Perjalanan Nathania Tifara: Dari Kehilangan Pendengaran ke Penerbitan Buku Anak Ramah Difabel
Nathania Tifara, seorang pengusaha muda yang sukses mendirikan penerbitan buku anak ramah difabel, memiliki kisah perjalanan yang luar biasa. Awalnya, ia mengalami kehilangan pendengaran pada usia dua tahun akibat virus meningitis yang melanda Amerika Serikat pada 1990. Saat itu, ia dan keluarganya tinggal di sana.
Dua tahun kemudian, Nathania menjalani operasi pemasangan cochlear implant, sebuah alat berbasis teknologi yang membantunya kembali mengakses suara. Namun, alat tersebut tidak langsung membuatnya pulih sepenuhnya dari tuli. “Tanpanya, saya tetap tuli total,” ujarnya. Ia masih perlu berlatih mendengar karena cochlear implant hanya terpasang satu sisi dengan kemampuan 40-50 persen lebih rendah dibanding pendengaran orang dengar. Pengalamannya mendengar seperti suara mono, rentan di ruang ramai, dan membutuhkan latihan terus-menerus agar otak bisa menerjemahkan suara tersebut.
Dari situ, Nathania belajar membaca situasi, mengandalkan ekspresi wajah, gerak tubuh, dan konteks percakapan. Sejak awal, ia terbuka tentang kondisinya. Ia menjelaskan kendala pendengarannya kepada teman, guru, dan dosen. “Saya menyampaikan hal ini bukan untuk meminta perlakuan khusus atau diistimewakan, melainkan agar guru, dosen, dan teman sekelas mengetahui bahwa ada murid atau mahasiswa dengan kebutuhan pendengaran yang berbeda di dalam kelas,” cerita Nathania.
Dalam proses belajar, ia menerapkan berbagai strategi agar proses akademik berjalan lancar. Duduk di bangku depan, memanfaatkan catatan teman, serta berdiskusi kelompok kecil membantu kelancaran belajarnya. Tantangan terbesar muncul saat ia menjalani Magister Manajemen di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketika kelas digelar secara daring akibat pandemi, ia menggunakan bantuan juru tulis—terkadang teman atau suami—untuk merangkum materi.
Melalui pengalaman tersebut, Nathania yakin bahwa kelancaran proses belajar bukan sekadar faktor kemampuan individu, tetapi juga kerja sama dan kesediaan lingkungan untuk beradaptasi. “Ketika kebutuhan dikomunikasikan dengan jelas dan lingkungan memberi ruang, proses belajar dapat berjalan lebih setara,” ucapnya.
Inspirasi Mendirikan Penerbitan Buku Anak
Inspirasi mendirikan penerbitan buku anak datang dari memori masa kecil. Ibunya sering membawakan buku anak yang kuat secara visual dan narasi yang mendukung proses pertumbuhan Nathania. Latar belakang sebagai lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) mendorongnya untuk membuat media dan permainan edukasi melalui cerita dan visual yang dekat dengan kehidupan anak. Pengalaman sebagai difabel membentuk cara pandangnya dalam proses kurasi dan produksi buku.
Pada 2016, Guru Bumi hadir dengan tujuan sederhana: menghadirkan buku anak yang relevan dengan kehidupan anak Indonesia, dekat dengan alam dan budaya lokal, serta inklusif. Fokus pada ensiklopedia berbasis pengetahuan bumi Indonesia. Beberapa judul yang sudah terbit antara lain: Dari Bumi Nusantara ke Piring Kita (tumbuhan dan pangan lokal), Makhluk Kecil dengan Peran Besar (serangga), dan Jelajah Pesona Satwa Nusantara (hewan endemik). “Tema-tema ini kami pilih karena sangat dekat dengan kehidupan anak, namun sering luput diperkenalkan dan menyenangkan dalam buku anak,” terang Nathania.
Ciri khas dari ensiklopedia tersebut adalah kolaborasi dengan peneliti serta ilustrator lokal, dan penyajian yang mengajak anak mengamati bukan sekadar menghafal. Selain buku, Nathania mengembangkan board game edukatif: papan peta magnetik, kartu kuartet budaya, dan permainan bahasa Jawa yang membuat pengetahuan jadi pengalaman bersama.
Pengembangan Toko Gumi
Nathania bercerita bahwa kartu kuartet budaya menjadi kesukaan anak-anak teman tuli. Sebab, dapat dimainkan sambil belajar bahasa isyarat dan kosa kata secara visual. Contoh lain adalah buku latihan membaca Dito & Dena yang awalnya dirancang dengan pendekatan sederhana untuk membantu anak yang belum lancar membaca dan menyusun kosa kata. Dalam praktiknya, buku tersebut juga banyak dimanfaatkan oleh anak dengan disleksia karena strukturnya yang bertahap dan tidak membebani.
Usai sukses dengan penerbitan buku anak yang interaktif, ia membuka Toko Gumi pada 2024. Berlokasi di Yogyakarta, Toko Gumi muncul sebagai perpanjangan visi menghadirkan media edukasi yang ramah semua kebutuhan anak. Toko ini lebih dari tempat jual beli; Nathania merancangnya sebagai ruang literasi kecil, perpustakaan mini, dan arena kegiatan untuk anak dan keluarga.
Visi dan Harapan Nathania
Ide itu lahir dari kenangannya di toko buku anak di Amerika. Ia merasakan imajinasinya tumbuh bebas di toko buku tersebut. Bagi Nathania, kehadiran negara yang ideal dimulai dari pengakuan bahwa difabel bagian dari keberagaman masyarakat, bukan objek belas kasihan. “Negara perlu membuka ruang dialog yang berkelanjutan dengan difabel agar kebijakan yang dibuat benar-benar lahir dari kebutuhan nyata di lapangan,” tutur Nathania.
Langkah paling mendesak menurutnya adalah membuka akses dunia kerja dan pengalaman kerja yang nyata. Pelatihan, kesempatan magang, dan lingkungan kerja yang adaptif akan mengubah pilihan difabel dari terpaksa berwirausaha menjadi bisa memilih antara bekerja di organisasi atau berwirausaha.











