"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Kamar Hotel Jadi Galeri Seni

Ruang Pamer Seni di Kamar Hotel, Pengalaman Unik yang Mengubah Ruang Istirahat Menjadi Galeri

Di tengah kawasan Senopati, Jakarta Selatan, ratusan karya seni hadir dalam bentuk yang sangat unik. Sejak 16 hingga 19 April 2026, sejumlah kamar di lantai 10 hotel 25Hours Jakarta The Oddbird berubah menjadi ruang pamer seni. Dalam acara bertajuk “Room Art Fair 2026”, belasan galeri seni memamerkan karya-karya mereka di berbagai sudut kamar, termasuk di toilet, mini bar, dan area lainnya.

Biasanya, dekorasi seni hanya terlihat di koridor atau lobby hotel. Namun kali ini, kamar-kamar hotel bahkan menjadi tempat untuk menampilkan karya seni. Berbagai elemen dalam kamar seperti kasur, bantal, gantungan baju, meja kopi, dudukan, dan lantai kamar dipenuhi dengan karya seni. Hal ini menciptakan pengalaman baru bagi para pengunjung yang ingin melihat seni secara langsung.



Karya-karya para seniman dari ArtSociates di Room Art Fair 2026 di 25Hours Hotel Jakarta The Oddbird. Dok. ArtSociates

Pameran ini diselenggarakan oleh Asosiasi Galeri Seni Indonesia (AGSI) bekerja sama dengan 25Hours Hotel The Oddbird. Ketua AGSI, Maya Sujatmiko, menjelaskan bahwa acara ini bertujuan memberikan pengalaman unik tentang seni rupa di lantai 10. “Ini merupakan hotel art fair pertama, ada pengalaman unik yang ingin kami tularkan ke publik,” ujarnya.

Sebanyak 13 galeri berpartisipasi dalam pameran ini, antara lain D Galerie, Can’s Gallery, Puri Gallery, Artsphere Gallery, Artscociates, Art1 Museum, Zen1 Gallery, Andi’s Gallery, Semarang Gallery, Puri Art Gallery, Artsociates, Srisasanti, dan ISA Art Gallery. Karya-karya yang ditampilkan umumnya memiliki tema ngepop dan dekoratif, seperti lukisan cat air, cat minyak, akrilik, atau patung dekoratif ukuran kecil.

Beberapa karya yang menarik perhatian adalah instalasi mini seperti balon karya Yudi Sulistyo yang ditempatkan di sudut kamar di Galeri Zen1. Ada juga karya Sillyndris yang menampilkan dua piring kotor yang tampak seperti bekas makan saus. Karya ini menunjukkan sisi humor dan kreativitas seniman.

Untuk memajang karya-karya seni, para pengelola galeri harus mengikuti undian. “Supaya adil ya, jadi kami undi. Ada yang dapat kamar cukup luas, ada yang sedang juga,” ujar Maya. Ia juga menyebutkan tantangan dalam menempatkan karya di ruang yang terbatas. “Seru sih, tapi akhirnya balik ke kreativitas ya dan ternyata bisa juga ditempatkan di sana sini.”

Selain itu, beberapa galeri menambahkan lampu tambahan untuk menyorot karya seni mereka. Hal ini dilakukan karena dinding kamar memiliki corak atau lukisan yang sudah ada. “Harus pandai-pandai menempatkan dan memilih karya, apalagi dindingnya kan sudah bercorak atau ada lukisannya,” ujar salah satu manajer galeri.

Maya juga menyebutkan bahwa pengunjung cukup ramai menghadiri pameran ini. Mereka datang untuk mengapresiasi karya seni dengan cara yang berbeda. Meski karya telah ditata dengan baik, menikmati seni di ruang kamar hotel terasa agak kurang nyaman ketika jumlah pengunjung cukup banyak dan bergantian ke ruang yang sama.

Pameran ini tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi juga memberikan pengalaman unik bagi pengunjung. Dengan mengubah ruang istirahat menjadi galeri seni, Room Art Fair 2026 berhasil menciptakan interaksi yang berbeda antara seniman dan publik.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *