"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Bisnis  

Ketika Pabrik Berhenti: Perjuangan Eks Karyawan Sritex Pasca-PHK, Jamsostek Jadi Harapan

Kisah Haru Eks Karyawan Sritex yang Berjuang di Tengah PHK Massal

Di sebuah kios kecil bertuliskan Es Teh Vektor, di Jalan Rajawali Mojotegalan, Joho, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, aroma wangi teh manis menyeruak. Seorang ibu muda tampak sibuk meladeni pembeli es teh, dan sesekali melirik rumahnya, lantaran anaknya yang masih berusia 4 tahun tertidur pulas di dalamnya.

Kios kecil itu bukan sekadar tempat berjualan saja. Ia adalah perahu penyelamat bagi Anjar Utami (30), eks karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), setelah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal menghantam raksasa tekstil itu pada Februari 2025.

Anjar masih ingat betul bagaimana hidupnya seolah berhenti seketika saat gelombang PHK massal ‘menyatroni’ perusahaan yang telah berdiri lebih dari setengah abad tersebut. Ia merasa seperti ditarik ke pusaran kecamuk perasaan, antara harus ikhlas, tidak percaya, takut akan masa depan, dan getir menerima kenyataan bahwa rumah keduanya itu kini tinggal kenangan.

Baginya, Sritex bukan sekadar tempat bekerja, melainkan tempat ia menambatkan harapan, hingga kabar penutupan itu datang menghantam lebih keras daripada yang pernah ia bayangkan.

Saat itu berbagai tanda tanya muncul dari segala arah kehidupannya, termasuk apakah keuangan keluarganya bakal cukup tanpa pemasukan darinya, dan hanya mengandalkan pendapatan suami? Bagaimana pendidikan anak? Kapan bisa menyicil membeli rumah?

Pertanyaan yang bahkan dirinya pun tak bisa mencerna saat itu. Hingga hatinya yang berkecamuk sedikit melega ketika dana Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan cair di rekeningnya.

Dua dana dari program Jamsostek, yakni Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Saat menceritakan program Jamsostek itu, Anjar tampak menarik dan menghembuskan napas panjang.

“Waktu itu JHT buat kebutuhan hidup, untuk bertahan hidup, ya bayar listrik, untuk beli sembako, kebutuhan anak,” lanjutnya. Dana JHT sebesar Rp 11 juta serta dana JKP cair tepat ketika ia benar-benar berada di ujung tanduk.

Jumlah yang bagi sebagian orang mungkin kecil, namun bagi Anjar dan keluarga kecilnya, uang itu menjadi penyambung hidup dan pijakan pertama untuk kembali bangkit.

Putar Otak di Tengah Kecemasan

Di tengah kecemasan tanpa gaji bulanan, Anjar dan suaminya, yang menjalankan usaha stiker motor kecil-kecilan di belakang kios es teh mereka, harus bekerja sama mempertahankan keuangan rumah tangga mereka. Mereka tinggal mengontrak di ruko satu petak, 4 x 4 meter, yang sekaligus menjadi tempat usaha sang suami.

Anjar tak ingin JHT habis hanya untuk kebutuhan harian. “Piye carane duit iki iso diputer dadi usaha?” (Bagaimana caranya uang ini bisa diputar menjadi usaha?), kenang Anjar tentang pergulatannya saat itu.

Dengan keberanian bercampur nekat, ia mengambil Rp 5 juta dari dana JHT sebagai modal membuka warung es teh. Keputusan itu berat, namun ia tahu harus melakukannya demi masa depan keluarga. Ruko kecil itu kini dipenuhi warna-warni minuman dan camilan, namun es teh tetap menjadi primadona.

Dalam sehari, ia bisa menjual sekitar 50 cup, menghasilkan omzet Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. “Uang BPJS Ketenagakerjaan ini betul-betul menolong saya,” kata perempuan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) itu.

Kenangan di Pabrik Raksasa yang Pernah Berjaya

Sritex dulu adalah rumah kedua bagi Anjar sejak ia mulai bekerja pada 2016. Bertugas di bagian cutting dengan gaji sekitar Rp 2,2 juta per bulan, ia tak pernah membayangkan pabrik sebesar itu akan berhenti beroperasi. Gonjang-ganjing soal kemungkinan penutupan memang sudah terdengar lama, namun tetap saja kabar PHK massal membuat dadanya sesak.

Meski telah menerima kenyataan, hingga kini Anjar masih menanti hak-haknya berupa pesangon dan Tunjangan Hari Raya (THR) yang belum dicairkan. “Yang jelas kami betul-betul mengharapkan pesangon dan THR. Perjuangan kami masih panjang, anak kami harus sekolah, dan saya ingin bisa nyicil rumah biar nggak ngontrak lagi,” tutur perempuan asli Sukoharjo, Jawa Tengah tersebut.

Kini, bersama rekan-rekannya yang senasib, Anjar masih saling menyemangati lewat ponsel. Mereka tetap berjuang di tengah ekonomi yang tak pasti, mengeratkan ikat pinggang sembari berharap keadilan bagi para korban PHK.

Harapan yang Masih Mereka Genggam

Hingga akhirnya di ruko kecil itu, Anjar terus meracik minuman dengan senyum mengembang yang perlahan mulai menunjukkan keikhlasan, sembari berharap satu hal: hak pesangon dan THR-nya akhirnya cair. Di Klaten, Harmoko akan kembali banting tulang bekerja di kabupaten lain, di konveksi kecil-kecilan, serta mengatur kendaraan sebagai tukang parkir, melanjutkan perjuangan sebagai pahlawan rupiah untuk keluarganya.

Keduanya, bersama ribuan eks pekerja Sritex lainnya, masih berjalan di lorong penuh perjuangan. Namun di tengah pahitnya kehilangan pekerjaan, JHT dan JKP BPJS Ketenagakerjaan menjadi setitik terang yang memberi ruang bagi mereka untuk kembali berdiri. Mereka menunggu, berharap, dan tetap bekerja sekeras yang mereka bisa, agar hidup terus berjalan.





Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *