"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Wisata Religi Sragen: Kisah Masjid Butuh dan Petilasan Sunan Kalijogo

Sejarah dan Keunikan Masjid Butuh di Sragen

Masjid Butuh, yang berada di Dukuh Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, adalah salah satu masjid tertua di wilayah ini. Masjid ini memiliki sejarah panjang dan menjadi pusat penyebaran agama Islam di daerah tersebut. Masjid ini didirikan oleh Ki Ageng Butuh, ayah dari Raden Joko Tingkir, yang kelak menjadi Raja Pajang.

Sejarah Pendirian Masjid Butuh

Ki Ageng Butuh, yang juga dikenal dengan nama Ki Ageng Pengging II, pernah menjabat sebagai Adipati Pengging II di Boyolali. Setelah meninggalkan kerajaan, ia memutuskan untuk mencari kedamaian dan menempuh perjalanan menyusuri Sungai Bengawan Solo. Di lokasi yang kini menjadi Dukuh Butuh, ia menetap dan membangun tempat tinggal serta masjid sebagai tempat ibadah dan penyiaran ajaran Islam.

Kayu-kayu besar yang digunakan sebagai tiang penyangga masjid didatangkan dari daratan lain melalui Sungai Bengawan Solo. Proses pembangunan ini menunjukkan keuletan dan ketekunan Ki Ageng Butuh dalam mendirikan bangunan yang akan menjadi pusat kegiatan masyarakat.

Arsitektur dan Keunikan Bangunan

Masjid Butuh memiliki arsitektur tradisional Jawa yang menggabungkan unsur-unsur dari Masjid Agung Demak, meskipun diperkirakan dibangun pada abad ke-16. Bangunan utamanya berbentuk tajuk dengan kubah di bagian atas, sedangkan serambinya berbentuk limasan.

Tiang Penyangga Utama

Masjid ini memiliki empat soko guru (tiang utama) berbentuk persegi dengan ukuran sisi 30 cm dan tinggi 6 meter. Tiang-tiang ini disangga oleh 12 pilar tambahan berukuran 25 cm x 4 meter. Pilar-pilar tersebut saling terhubung, membentuk struktur yang kokoh hingga kini.

Mimbar Bersejarah

Di bagian utara masjid, terdapat mimbar kayu jati dengan ukiran Arab khas Jawa. Mimbar ini dilengkapi tulisan Arab bertahun 1852 M. Menurut Takmir Masjid Butuh, Muhammad Aziz, angka ini menandai tahun pembuatan mimbar sebagai hadiah dari Keraton Surakarta pada masa pemerintahan Paku Buwono VII, meski diperkirakan masjid itu sendiri jauh lebih tua dari angka tersebut.

Peran Masjid Butuh dalam Penyebaran Islam

Masjid Butuh bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat syiar Islam di wilayah Sragen. Ki Ageng Butuh dijadikan panutan oleh masyarakat setempat, sehingga Islam berkembang pesat di daerah tersebut. Kompleks masjid semula mirip dengan tata letak Keraton Solo, terdiri dari tempat tinggal raja (Ki Ageng Butuh), masjid, dan lapangan luas untuk kegiatan warga.

Selain itu, masjid juga menjadi saksi perjalanan para tokoh penting dalam sejarah Islam Jawa. Konon, Sunan Kalijaga pernah mengajarkan agama Islam di masjid ini.

Kompleks Masjid dan Lahan Sekitar

Masjid Butuh berdiri di lahan berukuran 42 meter x 28 meter (1.176 m²), yang merupakan bagian dari lahan milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat seluas 4.225 m². Kompleks ini mencakup:

  • Permakaman umum: 1.673,5 m²
  • Permakaman khusus kerabat Ki Ageng Butuh: 380 m²
  • Area parkir dan perumahan juru kunci: 995,5 m²

Bangunan utama tetap mempertahankan keaslian arsitektur kayu jati, sementara serambi masjid dibangun dengan tembok sebagai pelindung.

Masjid Butuh Sebagai Pusat Aktivitas Sosial

Hingga kini, Masjid Butuh tetap digunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat. Tradisi yang masih berlangsung antara lain:

  • Pengajian rutin
  • Kenduren
  • Bersih desa

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi simbol sejarah dan identitas masyarakat Dukuh Butuh.

Titik Awal Sejarah Islam di Sragen

Masjid Butuh berada dekat dengan makam Ki Ageng Butuh dan petilasan Raden Joko Tingkir (Sultan Hadi Wijaya), yang diyakini sebagai tokoh pendiri Sragen. Lokasinya yang strategis di tepi Sungai Bengawan Solo juga menunjukkan peran penting masjid ini dalam kegiatan perdagangan dan transportasi melalui sungai pada masa lalu.


Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *