Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? Hadirkan Dinamika Keluarga yang Hangat dan Getir
Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? akan segera menyapa penonton Indonesia pada 9 April 2026. Dengan mengangkat isu hubungan orang tua dan anak yang sering kali berakhir pada kesalahpahaman, film ini menjadi salah satu rilisan yang dinanti-nantikan. Melalui kisah keluarga yang penuh dengan konflik dan kehangatan, film ini menawarkan wawasan mendalam tentang dinamika dalam rumah tangga.
Dwi Sasono kembali memerankan sosok ayah dalam film ini. Kali ini sebagai Yudi, karakter yang berbeda dari peran-perannya sebelumnya. Sementara itu, Baskara Mahendra hadir sebagai Bumi, sosok pasangan yang terlihat “green flag” di tengah konflik keluarga yang dihadirkan. Kedua aktor ini membedah sudut pandang mereka tentang karakter masing-masing.
Dwi Sasono: Yudi sebagai Sosok yang Kehilangan Dirinya Sendiri
Dwi Sasono mengungkap bahwa karakter Yudi terasa sangat berbeda dibandingkan dengan peran ayah yang pernah ia mainkan sebelumnya. Misalnya saja, pada film Keluarga Super Irit (2025) dan Perayaan Mati Rasa (2025). Menurutnya, umumnya ayah itu dominan, patriarki, dan sebagainya. Tapi di sini, ia melihat ayah yang sangat tidak ada suaranya.
“Yudi gak ada ruangnya. Dia gak ada fungsinya lagi. Kayak kehilangan dirinya,” ucap Dwi saat konferensi pers di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (2/4/2026).
Menurut Dwi, Yudi adalah representasi sosok laki-laki yang tidak bercerita. Ia menyimpan kekhawatiran, tanggung jawab, dan cinta yang tidak selalu terlihat oleh anggota keluarganya.
“Bagaimana tenangnya dia dalam diam itu sebuah perjuangan yang mungkin anak istrinya gak melihat seperti apa. Jadi menurutku film ini sebuah cahaya yang perlu ditonton oleh semua keluarga,” lanjutnya.
Dwi Sasono: Pentingnya Harmoni dalam Keluarga Tanpa Paksaan

Selain mendorong pria, khususnya sosok ayah, untuk menjaga sisi otentiknya, Dwi juga menyoroti pentingnya harmoni dalam keluarga. Baginya, hubungan orang tua dan anak seharusnya tumbuh dari pilihan, bukan paksaan.
“Dari mana harmoni itu bisa terbentuk? Ya tidak adanya paksaan. Biarkan anak-anak belajar atas dasar pilihannya. Bukan paksaan dari orang tuanya,” ujarnya.
Pemeran Adi dalam sitkom Tetangga Masa Gitu? ini juga menekankan pentingnya komunikasi antara ayah dan ibu dalam menentukan arah keluarga. Tanpa komunikasi, perbedaan visi bisa berdampak pada anak.
“Antara bapak sama ibu komunikasi sangat penting sekali. Jadi supaya arahnya sama. Nanti kalau gak ada komunikasi, bapaknya ke mana, ibunya ke mana. Gak sama. Bahkan punya problem sendiri yang bisa dilampiaskan ke anaknya,” jelas Dwi.
Dwi pun melihat film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? sebagai cerminan harapan yang sering tidak tersampaikan. “Ada harapan dari orang tua. Ada harapan dari anak. Tapi yang gak ketemu karena gak ada komunikasinya. Akhirnya jadi sumber penderitaan di rumah,” imbuhnya.
Baskara Mahendra: Bumi Penuh Act of Service

Di sisi lain, Baskara Mahendra menghadirkan karakter Bumi yang terasa kontras dengan Yudi. Jika Yudi berjuang dalam diam, Bumi justru hadir sebagai sosok yang ekspresif lewat tindakannya pada karakter Dira (Mawar de Jongh).
“Dari awal aku baca skripnya, memang karakter Bumi ini sangat menyediakan semuanya, memberikan semuanya untuk Dira,” ujar Baskara.
Mantan suami Sherina ini menyebut bahwa love language Bumi adalah act of service, yang terlihat jelas dalam caranya memperlakukan Dira. Ia pun mengajak pasangan masa kini untuk memahami love language masing-masing.
“Mungkin kalau buat pasangan-pasangan pastinya mengerti love language satu sama lain. Misalkan untuk Bumi itu kan kelihatannya sangat act of service, ya. Terutama untuk Dira,” jelasnya.
Tak hanya itu, Baskara juga menyoroti pentingnya empati dalam hubungan. “Mengerti pasangannya, tahu kondisinya. Terus juga mungkin apa pun yang dia butuhin kita coba provide kali, ya,” pungkasnya.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











