"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Bisnis  

Amran Sulaiman ungkap rencana konversi sawit jadi biofuel untuk jadikan Indonesia super power

Peran Biofuel B50 dalam Penguatan Kemandirian Energi dan Kesejahteraan Petani

Program biofuel B50, yang terdiri dari campuran 50 persen biodiesel berbasis CPO (Crude Palm Oil) dan 50 persen solar, diharapkan memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa implementasi program ini tidak hanya mendorong kemandirian energi nasional, tetapi juga memberikan keuntungan besar bagi petani sawit melalui peningkatan harga minyak sawit mentah di pasar global.

Langkah ini direncanakan akan dilaksanakan pada tahun ini, dengan tujuan meningkatkan ketahanan energi nasional, menghemat subsidi hingga Rp48 triliun, serta mengurangi impor solar sebesar 5,3 juta ton pada 2026. “Sebanyak 5,3 juta ton CPO kita konversi menjadi biofuel, artinya, tahun ini kita tidak impor solar. Ini perintah langsung Presiden,” ujarnya saat ditemui di Gudang Bulog Sulselbar, Makassar, Minggu (5/4/2026).

Menurutnya, Indonesia yang menguasai sekitar 60 persen produksi CPO dunia dapat mempengaruhi harga global. Ketika sebagian pasokan dialihkan ke dalam negeri, harga internasional justru mengalami kenaikan. “Begitu harga naik, petani semangat. Hasilnya produksi naik sampai 6 juta ton. Ekspor kita juga ikut meningkat,” katanya.

Dampak Berantai terhadap Perekonomian

Kebijakan ini memberikan efek berantai terhadap perekonomian, khususnya bagi petani sawit yang merasakan langsung peningkatan pendapatan. “Setelah kita tarik untuk biofuel, harga dunia naik. Petani senang, produksi naik, ekspor juga naik. Jadi dua-duanya jalan,” ujarnya.

Selain itu, peningkatan pendapatan petani turut menggerakkan ekonomi desa. Aktivitas ekonomi di daerah meningkat seiring bertambahnya produksi dan kesejahteraan petani. “Kalau ekonomi desa bergerak, petani bekerja keras meningkatkan produksi. Ini yang kita lihat sekarang,” katanya.

Ia bahkan menyebut kondisi kesejahteraan petani saat ini sebagai yang terbaik sepanjang sejarah, didorong oleh kebijakan pemerintah yang berpihak pada sektor pertanian. Di sisi lain, pemerintah juga mulai mengembangkan energi terbarukan lainnya seperti bioetanol dari komoditas lokal sebagai bagian dari diversifikasi energi nasional.

“Ke depan dunia akan menghadapi krisis pangan, energi, dan air. Indonesia punya semuanya. Tinggal kita kelola dengan baik,” kata Amran.

Tantangan Produksi Biodiesel Nasional

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia, Ernest Gunawan, menyatakan bahwa kapasitas produksi biodiesel nasional saat ini sudah cukup besar, namun belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan program campuran bahan bakar hingga B50.

Ia menyebutkan, kapasitas terpasang industri biodiesel nasional saat ini mencapai sekitar 22 juta kiloliter. Namun dalam praktiknya, realisasi produksi hanya berada di kisaran 80 persen atau sekitar 17,6 juta kiloliter. “Dengan kapasitas produksi sekitar 80 persen itu, kita masih kurang sekitar 2 juta kiloliter,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Kekurangan tersebut menjadi semakin krusial seiring rencana pemerintah mendorong implementasi program mandatori B50, yaitu campuran 50 persen biodiesel dalam solar. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, kebutuhan solar nasional mencapai sekitar 39,5 juta kiloliter per tahun. Dengan skema B50, maka kebutuhan biodiesel diperkirakan mencapai setengah dari angka tersebut, yakni sekitar 19,5 juta kiloliter.

Sementara itu, kemampuan produksi aktual industri saat ini masih berada di bawah kebutuhan tersebut. “Artinya, kami memang membutuhkan tambahan investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi sekitar 2 juta kiloliter,” jelas Ernest.

Peran BUMN dalam Pengembangan B50

Pemerintah melalui BUMN sudah membentuk perusahaan yang bergerak khusus di sektor energi terbarukan terutama biodiesel yakni PT Agrinas Palma Nusantara. Perusahaan ini bukan hanya sekedar memiliki keunggulan modal, lahan yang luas dan teknologi dan kualitas produksi tetapi juga kesepakatan kerjasama dengan berbagai negara, seperti Cina, Jepang, Korea Selatan hingga ke negara-negara eropa.

PT Agrinas Palma Nusantara resmi berdiri pada Februari 2025 sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang lahir dari merger dengan PT Indra Karya, PT Virama Karya dan PT Yodya Karya yang sebelumnya dikenal sebagai perusahaan yang bergerak dibidang konsultasi teknik dan manajemen konstruksi.

PT Agrinas berfokus pada pengelolaan perkebunan kelapa sawit sekaligus pengembangan energi terbarukan, dengan suntikan modal sebesar Rp8 triliun diterima pada tahun 2025 ini. Agrinas siap beroperasi tanpa ketergantungan pada APBN, perusahaan ini masuk dalam kelompok Danantara.

Keistimewaan PT Agrinas Palma Nusantara semakin tampak dengan pengambilan alih lahan atau akuisisi lahan seluas 438 ribu hektare dari Kejaksaan Agung dan satuan tugas penertiban kawasan hutan pada Maret 2025. Agrinas akan menguasai lahan perkebunan 1,5 juta hektar, lahan terbesar yang diakuisi berasal dari PT Duta Palma Nusantara.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *