Film Mimpi Keluarga Sempurna yang Menggugah Perhatian
Film Mimpi Keluarga Sempurna yang luar biasa ini, dibuat oleh sutradara Bagas Satrio, adalah sebuah karya sinematik yang menggugah perasaan. Film ini menceritakan tentang harapan dari orang tua terhadap masa depan anaknya. Dibintangi oleh aktris muda berbakat Aisha Nurra Datau sebagai siswi, yang merupakan putri dari Della Dartyan sebagai ibunya.
Secara spesifik, dalam ceritanya, Nurra memainkan peran sebagai Dere, seorang siswa SMA dengan hobi dan prestasi di bidang non-akademik yang membutuhkan kreativitas. Ia merupakan anak yang rajin dan sangat menuruti perkataan ibunya, sosok yang sangat dominan. Hal ini terbukti saat ia menuruti permintaan ibunya untuk pindah ke Jogja dan memilih jurusan Kedokteran ketika lulus dari bangku sekolah.
Hidupnya kemudian berubah ketika ia dipindahkan dari sekolah sebelumnya karena berkelahi. Perkelahian ini seolah menjadi simbol pertama perlawanan batinnya yang terpendam. Ketika mereka berpindah ke Jogja dari tempat asal sebelumnya, Dere disambut dengan beberapa teman barunya yang cukup aktif dan bebas berekspresi. Namun, pada saat berpindah sekolah, Dere masih takut untuk menyapa dan berbicara kepada temannya. Karakter pendiam ini menyoroti bagaimana Dere terbiasa hidup di bawah kendali, sehingga kesulitan untuk berinisiatif sosial.
Pada hari kedua bersekolah, Dere mulai memberanikan dirinya untuk berkomunikasi dengan wajah yang sedikit ragu, menunjukkan perjuangan internalnya. Akan tetapi, ketika Dere melihat keseruan pada sifat temannya, ia merasa satu frekuensi dengan mereka dan mulai merasa nyaman. Teman-teman baru ini berfungsi sebagai katalisator, membuka mata Dere pada kemungkinan hidup yang berbeda dari ekspektasi sebelumnya.
Saat tahu ternyata Dere di sekolahkan pada sekolah yang menjuruskan lulusan sekolahnya untuk melanjutkan ke jurusan kedokteran karena pesan ibunya terhadap wali gurunya, Dere sedikit tertekan karena keputusan ini tidak sesuai dengan apa yang disenangi Dere selama ini. Inilah titik balik yang krusial. Kondisi ini menjadikannya sering pulang larut dan mencoba hal-hal yang lebih ia sukai. Kegiatan di luar rumah ini adalah bentuk perlawanan pasif yang dilakukan Dere.
Dengan kelakuan Dere yang sudah mulai cukup aneh di mata ibunya, seperti ada kebohongan yang ia langgar, hal ini menjadi pendam amarah untuk ibunya dan memaksa Dere untuk sekolah yang rajin, les, dan menjadi lulusan baik dengan nilai yang cukup untuk mendaftarkan pada Perguruan Tinggi ternama di Jogja. Reaksi sang ibu yang represif ini mencerminkan rasa takut dan kegagalan yang diproyeksikan kepada sang anak.
Sesaat mereka beristirahat bersama, ibunya pun memberitahukan kepadanya dengan rasa kasih sayang, tetapi penuh penekanan, bahwa impian untuk anaknya bisa menjadi seorang dokter adalah mimpi ibunya yang sudah merasakan pahitnya hidup. Mar berdalih supaya Dere dapat menjadi seorang yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Pengakuan ini, meskipun bertujuan baik, sebenarnya membebani Dere dengan trauma dan mimpi yang bukan miliknya.
Namun, Dere semakin merasa tertekan dan melawan ibunya yang terlalu mengekang keinginannya sehingga susah untuk bisa didukung. Hal ini membuat Dere meluapkan amarah kepada ibunya dan ibunya pun terpancing emosi yang selama ini dipendam. Konfrontasi ini adalah puncak dari konflik yang tak terhindarkan. Sehingga tekanan mental terjadi pada Dere dan ibunya. Penyampaian konflik yang realistis ini patut diacungi jempol, tidak hanya fokus pada penderitaan anak, tetapi juga beban emosional sang ibu.
Akhirnya, Dere mulai menyadari ternyata selama ini sang ibu tak sempurna seperti yang ia kira. Persepsi ini muncul karena membandingkan dengan orang tua pada teman Dere yang sangat menyayangi tetapi juga membebaskan anak berekspresi dan memberi dukungan pada apa yang ia suka. Perbandingan ini menonjolkan sudut pandang anak yang mencari validasi dan kebebasan yang tidak ia dapatkan di rumah.
Beberapa orang cukup merasa related dengan film ini karena mungkin mereka merasakan kekangan tersebut juga terjadi dalam kehidupan. Ada juga yang sampai meneteskan air mata ketika selesai menonton film ini karena merasa ketrigger dengan ending yang bisa dibilang puncak emosi yang bisa dirasakan oleh penonton. Hal ini membuktikan kekuatan naratif film dalam memantik empati kolektif tentang isu parental pressure di masyarakat.
Pada hal ini, saya cukup bisa merasakan dan masuk ke dalam emosi yang diceritakan melalui audio visual. Dengan permainan lighting dan cinematography yang matang dan sinergis membuat pesan yang ingin disampaikan dari pembuat film bisa tersampaikan dengan nikmat dan dirasakan oleh kita. Penggunaan bahasa visual ini berhasil menciptakan suasana yang kelam namun intim, memperkuat isolasi yang dirasakan Dere.
Dengan pesan yang ada pada film ini, bisa diambil pelajaran untuk kita ke depan. Bahwa jangan terlalu mengekang anak dan menjadikannya merasa tidak dihargai. Berikan dukungan pada anak terhadap yang ia sukai namun juga diberi pengarahan jika memang apa yang dilakukan kurang bisa menjadi hal yang baik untuk masa depan anak.
Film ini mengajarkan tentang pentingnya keseimbangan antara cinta, harapan, dan otonomi diri. Karena jika dikomunikasikan sejak awal dan keduanya saling mengerti, mungkin saja ada jalan lain yang lebih direstui sehingga tidak membuat keduanya saling salah dan marah.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











