"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Made Djimat Dianugerahi Penghargaan Parama Satya Budaya, Bawa Seni Bali ke Dunia

I Made Djimat, Sang Maestro Seni Tari yang Masih Menginspirasi Meski Usianya Telah Lanjut

I Made Djimat adalah sosok yang tak asing lagi di dunia seni tari. Sebagai seorang maestro, ia telah melahirkan banyak seniman berbakat, tidak hanya dari Bali tetapi juga dari berbagai negara. Banyak seniman luar negeri yang belajar kesenian Bali kepada dirinya. Namun, di usianya yang telah menginjak 84 tahun, Djimat kini tidak lagi lincah seperti dulu.

Hari-harinya kini dihabiskan dengan duduk di kursi roda. Karena pengaruh usia, Djimat yang dulunya periang, suka melucu dan ramah pada setiap orang, kini kemampuannya untuk berbicara telah mulai memudar. Meskipun demikian, ia masih tetap bisa memperagakan pakem-pakem tari melalui gerak tangannya.

Beruntung, di tengah kondisinya yang melemah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar tidak melupakan jasa-jasanya. Pada Rabu 1 April 2026, Dinas Kebudayaan Gianyar bersama Majelis Kebudayaan Bali wilayah Gianyar mengunjungi kediamannya di Banjar Pekandelan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati. Rombongan ini juga membawa mandat Bupati Gianyar Made Agus Mahayastra, yang poinnya Pemkab Gianyar menobatkan dirinya sebagai penerima penghargaan Parama Satya Budaya, sebuah penghargaan Seni Dan Budaya tertinggi di Gianyar.

Penghargaan secara resmi akan diserahkan pada puncak perayaan HUT Kota Gianyar di pertengahan April ini. Karena faktor usia, Djimat tidak bisa merespon kabar baik tersebut dengan kalimat. Ia hanya tersenyum lebar, dan sesekali tertawa.

Seorang Budayawan, Anak Agung Gede Rai yang ikut dalam rombongan tersebut mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memuliakan seniman, yang selama hidupnya telah berperan besar dalam melestarikan dan memperkenalkan kesenian Bali, khususnya Gianyar ke kancah internasional. “Perhatian pemerintah terhadap seniman merupakan langkah penting menjaga identitas Bali,” ujarnya.

Agung Rai menjelaskan, Maestro I Made Djimat selama ini dikenal luas sebagai seniman yang membawa seni Bali ke panggung dunia sejak usia muda. Ia dikenal sebagai ahli Tari Jauk dan Topeng Tua, serta aktif tampil hingga usia lanjut, termasuk terakhir pada Oktober 2025 di Jakarta dalam panggung maestro. Selain sebagai penampil, ia juga dikenal sebagai pembina berbagai kelompok seni. Sentuhannya kerap melahirkan juara dalam berbagai ajang, termasuk Pesta Kesenian Bali dan lomba-lomba seni lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Gianyar, I Wayan Adi Perbawa mengatakan, bahwa penghargaan Parama Satya Budaya sudah hampir 18 tahun tidak dikeluarkan. Pemberian piagam ini pada Maestro Djimat telah melalui kajian panjang, dilakukan oleh tim pakar budaya selama empat bulan. “Setelah hampir 18 tahun tidak dikeluarkan, Parama Satya Budaya akhirnya kembali dianugerahkan dan mengerucut pada satu nama, I Made Djimat. Ini penghargaan tertinggi dan melalui mekanisme yang bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Selain itu, Djimat juga akan diberikan pin emas, serta uang tunai di kisaran Rp 75-100 juta, termasuk dukungan untuk sanggar seni yang telah dirintis sejak tahun 1971. Ditegaskan lagi, Dinas Kebudayaan Gianyar juga berencana akan mengabadikan nama-nama tokoh seni Gianyar dalam bentuk nama jalan.


Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *