Kehidupan Pebisnis Online di Kabupaten Malang yang Menghadapi Tantangan Baru
Di tengah tumbuhnya dunia e-commerce, banyak pebisnis online merasa bahwa platform digital menjadi sarana penting untuk menjangkau pelanggan. Namun, bagi sejumlah pengusaha di Kabupaten Malang, situasi kini terasa semakin berat akibat aturan-aturan yang diberlakukan oleh penyedia platform.
Sebuah toko bernama Oliviamo.id di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, menjadi contoh dari tantangan yang dihadapi para pebisnis online. Di dalam toko tersebut, suasana riuh dan penuh semangat terlihat dari aktivitas pegawai yang sibuk mempersiapkan barang untuk dikirim. Seorang pegawai tampak berada di depan kamera ponsel, menjelaskan produk busana gamis dengan antusias. Di belakangnya, beberapa pegawai lainnya sedang melipat dan menyusun pakaian sesuai warna dan ukuran.
Namun, di balik kesibukan tersebut, tersimpan kegelisahan yang tidak terlihat. Olivia Monica, pemilik toko, mengungkapkan bahwa situasi jual beli online saat ini jauh lebih sulit dibandingkan sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa aturan-aturan baru yang dikeluarkan oleh penyedia platform sangat memberatkan, sementara pemerintah belum hadir dalam skenario ini.
Kebijakan COD yang Menyulitkan
Salah satu masalah utama yang dihadapi Olivia adalah kebijakan baru terkait sistem pembayaran Cash on Delivery (COD). Kebijakan ini kabarnya akan segera diberlakukan dan telah menyebabkan banyak tantangan bagi penjual. Menurut Olivia, banyak barang yang dikembalikan bukan karena kesalahan penjual, tetapi karena alasan yang tidak jelas.
“Sering kali barang itu dikembalikan, meskipun sebenarnya tidak pernah diantar,” ujarnya. Selain itu, setiap barang yang gagal sampai ke tangan pembeli kini menjadi beban biaya bagi penjual. Olivia menjelaskan bahwa setiap barang yang ditolak COD, penjual harus membayar biaya sebesar Rp10.000 per barang. Angka ini mungkin terdengar kecil, tetapi jika terjadi ratusan kali dalam sebulan, kerugiannya bisa sangat besar.
Masalah Retur yang Tidak Logis
Masalah lain yang dihadapi Olivia adalah sistem retur yang kini berjalan otomatis tanpa konfirmasi dari penjual. Dulu, ada proses verifikasi yang melibatkan penjual sebelum retur disetujui. Kini, semua proses dilakukan secara otomatis oleh penyedia platform.
“Pembeli bisa langsung retur tanpa konfirmasi ke kami. Barang langsung dikirim balik, dan dana langsung dipotong oleh penyedia platform,” jelas Olivia. Hal ini sering menyebabkan ketidakpuasan karena alasan pengembalian barang sering kali tidak logis. Contohnya, ada pembeli yang komplain warna “yellow butter” tapi katanya yang dikirim kuning. Padahal, itu memang warna kuning.
Selain itu, ada kasus di mana barang yang dikembalikan tidak sesuai dengan yang dikirim. Ada juga pembeli yang mengembalikan barang yang sudah dipakai selama seminggu. Aturan terbaru memungkinkan pembeli untuk mengembalikan barang maksimal tujuh hari setelah barang diterima. Hal ini membuat Olivia merasa bahwa hubungan antara penjual dan platform kini tidak seimbang.
Persepsi Penjual sebagai “Pekerja” Bukan Mitra
Menurut Olivia, aturan-aturan yang dikeluarkan oleh platform terkesan sepihak dan cenderung menekan penjual. Ia menyebut bahwa penjual lebih seperti “pekerja” daripada mitra. Olivia juga menyoroti bagaimana platform terlalu memanjakan pembeli. Bahkan untuk mendapatkan visibilitas, penjual harus mengeluarkan biaya tambahan.
“Pembeli dimudahkan, tapi penjual yang menanggung risikonya. Kalau tidak iklan, toko kita seperti ditutup. Tidak ada yang lihat live, tidak ada yang lihat produk,” tambahnya.
Mempertimbangkan Strategi Baru
Di tengah tekanan tersebut, Olivia mulai mempertimbangkan langkah baru—membuka toko offline. Ini bukan berarti ia ingin meninggalkan dunia digital sepenuhnya, tetapi sebagai upaya mencari keseimbangan. Ia mengatakan bahwa toko offline lebih jelas karena pembeli datang, melihat, dan memegang barang langsung tanpa ada drama retur yang aneh-aneh.
Di dalam toko yang masih dipenuhi suara live streaming dan aktivitas pegawai, keputusan itu perlahan terasa semakin masuk akal. Saat wawancara berlangsung, ada pembeli yang datang sekeluarga. Olivia langsung melayani mereka. Mereka bebas memilih dan berinteraksi dengan penjual. Bagi Olivia, ini bukan sekadar strategi bisnis, tetapi bentuk perlawanan terhadap sistem yang ia anggap semakin tidak adil.
Di tengah gemerlap dunia e-commerce yang terus tumbuh, kisah seperti Olivia menjadi pengingat bahwa di balik angka penjualan dan tren digital, ada pelaku usaha yang terus berjuang menjaga keberlangsungan bisnisnya. Dan mungkin, suatu hari nanti, suara mereka akan lebih didengar.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











