Pengalaman di Akar Rumput
Sebuah hari yang penuh makna, seperti biasanya, terasa seperti catatan harian. Kali ini, saya hanya ingin berbagi perasaan dan refleksi yang muncul saat tubuh sedang diuji oleh terik matahari yang sangat menyengat, sementara melintasi perkebunan sawit di Beranda Utara.
Orang tua saya berasal dari latar belakang petani sawit, dan saya memilih untuk membantu langsung di tingkat grassroot. Tugasnya sederhana namun menguras tenaga: mengangkut hasil panen, duduk di balik kemudi, menyetir, dan membawanya ke kilang. Selama proses itu berlangsung, rasa lelah yang menyergap sangat luar biasa.
Lelah di Akar Rumput
Berada di tengah perkebunan sawit bukan sekadar tentang urusan fisik. Ada filosofi kesabaran yang tersembunyi di sana. Menyetir truk atau kendaraan pengangkut di jalanan kebun yang tidak selalu mulus, sembari mengejar waktu menuju kilang agar hasil panen tetap segar, adalah sebuah perjuangan tersendiri.
Peluh yang mengalir bukan sekadar air, tapi manifestasi dari tanggung jawab seorang laki-laki. Namun, di tengah keletihan yang luar biasa itu, ada satu hal yang bisa mengembalikan kekuatan kita secara spontan: Nyonya (istri) dan kemudian baru anak.
Falsafah Mencintai Nyonya
Dalam dunia parenting, sering kali kita terjebak pada mitos bahwa anak adalah segalanya. Namun, saya menyadari sebuah kebenaran pahit tapi manis: untuk membesarkan anak dan mencintai mereka seutuhnya, ternyata yang terlebih dahulu harus dicintai, yang paling utama dan pertama, adalah ibunya. Sang Nyonya.
Selama ini, kita sebagai pria atau orang tua mungkin sering “berlebihan” dalam menunjukkan kasih sayang duluan kepada anak. Alasan psikologisnya jelas; mereka lebih cute, imut, dan lucu untuk dipandang. Mereka adalah pelipur lara yang instan. Sampai-sampai, terkadang kita melupakan orientasi yang paling mendasar. Kita lupa pada sosok ibunya yang mungkin sedang berada di titik nadir kelelahan.
Pengorbanan dalam Kesunyian
Kita sering abai bahwa sang ibu setiap malam harus bergadang: bukan berdagang (hehe). Tapi bergadang dengan ada perlunya, yaitu membesarkan bayi kita. Seperti lirik lagu legendaris Rhoma Irama, ada tujuan mulia di balik mata mereka yang berkantung hitam. Mereka memberikan hidupnya saat dunia terlelap.
Sudah selayaknya apresiasi cinta pertama diberikan kepada sang “Ratu” yang biasa saya panggil Nyonya. Sejujurnya, saya bahkan tidak pernah menyebutnya sebagai istri, melainkan Bidadari. Bagi saya, dia adalah bidadari yang menjadi penguat hari-hari saya. Tanpa bidadari yang merasa dicintai dan didukung, mustahil seorang ayah bisa memberikan kasih sayang yang stabil kepada anaknya.
Bahagia yang Sederhana
Perenungan ini semakin menguat ketika sore itu jam menunjukkan waktu mendekati Isya. Setelah seharian bergelut dengan debu kebun dan terik matahari, saya akhirnya bisa pulang. Namun, sebelum sampai di rumah, diri ini tak lupa mampir sejenak. Bukan untuk membeli barang mewah, melainkan hanya sekadar membelikan minuman kesukaan sang Nyonya.
Hanya sebuah minuman sederhana. Tapi saat saya menyerahkannya, dia senang bukan main. Alhamdulillah. Melihat binar matanya, rasa lelah yang tadi seolah membebani pundak langsung sirna tak berbekas. Ternyata benar, kebahagiaan anak bermula dari kebahagiaan ibunya yang merasa diperhatikan oleh suaminya.
Catatan Harian yang Sederhana
Catatan diary nan sederhana tanpa teori sains yang rumit di sini, hanya sebuah pengalaman dari lapangan sawit. Semoga tulisan ini “laku” dan manfaatnya bisa terasa bagi siapa pun yang membaca, terutama bagi para ayah yang sedang berjuang di luar sana. Mari kembali pulang dan muliakan bidadari kita di rumah.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











