
Simposium internasional yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta kembali menjadi ajang penting bagi para akademisi dari dalam dan luar negeri. Pada tahun ini, simposium ke-8 dilaksanakan pada hari Sabtu (11/4) dan Minggu (12/4) di Royal Ambarrukmo Yogyakarta. Tema utama simposium kali ini adalah ‘International Symposium on Javanese Culture 2026: Architecture, Spatial Planning, and Territory of The Sultanate of Yogyakarta’.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, turut hadir dalam pembukaan simposium tersebut. Acara ini tidak hanya dihadiri secara langsung, tetapi juga diikuti oleh peserta internasional melalui platform Zoom. Peserta berasal dari berbagai negara seperti Kolombia, Sudan, hingga Santiago.
Beberapa peneliti internasional juga terlibat sebagai reviewer dalam simposium ini. Di antaranya adalah Koji Miyazaki dari Tokyo University, Dr Verena Meyer dari Leiden University di Belanda, serta Dr. Hélène Njoto Feillard dari École Française d’Extrême-Orient (EFEO), France-Jakarta’s Office.

Penghageng Kawedanan Tandha Yekti dan Wakil Penghageng KHP Dhatu Dana Suyasa, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, menjelaskan bahwa seluruh proses seleksi paper yang masuk dilakukan dengan standar akademik yang ketat. Simposium ini terus-menerus menghadirkan kombinasi antara akademisi internasional dan nasional.
Di samping itu, pihak penyelenggara juga aktif mendorong partisipasi para peneliti junior agar dapat bergabung dalam satu forum dengan para ahli di bidangnya. Mereka juga diberikan kesempatan untuk berkonsultasi langsung dengan para reviewer.
“Kami berusaha setiap tahun agar ada campuran antara peneliti dari luar negeri yang sudah terkenal di bidangnya, serta peneliti lokal,” ujar GKR Hayu dalam konferensi pers.
“Untuk call for paper, kami juga berusaha agar para peneliti pemula atau junior bisa ikut serta dan berada dalam satu panggung bersama mereka. Ada sesi konsultasi, jadi mereka bisa bertemu langsung dengan pakar,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa proses seleksi dilakukan secara berlapis, dengan mempertimbangkan aspek seperti orisinalitas ide dan relevansi topik. Dari total 132 paper yang masuk, hanya 20 yang lolos tahap awal dan masih harus melalui proses lanjutan sebelum bisa dipresentasikan.
“Selain orisinalitas ide, kami juga melihat seberapa relevan topik yang diajukan, seberapa menarik dan logis. Dari 132 paper, hanya 20 yang lolos. Ini cukup ketat,” ujarnya.

Sementara itu, Penghageng KHP Nitya Budaya, GKR Bendara, menyampaikan bahwa menjaga konsistensi penyelenggaraan serta menghadirkan tema yang relevan setiap tahun menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelenggara.
Dari tahun ke tahun, partisipasi para peneliti muda semakin meningkat. “Tentu dari tahun ke tahun kita melihat partisipasi anak muda ini semakin banyak, tapi tergantung pada tema yang diangkat. Karena tema kali ini tentang arsitektur dan tata ruang, kita juga melibatkan mereka dalam pembukaan dan undangan,” ujar GKR Bendara.
“Mereka kemudian menyebarkan informasi acara ini, sehingga bisa hadir ke pameran maupun simposium. Kami melihat partisipasi signifikan dari kalangan milenial ke bawah. Kita juga masih muda, ya,” katanya.
Peserta terpilih yang mempresentasikan hasil penelitiannya pada tema History and Politics antara lain Risky Ramadhani Satrio Wibisono, seorang sarjana arkeologi; Saifuddin Alif Nurdianto, guru dari Ponorogo, Jawa Timur; dan MB. Widyasastra Rajasa dari Keraton Yogyakarta.











