"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Korban Banjir Aceh: Lapar, Jalan Putus, Listrik Padam

Kondisi Darurat di Aceh Timur

Kondisi darurat terus berlangsung di Aceh Timur, khususnya di Idi Reyeuk, ibu kota Kabupaten Aceh Timur. Warga dan pengungsi mengalami kesulitan yang sangat parah akibat banjir dan tanah longsor yang terjadi sejak beberapa hari lalu. Akses jalan terputus, listrik padam, dan sinyal telekomunikasi tidak stabil, membuat warga terisolasi dari dunia luar.

Haji Muhammad alias Cek Mad (43), seorang wartawan harian Waspada, mengungkapkan kondisi tersebut melalui pesan instan di WhatsApp Group (WAG) Media Center Haji (MCH), 2023, Ahad atau Minggu (30/11/2025). Ia menulis, “Kawan-kawan semua, kami di Aceh Timur mulai kelaparan. Akses jalan putus, listrik padam.” Pesan ini dikirim melalui gawai dengan kapasitas baterai cadangan hanya 15 persen.

Untuk mengakses jaringan internet, Cek Mad dan ratusan pengungsi harus antre di kantor Bupati. Hanya di kantor pemerintah kabupaten berpenduduk 450 ribu jiwa itulah, telekomunikasi selular dapat diakses. “Saat ini saya dapat sinyal darurat di pendopo bupati. Itupun mungkin hanya sesaat,” tulis wartawan bertubuh tambun ini, pukul 01.25 Wita.

Selama lima hari, warga terisolir dalam arti sesungguhnya. Sinyal HP hilang, listrik padam, dan mereka terkurung karena ketinggian air sejak hari Selasa mencapai lebih dari 2 meter. Cek Mad dan sekitar 150 ribu warga Idi Reyeuk, sejak Selasa (25/11/2025) lalu, terkurung air dan lumpur basah dari sisa banjir serta longsoran di pegunungan utara Bukit Barisan, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Idi Reyeuk adalah kawasan pesisir di barat pulau Sumatera. Sebelumnya, ibu kota berada di Kota Langsa, namun dipindahkan ke Idi Reyeuk setelah disetujuinya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2001 dan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2007. Bertetangga dengan Langsa, Aceh Timur, Aceh Tamiang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara. Jarak Aceh Timur ke Banda Aceh sekitar 371 km, membutuhkan 8 jam berkendara. Idi Reyeuk lebih dekat ke Medan, sekitar 210 km. Di utara, berbatasan dengan Selat Malaka di bagian utara.

Akses dari Banda Aceh ke Idi Reyeuk melintasi jalan poros negara, via Jl Banda Aceh – Medan atau Jalan Lintas Sumatera. Sudah lima hari akses Trans Sumatera terputus di sejumlah titik.

Nur Arnita, aktivis Lingkar Temu Kabupaten Lestari, menyebut skala dampak bencana hidrometeorologi ini menimpa 10 kabupaten di NAD. Dalam rilisnya, ia menyebut bahwa 10 kabupaten/kota telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi; Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Lhokseumawe, dan Aceh Tamiang.

Di Aceh Tamiang dan sebagian Aceh Timur, banjir dan tanah longsor menerjang empat kecamatan dengan 3.824 KK / 10.342 jiwa terdampak, menyebabkan 3.460 KK / 9.274 jiwa mengungsi. Hal ini melumpuhkan berbagai aktivitas ekonomi, layanan publik, serta akses transportasi utama, termasuk jalur Medan–Banda Aceh.

Kota Kualasimpang, salah satu pusat kegiatan utama di Aceh Tamiang, dilaporkan lumpuh pada 26 November 2025 dengan ketinggian air mencapai tiga meter di sejumlah titik. Rumah warga, fasilitas umum, serta jaringan kelistrikan turut terdampak oleh banjir dan angin kencang yang merobohkan sejumlah infrastruktur. Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi yang memimpin langsung operasi pengendalian bencana menyebut ada 70 rumah yang terendam banjir di daerah ini.

Pada 26 November 2025, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menetapkan Status Tanggap Darurat Banjir, setelah menerima laporan potensi risiko dari seluruh kecamatan. Pemerintah daerah mengerahkan BPBD, Damkar, Satpol PP, WH, dan dukungan alat berat untuk penanganan titik-titik kritis seperti tanggul jebol dan longsor, termasuk penataan lokasi pengungsian dan pemastian ketersediaan logistik dasar.

Dinas Sosial Aceh menginstruksikan Taruna Siaga Bencana (Tagana) di seluruh kabupaten/kota untuk siaga penuh, dengan prioritas pada kelompok rentan.


Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *