarik perhatian, ketiadaan meja membuat niat membeli sedikit terkikis. Saya kesulitan dalam memegang mangkuk atau piring. Meletakkannya di tangan kiri, tangan kanan belum mahir menyendok makanan. Tangan kiri menyuap makanan, sedangkan tangan kanan tidak mampu lama menyangga piring/mangkuk yang masih berisi.

Membungkusnya? Tidak. Saya lebih suka menyantap bakso atau mie ayam di tempat. Sensasinya berbeda, meski di rumah bisa dipanaskan kembali sebelum dimakan.

Beberapa waktu lalu, saat melewati gang tersebut, saya melihat adanya tempat makan di dalam rumah penjual. Saya mampir dan memesan semangkuk bakso dengan sayur sawi tanpa micin. Juga tidak pakai mi dan/atau bihun. Ada juga pilihan menu mie ayam dan soto mie. Boleh juga mencobanya di lain waktu.

Tidak ada harapan khusus ketika semangkuk bakso kuah bening di hadapan, selain ingin mencobanya. Menjajal seseruputan kuah dan secuil daging bulat, lidah mencecap rasa enak. Mengejutkan untuk ukuran bakso yang dijual dalam gang.

Demi memperkaya rasa, saya mengucurkan perasan jeruk cui/songkit (Citrus microcarpa) yang dibawa dari rumah dan membubuhkan sambal. Tambahan yang menjadikan rasa bakso lebih enak. Rasa asam jeruk memperkuat gurihnya kuah bakso. Pedas rawit gerus membuat lidah tak berhenti menari-nari.

Ternyata rasa bakso di tempat sederhana dalam gang tidak mengecewakan, walaupun tidak juga merepresentasikan bakso terenak. Sepadan dengan harga Rp10.000 semangkuk, bahkan melebihi perkiraan saya.

Namun, artikel ini tidak hanya tentang pengalaman rasa, tetapi juga tentang perbincangan dengan pemilik warung.

Bu Diah, nama penjual yang juga menjadi merek pada spanduk terbentang di muka rumah merangkap gerai, telah enam tahun berjualan. Dua tahun awal berdagang penganan untuk anak-anak sekitar, pada periode berikutnya ia berjualan bakso.

Tidak hanya bakso, ibu dua anak itu juga berjualan mie ayam, soto mie Bogor, pisang cokelat (pisang ditaburi meses/butiran cokelat, dibungkus kulit lumpia, lalu digoreng), dan minuman saset.

Suaminya adalah Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) golongan I di kantor milik Kementerian pertanian di Jalan Tentara Pelajar, Kota Bogor. Dekat dengan rumah mereka, berjarak tidak lebih dari satu kilometer.

Mereka mengontrak rumah petak ukuran kira-kira 3X6 meter persegi. Ruang paling depan “dikorbankan” sebagai tempat makan pengunjung. Teras menjadi tempat display makanan dan memasak/menghangatkan kuah. Sempit, tapi cukup efektif.

Berjualan merupakan inisiatif mereka dalam rangka menambah penghasilan. Bu Dian berjualan dibantu putri sulungnya yang sudah remaja.

“Alhamdulilah, (hasil berjualan) bisa bayar kontrakan.”

Menurut saya, Bu Diah merupakan entrepreneur. Ia menciptakan peluang kerja dan berani mengambil risiko. Penjualan bakso, mie ayam, dan soto mie perlu modal lumayan, sementara lokasi yang menyempil sepertinya kurang mendukung penjualan.

Namun, pengalaman enam tahun berjualan membuktikan daya tahan. Sebuah keberadaan yang bercerita tentang daya topang penjualan bakso terhadap kehidupan mereka.

Saya penasaran, bagaimana ceritanya maka hasil usaha tersebut menjadi pendapatan keluarga penopang kehidupan keluarga?

Menurut Bu Dian, bakso menempati posisi tinggi dalam penjualan. Menjadi favorit pembeli. Cocok disantap dalam keadaan apa pun, terutama pada cuaca mendung.

Kedua, soto mie. Santapan ini biasanya dibawa pulang sebagai pendamping makan nasi. Sedangkan mie ayam merupakan makanan berat pengganti makan nasi. Pembelinya tak banyak, maka persediannya pun menyesuaikan.

Saya bertanya tentang per-bakso-an. Memusatkan perhatian kepada laba rugi penjualan bakso.

Bu Dian punya banyak peran dalam usaha. Kata orang pintar, multitasking. Ia berbelanja bahan, mengolah, menjual, menghidangkan makanan, mencuci piring, dan menghitung uang. Beruntung, dalam penjualan dan penyajian ia dibantu oleh putri sulungnya.

Setelah waktu Subuh Bu Dian ke pasar membeli daging, mie, dan bahan lainnya, sekalian menggiling adonan bakso.

Daging lima kilogram harga Rp120.000 per kg (harga untuk pedagang bakso lebih murah ketimbang untuk pembeli umum) digiling pada tempat khusus penggilingan bakso. Ongkos giling termasuk tepung dan bumbu-bumbu Rp70.000.

Bu Dian penganut racikan adonan umum, komposisi daging lima bagian dan tepung satu bagian. Maka adonan menjadi enam kilogram, yang akan menjadi sekitar tiga ratus butir bulatan bakso ukuran sedang.

Kurang lebih setara dengan sembilan puluh enam mangkuk bakso (50 butir bakso mengisi menjadi 16-17 mangkuk), dengan harga Rp10.000 per mangkuk. Seluruh bakso rata-rata terjual dalam tiga hari.

Berdasarkan keterangan Bu Dian di atas, saya membuat hitungan sederhana seperti ini:

  • Daging 5 kg @Rp120.000 = Rp600.000
  • Tepung, bumbu, ongkos giling = Rp70.000
  • Pelengkap (sawi, saus, kecap, cabai) = Rp80.000

MODAL menjadi Rp750.000

5 kg daging + 1 kg tepung dan bumbu menjadi 300 butir bakso (1 kg adonan = 50 butir bakso).

50 butir mengisi 16-17 mangkuk bakso.

6 kg adonan menjadi 96 mangkuk bakso yang rata-rata habis dalam 3 hari.

Harga jual bakso Rp10.000 per mangkuk.

Terjual 96 mangkuk, pendapatan Rp960.000

KEUNTUNGAN adalah Rp960.000 — Rp750.000 = Rp210.000 per 3 hari, atau rata-rata Rp70.000 setiap hari.

Hitungan kasar dan sederhana di atas mengabaikan, antara lain: biaya utilities (gas, air, Listrik, dan lainnya), alat habis pakai (tisu, sumpit, alat masak/makan aus), alat kebersihan (sabun cuci piring, karbol pel). Tujuan perhitungan ini semata-mata untuk ilustrasi.

Anggaplah dalam satu bulan berjualan 25 hari (ada jeda atau keperluan), dari penjualan bakso Bu Dian mengambil untung kotor Rp1.750.000 per bulan. Lumayan. Itu baru dari penjualan bakso.

Apakah penjualan bakso, mie ayam, soto mie, dan lainnya menghasilkan keuntungan demikian besar? Itu rahasia “perusahaan” yang belum bisa saya tebak. Mungkin cukup. Bisa jadi pas-pasan. Namun, terpenting keuntungan bisa menyambung hidup.

Menurut Bu Dian, hasil berjualan bisa untuk membayar biaya kontrakan dan menyokong biaya rumah tangga. Maka, meskipun terletak di dalam gang, penjualan bakso dan teman-temannya mampu menopang kehidupan Bu Dian sekeluarga.

Semoga usaha Bu Dian makin berkembang.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *