Hari Film Nasional: Sejarah dan Perkembangan Industri Perfilman Indonesia
Hari Film Nasional diperingati setiap 30 Maret di Indonesia. Tanggal ini memiliki makna penting dalam sejarah perfilman negara ini. Selain menjadi hari untuk merayakan karya-karya film yang lahir dari tangan-tangan kreatif anak bangsa, tanggal ini juga menjadi pengingat akan perjuangan dan perjalanan panjang industri perfilman Indonesia.
Latar Belakang Terpilihnya Tanggal 30 Maret
Tanggal 30 Maret dipilih sebagai Hari Film Nasional karena merupakan hari pertama syuting film Darah dan Doa (1950) yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Film ini diproduksi oleh Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), yang pada masa itu masih baru terbentuk. Darah dan Doa dinilai sebagai film pertama yang bercirikan Indonesia. Film berdurasi 128 menit ini menceritakan perjalanan panjang prajurit Divisi Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Cerita ini difokuskan pada kisah Kapten Sudarto (Del Juzar), yang digambarkan sebagai pahlawan tetapi masih seorang manusia biasa.
Selain itu, film ini menjadi film pertama yang diproduksi Indonesia setelah resmi menjadi sebuah negara pasca-Perang Kemerdekaan Indonesia (1945–1949). Penyair Sitor Situmorang menjadi penulis naskah film ini.
Pemilihan Tanggal Berlangsung Alot
Ternyata, 30 Maret bukan satu-satunya tanggal yang menjadi kandidat Hari Film Indonesia. Beberapa tanggal lain seperti 19 September dan 6 Oktober juga sempat dipertimbangkan.
19 September dipilih karena menjadi tanggal peliputan Rapat Raksasa Lapangan Ikada yang dipimpin Presiden Soekarno. Namun, peristiwa tersebut dinilai kurang tepat karena konteks peringatan Hari Film Nasional adalah film cerita.
Sementara itu, 6 Oktober dipilih karena merupakan hari diserahkannya perusahaan Nippon Eiga Sha oleh penguasa Jepang kepada pemerintah Indonesia. Perusahaan ini kemudian menjadi BFI dan Produksi Film Negara (PFN). Meski begitu, usulan ini ditolak karena tidak menggambarkan nilai perjuangan.

Diresmikan dalam Keppres No. 25 Tahun 1999
Meskipun 30 Maret telah ditetapkan sebagai Hari Film Nasional sejak 11 Oktober 1962 dalam konferensi Dewan Film Nasional dengan Organisasi Perfilman, peringatan ini baru diresmikan pada 1999. Presiden B.J. Habibie mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 25 Tahun 1999 tentang Hari Film Nasional.
Keputusan ini diambil berdasarkan dua pertimbangan utama. Pertama, 30 Maret 1950 bersejarah karena pertama kalinya film cerita dibuat oleh orang dan perusahaan Indonesia. Kedua, peringatan ini diperlukan sebagai upaya meningkatkan kepercayaan diri, motivasi para insan film Indonesia, serta meningkatkan prestasi yang mampu mengangkat derajat film Indonesia secara regional, nasional, dan internasional.

Pengangkatan Bapak Perfilman Indonesia
Penetapan Hari Film Nasional pada 11 Oktober 1962 juga menetapkan dua tokoh sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Pertama yaitu Usmar Ismail, sutradara Darah dan Doa sekaligus pendiri Perfini.

Kedua, Djamaludin Malik yang merupakan pendiri Perseroan Artis Indonesia (Persari) Film. Pada masa kejayaannya, Persari Film memproduksi berbagai judul sinetron dan film.

Perfilman Indonesia Saat Ini
Saat ini, perfilman Indonesia perlahan mulai bangkit usai terpukul oleh pandemi COVID-19. Pemerintah pun mendorong insan perfilman Indonesia untuk memanfaatkan platform digital untuk mempercepat pemulihan iklim industri.
“Layanan streaming ini menjadi peluang tambahan bagi industri perfilman karena dapat menjangkau pasar yang lebih luas bahkan bisa masuk pasar global. Ini peluang besar bagi para sineas Indonesia yang berkiprah di regional maupun global,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Webinar Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri.

Selama masa ini, beberapa film Indonesia menuai prestasi di penghargaan nasional hingga internasional. Sebut saja Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang memenangi Penghargaan Golden Leopard dalam Festival Film Locarno, Yuni yang memperoleh penghargaan Platform Prize dari Festival Film Interasional Toronto 2021, hingga Penyalin Cahaya yang menyabet 12 Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 2021 untuk berbagai kategori.
Sejarahnya ternyata cukup panjang, ya? Kira-kira apa film Indonesia favorit Bela?











