"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Museum sebagai Ruang Edukasi dan Pusat Budaya Aktif

Transformasi Museum: Dari Ruang Penyimpanan Menjadi Ruang Edukasi Interaktif

Di berbagai daerah, transformasi museum sebagai ruang edukasi yang hidup dan interaktif terus diwujudkan. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi sejarah dan ilmu pengetahuan, museum kini lebih ditekankan sebagai ruang publik yang aktif dan nyaman, mampu memberikan pengalaman belajar yang mendalam bagi masyarakat.

Di Kota Bogor, Jawa Barat, Museum Zoologicum Bogoriense meluncurkan inovasi baru bernama Immerzoa. Ruang imersif ini dirancang untuk memperkaya pengalaman pengunjung sekaligus memperkuat edukasi mengenai keanekaragaman hayati Indonesia. Pengembangan Immerzoa dilakukan oleh PT Mitra Natura Raya, yang mengelola Kebun Raya Bogor, bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional serta didukung oleh SIMPATI sebagai mitra jenama dalam menyajikan teknologi visual imersif.

Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto menjelaskan bahwa kehadiran Immerzoa merupakan bagian dari upaya transformasi museum agar tidak lagi dipahami hanya sebagai ruang penyimpanan spesimen, tetapi menjadi ruang edukasi yang dinamis dan interaktif. Ia menegaskan bahwa transformasi ini mengubah museum dari sekadar ruang penyimpanan spesimen menjadi ruang imersif dan interaktif yang edukatif bagi pengunjung.

Konsep Immerzoa menggabungkan teknologi visual imersif dengan seni naratif, sehingga pengunjung tidak hanya menyaksikan koleksi satwa langka, tetapi juga memahami cerita dan fakta unik mengenai fauna Indonesia melalui pengalaman digital yang interaktif. Pendekatan ini membawa dimensi emosional dalam proses pembelajaran mengenai kekayaan hayati Nusantara, membuat edukasi tentang alam lebih hidup dan tidak statis.

Manager Event Department, Rizki Ramadhan, menjelaskan bahwa pada masa pembukaan awal, Immerzoa menampilkan sejumlah visual yang diputar secara berulang dalam satu sesi pertunjukan berdurasi sekitar 20 menit. Kolaborasi dengan SIMPATI tidak hanya menghadirkan ruang visual, tetapi juga membangun ekosistem naratif yang memanfaatkan konektivitas digital untuk memperkaya pengalaman pengunjung.

“Bersama SIMPATI, Immerzoa tidak berhenti sebagai ruang visual semata, melainkan berkembang menjadi ekosistem naratif yang melampaui batas ruang pamer statis,” katanya.

Pada tahap pembukaan penuh, pengalaman Immerzoa dirancang membawa pengunjung melalui tiga babak emosional, yakni kesadaran mengenai luasnya bumi sebagai rumah bersama, eksplorasi kekayaan fauna Indonesia dari garis Wallace hingga Weber, serta refleksi atas ancaman krisis ekologi dan hilangnya habitat satwa.

Selain ruang imersif tersebut, transformasi museum juga dilengkapi instalasi Interactive Book di area mamalia. Instalasi ini memadukan buku fisik dengan teknologi sinematik interaktif melalui kisah berjudul Aira & Para Penjaga Hutan, yang mengisahkan peran mamalia dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan sekaligus mengajak pengunjung memahami pentingnya hidup selaras dengan alam.

Untuk melengkapi pengalaman pengunjung, pengelola juga menghadirkan fasilitas komersial berupa Cula Cafe sebagai ruang singgah berkonsep grab and go serta Sora Merchandise yang menyediakan beragam suvenir bertema fauna dari pengalaman Immerzoa.

Penguatan Fungsi Museum di Sumatera Barat

Sementara itu, di Sumatera Barat, upaya penguatan fungsi museum sebagai ruang publik dan pusat kebudayaan juga terus digalakkan pemerintah. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya menempatkan museum sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Fadli saat meresmikan penataan lingkungan Museum Adityawarman di Kota Padang. “Museum harus diposisikan sebagai bagian penting dari ekosistem kebudayaan yang hidup dan aktif di tengah masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Peresmian tersebut ditandai dengan rampungnya pembangunan pagar yang terintegrasi dengan kawasan museum guna mendukung fungsi ruang publik yang lebih tertata dan nyaman. Menurut Fadli, penguatan peran museum juga didukung melalui Dana Alokasi Khusus dari Kementerian Kebudayaan untuk kegiatan nonfisik seperti pameran, pertunjukan budaya, serta berbagai program aktivasi museum.

Ia menambahkan bahwa penataan kawasan museum tersebut sejalan dengan gerakan nasional ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang diarahkan Presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan ruang publik yang tertata, aman, dan nyaman bagi masyarakat. Fadli juga menekankan pentingnya peningkatan standar pengelolaan museum secara profesional, mulai dari penguatan alur cerita pameran, tata pamer, pencahayaan, pemilihan material, tipografi, penggunaan bahasa, hingga pemanfaatan teknologi digital agar pengalaman pengunjung menjadi lebih interaktif.

Museum Adityawarman sendiri saat ini menyimpan lebih dari 6.000 koleksi yang mencakup bidang etnografi, arkeologi, numismatik, filologi, serta seni rupa tradisional yang merepresentasikan warisan budaya Minangkabau, mulai dari pakaian adat, alat musik, peralatan rumah tangga, hingga senjata tradisional. Selain menyimpan koleksi, museum tersebut juga menyelenggarakan pameran tematik, lokakarya seni tradisional, serta pertunjukan musik dan tari sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya daerah.

Pada kesempatan itu, Fadli turut menyerahkan bantuan berupa seperangkat alat salat kepada masyarakat terdampak bencana di Kota Padang. Peresmian kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Padang Fadly Amran serta Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Syaiful Bahri.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *