"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Bisnis  

Investasi Rp1.314 Triliun, Tantangan Pemerintah Pasca Safari Global Prabowo

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mencatatkan capaian signifikan dalam diplomasi ekonomi pada kuartal I/2026. Melalui rangkaian kunjungan ke sejumlah negara mitra strategis, Indonesia berhasil mengamankan komitmen investasi senilai total Rp1.314,71 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa diplomasi ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah mampu menarik perhatian investor global. Namun, meskipun angka ini dianggap sebagai sinyal positif, ada beberapa tantangan yang masih harus dihadapi.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa angka komitmen investasi sering kali tidak sejalan dengan realisasi di lapangan. Pada 2025, realisasi investasi Indonesia berada di kisaran Rp1.900 triliun—angka yang secara historis lebih kecil dibandingkan total komitmen yang diumumkan pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa daya saing Indonesia belum sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan menarik MoU, melainkan oleh kemampuan mengeksekusi proyek secara cepat, pasti, dan efisien.

Selain itu, Rizal juga menyoroti posisi Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan negara pesaing di kawasan seperti Vietnam, khususnya dalam integrasi rantai pasok dan kemudahan ekspor. Indonesia masih menghadapi sejumlah hambatan klasik, mulai dari biaya logistik tinggi, ketidakpastian regulasi, hingga inkonsistensi kebijakan. Diplomasi ini positif, tetapi belum cukup untuk memastikan Indonesia menjadi destinasi utama di kawasan tanpa perbaikan fundamental di dalam negeri.

Bottleneck di Tahap Implementasi
Lebih lanjut, Rizal menekankan bahwa tantangan utama justru terletak pada tahap implementasi proyek di dalam negeri. Sejumlah persoalan seperti tumpang tindih regulasi pusat dan daerah, kesiapan lahan, hingga kepastian utilitas masih menjadi penghambat utama. Persoalan klasik seperti tumpang tindih regulasi pusat-daerah, kesiapan lahan, kepastian utilitas (energi dan infrastruktur), serta kualitas SDM masih menjadi bottleneck utama. Lebih lanjut, dia juga mengingatkan risiko enclave economy, di mana investasi besar tidak memiliki keterkaitan kuat dengan ekonomi domestik.

Dalam pandangannya, diplomasi ekonomi harus diiringi reformasi konkret di dalam negeri, seperti penyederhanaan perizinan berbasis waktu, penguatan koordinasi pusat-daerah, serta pemberian insentif berbasis kinerja. Diplomasi ekonomi harus diikuti dengan reformasi eksekusi. Tanpa itu, angka komitmen hanya akan menjadi headline, bukan engine of growth.

Rizal juga menyoroti bahwa dampak investasi terhadap penciptaan lapangan kerja sangat bergantung pada jenis proyek yang masuk. Jika didominasi sektor padat modal seperti hilirisasi berbasis teknologi, maka efek terhadap penyerapan tenaga kerja cenderung terbatas dalam jangka pendek. Selain itu, kondisi global seperti ketegangan geopolitik dan volatilitas harga energi berpotensi membuat investor menunda realisasi investasi.

Realisasi Masih Jadi PR Besar
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, menilai bahwa persoalan utama memang terletak pada realisasi investasi. Dia mencontohkan, komitmen investasi sebesar Rp294,9 triliun hasil kunjungan ke enam negara pada November 2025 belum sepenuhnya tercermin dalam peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA) pada awal 2026. Belum terlihat dari komitmen jadi realisasi investasi sehingga antara komitmen dan realisasi gap-nya masih besar.

Bhima menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah proyek-proyek investasi masih membutuhkan proses uji kelayakan (feasibility study) yang panjang, sehingga memperlambat eksekusi. Selain itu, ketidakpastian kebijakan juga menjadi faktor penghambat, termasuk isu perubahan aturan seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Banyak ketidakpastian kebijakan… ikut jadi pertimbangan sebelum financial closing suatu proyek.

Faktor Global Picu Sikap Wait and See
Dari sisi eksternal, kondisi geopolitik global seperti konflik yang memicu inflasi energi turut memengaruhi keputusan investor. Investor wait and see dulu karena khawatir asumsi dalam perencanaan proyek berubah signifikan. Dengan demikian, capaian diplomasi ekonomi pemerintah memang membuka peluang besar. Namun tanpa perbaikan fundamental di dalam negeri, terutama dalam eksekusi proyek dan kepastian regulasi, angka komitmen tersebut berisiko hanya menjadi pencapaian di atas kertas tanpa dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi.

Berikut adalah rincian kunjungan Presiden Prabowo Subianto selama kuartal I/2026:

Daftar Kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada Kuartal I/2026

  • 18–21 Januari: Britania Raya (London)
  • Komitmen Investasi: £4 miliar atau kurang lebih Rp90 triliun
  • Fokus: Sektor maritim, termasuk pembangunan 1.582 kapal ikan, pendidikan, dan ekosistem terkait.

  • 21–23 Januari: Swiss (Davos)

  • Komitmen Investasi: –
  • Fokus: Konsolidasi dengan pelaku ekonomi global.

  • 23–24 Januari: Prancis (Paris)

  • Komitmen Investasi: –
  • Fokus: Memperkuat hubungan bilateral, khususnya di sektor pertahanan dan ekonomi.

  • 17–21 Februari: Amerika Serikat (Washington D.C)

  • Komitmen Investasi: US$38,4 miliar atau sekitar Rp650 triliun
  • Fokus:

    • Mineral kritis dan mineral jarang.
    • Pemulihan ladang minyak dan energi.
    • Komoditas pangan (jagung) dan tekstil.
    • Teknologi semikonduktor.
    • Kawasan perdagangan bebas.
  • 23–24 Februari: Britania Raya (London)

  • Komitmen Investasi: Transfer teknologi
  • Fokus: Perjanjian kerangka kerja Danantara-Arm Limited diharapkan menjadi dasar diadakannya pelatihan untuk 15.000 insinyur Indonesia.

  • 24–25 Februari: Yordania (Amman)

  • Komitmen Investasi: –
  • Fokus: Pembahasan peningkatan investasi UEA di RI.

  • 25–26 Februari: Uni Emirat Arab (Abu Dhabi)

  • Komitmen Investasi: –
  • Fokus: Pembahasan peningkatan investasi UEA di Indonesia, terutama di sektor infrastruktur dan energi.

  • 29–31 Maret: Jepang (Tokyo)

  • Komitmen Investasi: US$23,63 miliar atau sekitar Rp401,71 triliun
  • Fokus di bidang:

    • Energi dan Sumber Daya Alam
    • Teknologi dan Digital
    • Ekonomi, Investasi dan keuangan
    • Lifestyle
  • 31 Maret–2 April: Korea Selatan (Seoul)

  • Komitmen Investasi: US$10,2 miliar atau sekitar Rp173 triliun
  • Fokus: Sektor prioritas, mulai dari ekonomi, energi, digital, hingga kesehatan dan industri masa depan.

Total Komitmen Investasi sepanjang Kuartal I/2026: Rp 1.314,71 triliun

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *