Sejarah dan Makna Lagu “The 12 Days of Christmas”
Menjelang Hari Raya Natal, berbagai lagu bertema perayaan mulai terdengar di ruang-ruang publik. Beberapa di antaranya bernuansa modern, sementara yang lain merupakan karya klasik yang telah berusia ratusan tahun. Lagu-lagu lama ini sering kali memiliki sejarah dan makna yang mendalam. Khususnya untuk lagu-lagu yang berasal dari bahasa asing, seperti The 12 Days of Christmas, arti sesungguhnya mungkin telah berubah atau tersembunyi.
Lagu yang kita kenal sekarang sebagai Twelve Days of Christmas ditulis oleh komposer Inggris bernama Frederic Austin pada tahun 1909. Meskipun begitu, penulis asli lagu ini masih belum diketahui dan lirik aslinya berasal dari buku anak-anak Mirth With-out Mischief. Lirik lagu ini telah diubah-ubah dan diadaptasikan oleh berbagai negara, bahasa, dan budaya baru. Namun, fungsi lagu ini dulunya adalah perkenalan agama Kristen ke dunia.
Sejarah dan Makna Sebenarnya
Sejak tahun 1558 hingga 1829, para umat Katolik Roma tidak diperkenankan untuk mempraktekkan kepercayaan mereka secara terbuka. Oleh karena itu, dipercaya bahwa seorang umat Katolik pada masa itu membuat lagu ini sebagai lagu katekismus untuk muda-mudi Katolik. Setiap lirik lagu ini memiliki arti yang lebih dalam dari yang terlihat. Dalam kata lain, tiap lirik mengandung kode-kode religius agar dapat dipahami oleh anak-anak.
Tokoh “True Love” yang disebut-sebut dalam setiap lirik lagu ini bukanlah seorang pacar sama sekali, namun Yesus Kristus. Berikut arti atau makna sebenarnya dari setiap lirik lagu:
-
A Partridge (ayam hutan) melambangkan Yesus Kristus. Hal ini karena burung tersebut dikenal memiliki sifat siap berkorban untuk melindungi anak-anaknya dengan berpura-pura terluka, agar predator lebih menyukainya.
-
Two turtle doves (dua burung tekukur) melambangkan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama.
-
Three French hens (tiga ayam Perancis) melambangkan keyakinan, harapan, dan cinta.
-
Four calling (colly) birds (empat burung hitam) merepresentasikan keempat Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
-
Five golden rings (lima cincin emas) melambangkan lima kitab pertama dalam Perjanjian Lama. Pada kelima kitab tersebut terceritakan bagaimana manusia jatuh ke dalam dosa dan kasih sayang Tuhan mengirimkan penyelamat.
-
Six geese a-laying (enam bebek bertelur) merepresentasikan enam hari penciptaan.
-
Seven swans a-swimming (tujuh angsa berenang) menyimbolkan tujuh talenta dari Roh Kudus. Yaitu nubuat, pelayanan, pengajaran, nasehat, kontribusi, kepemimpinan, dan belas kasihan.
-
Eight maids a-milking (delapan pemerah sapi) melambangkan delapan kebahagiaan. Menurut Matius 5:3-12, yaitu orang yang miskin, berduka cita, lemah lembut, lapar, murah hati, suci, pembawa damai, dianiaya.
-
Nine ladies dancing (sembilan perempuan menari) melambangkan sembilan buah Roh Kudus. Yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22-23).
-
Ten lords a-leaping (sepuluh pria berlompat) melambangkan sepuluh perintah Allah.
-
Eleven piper piping (sebelas peniup suling) merepresentasikan sebelas rasul yang setia.
-
Twelve drummers drumming (dua belas penabuh drum) mengartikan 12 poin dalam Pengakuan Iman Rasuli (Apostle’s Creed).
Lirik Lagu “The 12 Days of Christmas”
Berikut lirik lengkap dari lagu tersebut:
-
On the first day of Christmas my true love sent to me,
A partridge in a pear tree -
On the second day of Christmas my true love sent to me,
Two turtle doves,
And a partridge in a pear tree -
On the third day of Christmas my true love sent to me,
Three French hens,
Two turtle doves,
And a partridge in a pear tree.
Selanjutnya hanya ditambahkan satu lagi hadiah pada hari-hari berikutnya:
- Four calling birds
- Five gold rings
- Six geese a-laying
- Seven swans a-swimming
- Eight maids a-milking
- Nine ladies dancing
- Ten lords a-leaping
- Eleven pipers piping
- Twelve drummers drumming
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











