"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Harga Kebutuhan Pokok Aceh Melonjak 100 Persen, Telur Rp200 Ribu Per Papan

Kondisi Darurat di Aceh: Harga Pangan Melonjak dan Akses Listrik Terhambat



Di tengah situasi bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda lebih dari separuh wilayah Aceh, masyarakat kini menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Harga barang kebutuhan utama seperti telur, ikan, cabai, dan beras melonjak tajam, sementara akses terhadap listrik dan BBM menjadi semakin sulit.

Lonjakan Harga Pangan yang Membuat Khawatir

Rahmiana Rahman, seorang warga Banda Aceh yang juga menjadi relawan kemanusiaan, menyampaikan bahwa harga pangan meningkat hingga 100 persen. Telur misalnya, sebelumnya dijual dengan harga normal sekitar Rp 50 ribu per papan, kini naik drastis menjadi Rp 150-200 ribu per papan. “Itu kenaikannya seratus persen,” ujar dia.

Selain telur, harga ikan yang tidak segar juga mencapai Rp 70 ribu per kilogram, sedangkan cabai dijual dengan harga antara Rp 80 hingga 100 ribu per kilogram. Harga ini jauh di atas harga biasanya yang hanya berkisar Rp 30 ribu per kilogram. Bahkan, beras dengan kualitas biasa dijual dengan harga Rp 260 ribu per sak. Sementara itu, kue-kue basah di pasar kini dijual dengan harga Rp 3 ribu per buah, naik dua kali lipat dari harga sebelumnya.

Kebutuhan Penerangan dan Air Bersih yang Mendesak

Kondisi listrik yang masih belum pulih menjadi salah satu masalah utama. Rahmiana menjelaskan, meskipun cuaca mulai cerah, pasokan listrik tetap tidak stabil. “Listrik mati lampu selama 24 jam, lalu nyala sebentar, lalu mati lagi,” katanya.

Listrik yang tidak stabil sangat berdampak pada akses air bersih. Masyarakat Aceh bergantung pada sumur bor yang menggunakan mesin pompa. Tanpa listrik, mereka kesulitan mendapatkan air bersih. Sementara itu, air dari saluran PAM pun tidak dapat diandalkan karena masih berlumpur.

Kesulitan Mendapatkan BBM

Meski pom bensin tetap beroperasi, antrean panjang menjadi kendala utama bagi masyarakat. Rahmiana mengatakan, antrean bisa mencapai tiga jam atau bahkan lebih. “Pom-pom bensin tetap buka. Karena Pertamina sudah bilang stoknya aman. Tetapi, untuk bisa isi bensin, atau solar itu antreannya bisa tiga jam lebih,” ujarnya.

Selain itu, pedagang bensin eceran juga tidak memiliki stok yang cukup untuk dipasarkan. Hal ini membuat masyarakat semakin kesulitan dalam mengakses energi.

Kebutuhan Mendesak di Aceh Tamiang

Di wilayah Aceh Tamiang, kondisi lebih parah. Akses jalan terputus akibat bencana, sehingga masyarakat di Desa Baling Karang masih belum menerima bantuan. Rahmiana menyebutkan, ada lebih dari 63 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 150-an warga yang terisolasi.

“Kalau ada bantuan paling bagus kalau lewat udara. Karena jalan darat, benar-benar terputus ke wilayah itu,” ujar dia.

Di jalur darat antara Langsa dan Aceh Tamiang, banyak warga yang mulai menyetop mobil-mobil relawan yang membawa bantuan demi mendapatkan stok pangan. Meski penjarahan tidak terjadi, tindakan ini membuat distribusi bantuan menjadi lebih rumit.

Perlu Kebersamaan dalam Penyelamatan

Rahmiana menekankan bahwa gejala masyarakat yang khawatir akan kebutuhan makanan adalah hal wajar. Namun, ia berharap masyarakat yang terkena bencana bisa memahami bahwa ada warga lain yang juga membutuhkan bantuan serupa. Dengan kerja sama dan kesadaran kolektif, harapan besar dapat terwujud untuk mempercepat proses penyelamatan dan pemulihan di Aceh.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *