Petani di Aceh Terjebak Banjir Bandang Selama Tiga Hari
Petani Desa Lhok, Pidie Jaya, Aceh, Rachmadi mengalami pengalaman yang sangat berat akibat banjir bandang yang menerjang wilayahnya. Selama tiga hari, ia harus menahan lapar sementara dahaga hanya bisa dipuaskan dengan air hujan. Keluarganya terjebak dalam banjir yang mencapai ketinggian 2 meter, namun beruntung rumah dua lantai mereka memberikan kesempatan bagi keluarga untuk menyelamatkan diri ke lantai atas.
Rachmadi yakin bahwa banjir lumpur ini adalah bencana terparah yang pernah melanda daerah tersebut. Kerugian besar terjadi pada sektor pertanian dan properti, dengan enam rumah dilaporkan hilang tanpa bekas. Di dalam rumahnya juga tinggal beberapa keluarga lain, termasuk kakaknya yang merupakan pasien cuci darah. Saat banjir menerjang, persediaan oksigen di rumah habis, sehingga membuat kakaknya meninggal dunia.
“Abang kandung saya meninggal di rumah. Dia pasien cuci darah. Kena giliran cuci hari Rabu itu. Sesak dia. Oksigen yang ada di rumah habis,” ujar Rachmadi saat ditemui di Meunasah Lhok yang menjadi tempat pengungsian sementara.
Setelah bertahan selama tiga hari, keluarga Rachmadi akhirnya berhasil keluar meski tidak ada evakuasi resmi. Mereka menggunakan kayu gelondongan yang berserakan setelah hujan yang mengguyur Pidie Jaya selama tiga hari berturut-turut mulai mereda. Rachmadi dan ustaz yang tinggal di rumahnya juga memiliki bayi saat banjir menghantam. Masing-masing berusia 20 dan 21 hari. Setelah berhasil keluar dari isolasi, Rachmadi mengungsikan keluarganya ke rumah mertuanya.

Para pengungsi banjir Pidie Jaya, Aceh, tinggal sementara di meunasah kampung. Sekitar tujuh puluh lima keluarga tinggal berdesak-desakan di pengungsian, Senin (1/12/2025).
Sementara Rachmadi mengordinasikan posko banjir di Desa Lhok, ia menjelaskan bahwa banjir ini dipicu oleh hujan deras yang terjadi selama tiga hari berturut-turut, namun diperparah secara signifikan oleh penggundulan hutan di kawasan gunung yang diubah menjadi perkebunan sawit. Menurut Rachmadi, penggundulan hutan di gunung membuat air langsung mengalir deras ke pemukiman. Akibatnya, lumpur dan kayu gelondongan turun dari gunung secara tiba-tiba, berbeda dengan pola banjir biasa yang naik perlahan. Banjir kali ini tidak mereda seperti biasanya, melainkan terus naik, membuat warga tidak sempat bersiap.
Mata pencaharian utama warga Desa Lhok adalah petani. Sawah Rachmadi, seluas 27 dale (satu hektare setara empat dale) terendam lumpur dan tidak dapat dipanen. Ia mengaku belum dapat menyebutkan angka kerugian secara pasti. Selain rumah dan sawah, mobil dan motor warga terendam lumpur. Rachmadi mengatakan sebagian mobil sempat terlihat hanya atapnya saja.
Rachmadi juga mencatat perubahan tata ruang kampung yang terjadi karena sungai mencari jalannya sendiri, sementara area hutan kini menjadi jalur lalu lintas air. Skala bencana kali ini belum pernah terjadi sebelumnya, ditunjukkan dengan terendamnya empat dusun yang sebelumnya tidak pernah terdampak banjir.
Dalam situasi darurat, isu tsunami sempat beredar, menimbulkan kepanikan. Rachmadi mengatakan pihak berwenang sudah menangkap lima orang pencuri yang ingin memanfaatkan kekacauan akibat banjir.
Sejumlah warga Desa Lhok Ang yang terletak tidak jauh dari Desa Lhok juga terjebak banjir bandang selama tiga hari. Warga Desa Lhok Ang, Hidayat mengatakan banyak warga desanya yang harus menahan lapar karena tidak ada persediaan makanan dan tidak bisa kemana-mana. Seperti Rachmadi, Hidayat juga yakin banjir bandang yang terjadi pada Rabu (27/11/2025) lalu dipicu penggundulan hutan. Hidayat dapat menunjukkan gelondongan kayu yang hanyut bersama banjir. Kayu-kayu itu menghancurkan rumah warga dan berserakan di jalanan desa.
Hidayat, warga Desa Lhok Ang, menjelaskan soal tumpukan gelondongan kayu yang hanyut bersama banjir bandang di tepi Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, Selasa (2/12/2025). Hidayat menunjukkan kayu-kayu yang datang bersama dengan air, terlihat terpotong rapi seperti ditebang. Bukan pohon-pohon yang tercerabut dari akarnya.
“Pegunungan kan tidak rindang lagi, tergantikan oleh perkebunan sawit,” kata Hidayat.
Hasil studi lembaga think-tank Celios menunjukkan kerugian bencana ekologis yang dipicu alih fungsi lahan karena deforestasi sawit dan pertambangan di Provinsi Aceh pada akhir November lalu mencapai Rp2,2 triliun. Sementara Sumatera Utara diproyeksi kehilangan Rp2,07 triliun dan Sumatera Barat Rp2,01 triliun. Celios menegaskan sumbangan tambang dan sawit bagi provinsi Aceh tak sebanding dengan kerugian akibat bencana yang ditimbulkan.
Celios mencatat secara keseluruhan bencana ekologis di Sumatera periode November 2025 diproyeksi telah mengakibatkan kerugian ekonomi Rp68,67 triliun. Angka ini mencakup kerusakan rumah penduduk, kehilangan pendapatan rumah tangga, rusaknya fasilitas infrastruktur jalan dan jembatan serta kehilangan produksi lahan pertanian yang tergenang banjir-longsor.
Dengan temuan ini Celios mendesak pemerintah segera moratorium izin tambang dan perluasan kebun sawit. Namun bukan dari hasil penelitian yang digelar jauh di Jakarta, para petani tahu perkebunan sawit yang menghancurkan desa mereka.











