Seperti yang dilakukan oleh Gus M, yang menggunakan ceng-cengan dalam konteks yang tidak tepat, dan tidak sesuai dengan etika yang berlaku. Sikap yang seperti ini, yang justru menimbulkan konflik dan perpecahan di masyarakat. Jadi, sebagai manusia yang beradab, kita harus selalu berhati-hati dalam menggunakan kata-kata, terutama jika berada di tempat umum, dan dikelilingi banyak orang.
Ngeceng dalam Kehidupan Masyarakat
Ngeceng merupakan kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Betawi. Kegiatan ini menjadi sarana bagi masyarakat untuk saling mengenal satu sama lain, dan menjaga hubungan baik. Dengan Ngeceng, masyarakat dapat menyalurkan humor, dan candaan yang dapat menghibur. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak lama, dan menjadi kebiasaan yang turun temurun di masyarakat Betawi.
Ngeceng dalam Kehidupan Sehari-hari
Ngeceng juga dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak harus dilakukan di tempat yang formal. Kegiatan ini dapat dilakukan di tempat umum, seperti di pasar, di jalan, di kantor, dan di tempat lainnya. Dengan begitu, kegiatan ini dapat menimbulkan suasana yang lebih santai, dan membuat masyarakat lebih akrab satu sama lain.
Ngeceng dalam Situasi Tertentu
Ada beberapa situasi yang memungkinkan untuk melakukan kegiatan Ngeceng. Seperti yang dilakukan oleh Gus M, yang menggunakan ceng-cengan dalam suatu acara ceramah. Padahal, acara tersebut merupakan acara yang formal, dan dihadiri oleh banyak orang. Sehingga, kegiatan ini tidak sesuai dengan etika, dan dapat menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.
Ngeceng dengan Tujuan Positif
Ngeceng juga dapat dilakukan dengan tujuan yang positif. Seperti yang dilakukan oleh Gus M, yang ingin menertawakan tukang es yang belum laku dagangannya. Namun, jika kegiatan ini dilakukan dengan tujuan yang negatif, seperti untuk menyinggung orang lain, maka hal tersebut tidak patut dilakukan. Sehingga, kita harus selalu memperhatikan tujuan dari kegiatan Ngeceng yang kita lakukan.
Demikian intisari penelitian Darmani (1990), yang membahas tentang ceng-cengan sebagai tradisi lisan di masyarakat Betawi. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kejadian yang sedang ramai dibicarakan ini, dan selalu berhati-hati dalam menggunakan kata-kata. Terlebih lagi jika berada di tempat umum, dan dikelilingi oleh banyak orang. Jangan sampai, kegiatan Ngeceng yang seharusnya dapat menimbulkan keceriaan, justru menimbulkan konflik di tengah masyarakat. Mari kita jaga etika dalam berkomunikasi, dan saling menghargai satu sama lain.
marosdaily.com – Ahmad Sihabudin
KEGIATAN komunikasi akan selalu menimbulkan implikasi etis. Bahkan, sejak awal proses komunikasi di mana pun, terikat dan berstandar pada nilai-nilai etis tertentu. Dan nilai-nilai etis tersebut merupakan kristalisasi dari proses interaksi sosiologi sesama manusia dalam konteks dan setting sosio-kultural dan politik tertentu.
Publik sedunia sedang ramai membicarakan “satu kalimat” yang diucapkan oleh seorang dai kondang yang dikenal dengan nama Gus M. Kalimat tersebut membuatnya menjadi terkenal saat ini. Mungkin sang dai bermaksud untuk mengatakan bahwa orang Betawi adalah tukang es atau minuman yang belum laku terjual. Namun, ia salah menempatkan dan konteksnya saat mengucapkannya dalam suatu acara ceramah yang dihadiri oleh banyak jemaah dan ulama setempat yang duduk di panggung kehormatan.
Saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai kejadian tersebut karena sudah banyak yang mengulasnya secara komprehensif melalui tulisan, opini lisan, acara podcast, acara diskusi, lawakan, nyanyian jenaka di berbagai platform media, YouTube, dan lain-lain oleh para ahlinya. Hal ini membuktikan bahwa komunikasi manusia bersifat irreversible, tidak dapat diulang seperti waktu yang sudah berlalu.
Ketika pesan tersebut sudah keluar dari mulut kita, maka pesan tersebut bukan lagi milik kita tetapi menjadi milik khalayak yang menerimanya. Khalayak akan bebas menafsirkan dan memaknai pesan tersebut. Segala bentuk permohonan maaf sudah dilakukan baik kepada “korban” maupun khalayak luas. Namun, sifat irreversible yang tidak dapat diulang menjadikan permohonan maaf tidak berlaku dan tidak berpengaruh bagi publik netizen. Bahkan, setelah meminta maaf, dengan gaya dan karakter seorang dai, hal tersebut justru menjadi konten baru lagi bagi para netizen.
Atas kejadian tersebut, saya ingin menuliskan kembali intisari hasil penelitian Darmani yang pernah saya baca dan saya arsipkan mengenai ceng-cengan sebagai tradisi lisan di masyarakat Betawi pada tahun 1990 silam. Saya sangat menikmati hasil penelitiannya yang berjudul “Peranan Bahasa Dalam Budaya Komunikasi” yang merupakan studi mengenai ceng-cengan pada masyarakat Betawi di Kemayoran. Salah satu aspek kebudayaan khas yang dimiliki masyarakat Betawi adalah apa yang dikenal dengan ngeceng dan ceng-cengan.
Semoga relevan dengan jagat publik yang sedang ramai membicarakan pernyataan “Sang Da’i” yang kemungkinan maksudnya adalah ngeceng. Namun, menurut Darmani (1990), ngeceng juga memiliki etika, sopan santun, dan pertimbangan situasi dan waktu yang tepat. Berikut ini adalah intisari mengenai ceng-cengan sebagai tradisi lisan yang ada pada masyarakat Betawi.
Ngeceng sebagai Aktivitas Komunikasi
Ngeceng, ledek-ledekan, berseloroh, guyon, dan sebutan lainnya merupakan sifat yang cukup menonjol bagi kebanyakan orang Betawi. Humor memiliki hubungan erat dengan ceng-cengan yang menjadi topik pembahasan dalam tulisan ini. Ceng-cengan yang merupakan kegiatan komunikasi yang bernada senda gurau dalam dialog seringkali disertai dengan gelak tawa. Sebagai aktivitas komunikasi, ngeceng tetap harus memperhatikan etika yang berlaku.
Seperti yang dilakukan oleh Gus M yang menggunakan ceng-cengan dalam konteks yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan etika yang berlaku. Sikap seperti ini justru menimbulkan konflik dan perpecahan di masyarakat. Sebagai manusia yang beradab, kita harus selalu berhati-hati dalam menggunakan kata-kata, terutama di tempat umum dan dikelilingi oleh banyak orang.
Ngeceng dalam Kehidupan Masyarakat
Ngeceng merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Betawi. Kegiatan ini menjadi sarana bagi masyarakat untuk saling mengenal satu sama lain dan menjaga hubungan yang baik. Dengan ngeceng, masyarakat dapat menyalurkan humor dan candaan yang dapat menghibur. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak lama dan menjadi kebiasaan turun temurun di masyarakat Betawi.
Ngeceng dalam Kehidupan Sehari-hari
Ngeceng juga dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan tidak harus dilakukan di tempat formal. Keg





