"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Sejarah Pendirian GPIB Penabur, Gereja Pertama di Solo Berdasarkan Filosofi Keraton Kasunanan

Sejarah dan Makna Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Penabur

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Penabur, yang berlokasi tepat di Gladak atau persimpangan dua jalan utama kota Solo yakni Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Jenderal Sudirman, bisa dikatakan sebagai saksi perkembangan Kota Bengawan. Tempat ibadah untuk umat kristiani tersebut merupakan gereja pertama yang dibangun di Kota Solo. Dari prasasti yang terdapat di sisi selatan gedung utama Gereja dengan bertuliskan bahasa latin ‘Aedificatum 1832’ atau artinya didirikan pada tahun 1832.

Meski terbilang bangunan lawas dan minim perubahan sejak didirikan, gereja yang memiliki jemaat mencapai 150 kepala keluarga (KK) atau sekitar 450 jemaat tersebut baru resmi dicantumkan sebagai bangunan cagar budaya pada akhir tahun 2024 lalu. Baru diperhatikan sebagai bangunan cagar budaya, nyatanya GPIB Penabur merekam banyak memori kejadian di Kota Solo dari masa kerajaan hingga kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebagai contoh, Pendeta GPIB Penabur Kota Solo Handri Yonathan menuturkan. Berdirinya gereja tersebut menjadi penanda berakhirnya Perang Diponegoro. Berakhirnya Perang Jawa tersebut pun juga jadi penanda keluarnya warga eropa di massa itu dari dalam benteng.

“Gereja ini dibangun persis setelah perang Diponegoro selesai 1830. Itulah kemudian kenapa orang-orang kristen yang tadinya ibadah di dalam benteng keluar lalu membangun Gereja,” ungkap Handri saat ditemui, Rabu (17/12/2025).

Tak hanya sebagai penanda keterbukaan Kristen kepada masyarakat umum. Pembangunan Gedung GPIB Penabur disebut Handri tak lepas dari campur tangan pemerintah setempat saat itu. Pemerintah setempat yang dimaksud kala itu adalah Keraton Kasunanan Solo. Dimana pembangunan GPIB Penabur pada pertengahan abad ke-19 itu mengikuti filosofi Jawa yang dianut oleh Kerajaan. Dimana pembangunan tempat ibadah umat kristiani itu segaris lurus dengan keberadaan Masjid Agung Keraton Solo dan Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan.

Seperti di Yogyakarta, Handri menyebut bahwa Keraton Kasunanan Solo memiliki garis tak kasat mata atau yang juga disebut Sumbu Imajiner dari Pantai Selatan Jawa, Keraton Solo, Tugu Pemandengan di depan Balai Kota saat ini hingga ke Gunung Lawu. Dan pembangunan rumah ibadah kala itu diperintahkan untuk didirikan di sisi kiri atau barat sumbu imaginer tersebut.

“Ini hasil informasi saat saya menulis sejarahnya ketika saya wawancara dengan Gusti Dipo. Itu kalau ada sumbu imajiner Keraton dari Selatan ke Utara, itu gereja bersama dengan Masjid Agung dengan Santo Antonius itu berada di sebelah kiri sumbu imajiner itu dari Keraton, tugu pemandengan sampai di Gunung Lawu,” tutur Handri.

Pembangunan tersebut diyakini sebagai bentuk implementasi filosofi atau ajaran Islam yakni Habluminallah atau hubungan manusia dengan Tuhan. Posisi GPIB Penabur di Solo pun disebut Handri juga seperti yang ada di Yogyakarta.

“Jadi rumah-rumah ibadah itu ada di sisi sebelah kiri sumbu. Menurut Gusti Dipo itu maknanya adalah Habluminallah (hubungan dengan Tuhan). Sementara di sisi kanan sumbu imajiner itu ada benteng, barak tentara, kemudian bioskop dan pasar Gede itu menunjukkan Habluminanas (hubungan antar manusia),”

“Nah, menariknya adalah tata ruangnya itu sama persis dengan di Yogyakarta. Jadi keraton, ada sumbu imajiner ke tugu Yogya sampai ke Gunung Merapi itu sama. Gereja GPIB di Yogya posisinya sama persis seperti GPIB di Surakarta. Jadi filosofi Belanda, filosofi Jawa, filosofi Islam itu bercampur menjadi satu,” lanjut dia.

Selain terkait tata letak pembangunan gedung gereja, Handri juga menerangkan bahwa masih ada sejumlah hubungan khusus antara GPIB Penabur dengan Keraton Solo. Salah satu yang masih bisa dilihat sampai saat ini adalah keberadaan lonceng gereja yang diletakkan tepat di atas pintu masuk utama GPIB Penabur. Menurut Handri, lonceng yang berada di GPIB Penabur sejak didirikan tersebut kembar atau persis seperti yang dimiliki oleh Keraton Solo.

Sebagai informasi, lonceng gereja tersebut dibunyikan sebagai pertanda ibadah akan digelar di gereja bagi jemaat yang bertempat tinggal di sekitarnya.

“Lonceng, dulu waktu gereja ini dibangun. Belanda itu membuat 2 lonceng, satu di gereja, satunya di keraton,” kata dia.

Fakta menariknya, lonceng yang dimiliki oleh GPIB Penabur acap kali ditawar oleh kolektor baik dalam negeri maupun mancanegara. Meski berbahan dasar besi tua, namun menurut Handri dari penilaian para kolektor lonceng tersebut bernilai tinggi karena usianya.

“Sudah banyak yang menawar mau beli loncengnya dengan harga yang nggak masuk akal. Saya mendapat informasi dari orang-orang tua di Gereja, pada tahun 1980-an ada yang mau menawar dengan diganti lonceng baru ditambah uang Rp 100 juta,” urainya.

Selain lonceng, pembangunan GPIB Penabur meski bergaya gereja klasik ala Belanda. Handri juga menduga ada sentuhan Jawa di dalamnya seperti interior pintu.

“Dugaan saya adalah interior seperti pintu dan engsel, ini yang menjelaskan ke saya adalah orang arsitektur dimana engsel pintunya itu ditanam di tembok. Gaya seperti ini katanya sudah tidak digunakan lagi untuk bangunan modern seperti sekarang,” pungkasnya.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *