Menteng: Kehidupan di Balik Kemewahan
Di balik kemewahan dan keindahan yang terlihat dari kawasan Menteng, Jakarta, tersembunyi realitas yang jarang diketahui oleh masyarakat luas. Di sini, warga kolong tinggal di trotoar, tepi rel, dan bawah jembatan. Mereka menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan sekitarnya, yang penuh dengan gedung-gedung resmi dan rumah mewah.
Kehadiran mereka menjadi gambaran nyata bagaimana ruang kota digunakan oleh kelompok termarjinalkan untuk bertahan hidup. Di antara gedung pemerintahan, museum, hingga hunian kelas menengah atas, komunitas warga jalanan ini bertahan dengan pekerjaan serabutan dan tempat tinggal seadanya.
Kehidupan di Tepi Rel
Jalan Latuharhary pada siang hari memancarkan ketenangan khas kawasan elite, dengan gedung-gedung resmi dan rumah mewah berjajar rapinya. Namun beberapa meter dari jalur utama, trotoar sempit, pagar bata penuh grafiti, dan tepi rel menjadi tempat tinggal sementara bagi warga yang hidup tanpa rumah tetap.
Di sepanjang trotoar, sejumlah orang beristirahat di atas tikar tipis, ditemani tas plastik dan gerobak yang menyimpan seluruh harta mereka. Di tepi rel, deretan karung dan botol bekas menunggu dijual, simbol mata pencaharian yang tak pernah benar-benar selesai.
Cerita Warga Kolong
Ale (40), warga asal Bogor, mengisahkan awal mula menetap di rel Latuharhary. “Saya sudah hampir dua tahun di sini. Awalnya cuma numpang lewat, nyari barang bekas. Lama-lama susah, jadi saya bertahan saja,” ujarnya.
Setiap hari ia menyusuri gang hingga Pasar Rumput mencari barang bekas. “Kalau sepi, cuma dapat Rp 7.000. Kalau ramai, bisa Rp 15.000 per gerobak,” katanya.
Penertiban sudah menjadi bagian hidupnya. “Pernah, terutama di kolong jembatan. Kami disuruh pergi, tapi mau ke mana? Ya akhirnya keluar ke pinggir trotoar. Kalau ada razia malam, kami minggir dulu,” tuturnya.
Ale tidur beralaskan kardus dan menjaga barangnya dari pencurian. “Kalau hujan becek. Pernah juga hilang karung satu waktu,” ujarnya.
Karno (50) dari Banyumas juga memilih bertahan di pinggir rel. “Di sini agak aman, walau tetap harus waspada kalau malam. Sehari-hari saya mulung plastik, kardus, botol dari kantor atau pedagang pasar,” katanya.
“Kalau ramai, bisa dapat Rp 50.000–60.000. Kalau sepi, paling Rp 10.000–20.000,” lanjutnya.
Sarwono (42) memilih titik dekat Kantor Komnas HAM untuk tinggal bersama istri dan anaknya. “Saya pilih tempat agak lapang, lampu terang, dekat kantor pemerintah. Malam tetap waspada. Gerobak kami taruh di depan sebagai penghalang,” ujarnya.
Sukinem (38) telah setahun hidup di tepi rel. “Anak saya dua tinggal di Brebes. Suami sudah tidak ada. Saya ke sini cari uang. Rata-rata sehari bisa dapat Rp 30.000–40.000,” katanya.
Meski sering digeser aparat, ia tetap kembali. “Saya engga punya uang buat nyewa kontrakan, buat makan saja susah,” tuturnya.
Respons Warga Sekitar dan Aparat
Kepala Satpol PP Jaksel, Nanto Dwi Subekti, mengatakan penanganan dilakukan secara humanis. “Saat ini kita hanya penjangkauan/patroli rutin. Kalau ada yang bandel baru dilakukan penertiban. Kalau kedapatan saat operasi PMKS, kita kirim ke panti sosial,” katanya.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah konsistensi patroli. Ningsih (46), pemilik warung, menyebut warga kolong kerap kembali ke lokasi lama. “Ada bantuan, tapi tidak banyak mengubah perilaku mereka. Kayaknya memang memilih hidup di jalan,” ujarnya.
Riyan (31), tukang ojek, punya pandangan serupa. “Mereka sudah biasa hidup di jalan. Kalau tidak ada alternatif, ya balik lagi ke trotoar atau kolong,” katanya.
Analisis Perkotaan
Pengamat perkotaan Yayat Supriyatna menegaskan keberadaan warga kolong tidak terjadi tanpa alasan. “Ruang paling gratis dan mudah bagi warga yang kurang beruntung. Struktur pendapatan mereka sangat terbatas, termarjinalkan,” katanya.
Ia menjelaskan pemilihan lokasi memiliki logika ekonomi. “Kalau mereka menjadi pemulung, kawasan permukiman elite seperti Menteng menyediakan banyak sampah yang bisa didaur ulang,” ujarnya.
Gerobak yang mereka bawa pun punya fungsi kombinasi. “Gerobak berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus alat kerja,” kata dia.
Yayat menambahkan pentingnya komunitas sebagai jaringan perlindungan. “Kalau mereka punya komunitas, ada keberanian untuk mencari ruang yang bisa digunakan bersama, mereka memahami wilayah secara teritorial,” katanya.
Mobilitas warga kolong pun terukur. “Radius aktivitas mereka sekitar 1–3 km, mulai jam 8 pagi hingga malam,” jelasnya.
Fenomena ini, katanya, memperlihatkan hubungan erat antara kemiskinan, ruang kota, dan strategi bertahan hidup. “Kelompok ini termarjinalkan, namun mereka paham memilih tempat tinggal yang efisien, dekat mata pencaharian, aman dari gangguan, dan memiliki kemudahan sanitasi,” ujarnya.
Kehadiran warga kolong di Menteng menunjukkan bahwa di kawasan yang dikenal mewah dan tertata, masih ada kelompok masyarakat yang hidup dalam kondisi sangat rentan. Fenomena ini menjadi cermin nyata ketimpangan urban Jakarta, di mana ruang-ruang sisa kota tetap menjadi tempat berlindung bagi mereka yang tidak memiliki pilihan lain.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











