Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berada di tempat dan waktu yang tepat, sehingga menjadi saksi sejarah atau bahkan ikut serta dalam perjalanan sejarah. Des Alwi adalah salah satu dari mereka.

Pada 11 Februari 1936, seorang anak sedang bermain di dermaga Banda Neira. Untuk usianya yang baru 8,5 tahun, dia terlihat agak tinggi. Rambutnya pendek, dan saat itu ia duduk di kelas 2 ELS (Europeesche Lagere School). Ketika sebuah kapal kolonial Belanda tiba, dua orang pria berjas turun dari kapal tersebut. Wajah mereka tampak pucat. “Pasti para tahanan dari Digul,” pikirnya. Boven Digul memang identik dengan malaria, bahkan anak kecil masa itu pun tahu.
Kapten kapal yang masih muda berkata kepada controleur (semacam camat), “Suruh anak buah Anda angkat bagasi tuan-tuan ini.” Yang dimaksud adalah tahanan yang biasanya digunakan sebagai kuli di dermaga. Namun controleur acuh tak acuh, “Biarkan saja kaum merah mengangkat barang sendiri.” Mereka yang menentang pemerintah Belanda selalu disebut “merah” atau komunis.
Diangkat anak oleh Sjahrir
Saat itulah salah satu pria muda melihat si bocah. Dalam bahasa Belanda, dia bertanya, “Kamu tahu rumah Pak Cipto Mangunkusumo?” Yang langsung dijawab, “Jauh, Meneer. Tapi kalau di depan situ rumah Pak Iwa Kusuma Sumantri.”
Si anak yang selalu cepat bergerak langsung berlari ke rumah Cipto Mangunkusumo. “Pak Cipto, ada dua tuan datang.”
“Pak Cipto, siapa?” tanya tokoh pergerakan yang sudah senior dan beberapa lama diasingkan di sana.
“Yang satu saya baca namanya Hatta.”
“Hatta?” Pak Cipto terdengar terkejut.
Bagi Des Alwi, nama Sutan Sjahrir lebih sulit dibaca dan diingat, walau Sjahrir-lah yang pertama kali berbicara dengannya. Itu adalah awal perkenalannya dengan dua tokoh pergerakan kemerdekaan negara kita. Bung Hatta saat itu masih bujangan berusia sekitar 34 tahun, sedangkan Sutan Sjahrir berusia 27 tahun. Mereka telah dua tahun berstatus tahanan dan dipindahkan dari Boven Digul.
Setelah seminggu menginap di rumah Cipto yang terletak di tepi pantai, mereka pindah ke rumah sendiri. Rumah itu tidak hanya berdekatan dengan penjara dan rumah controleur, tapi juga hanya beberapa ratus meter dari sekolah.
Menurut Des Alwi, “Ketika masa masuk sekolah tiba, saya lihat kedua tuan sudah tinggal di rumah yang keren di dekat sekolah saya. Maka saya mampir untuk bicara-bicara. Kemudian saya perkenalkan mereka dengan tokoh-tokoh setempat dan keluarga saya di Banda.”
Itu pula asal-muasalnya Des Alwi sampai menjadi anak angkat Sutan Sjahrir. Di media massa, pria ini sering dikaitkan dengan dunia film dokumenter. Dia juga disebut-sebut dalam rujukannya RI dan Malaysia, sebagai anggota atau ketua dari berbagai yayasan, seperti Yayasan 10 November yang pada Agustus 1994 menyumbangkan kumpulan film dokumenter tentang perjuangan bangsa Indonesia kepada wakil presiden Indonesia saat itu, Try Sutrisno.
Dia pun berhasil menelurkan sebuah film tentang Bung Hatta. “Sebagai bentuk terima kasih kepada guru saya,” katanya. Film itu menghabiskan tak kurang dari Rp200 juta dalam waktu 26 tahun untuk berburu narasumber!
Kalau Anda berjumpa Des di dalam gelap, dari suaranya yang serak-serak bariton Anda sudah dapat membayangkan perawakannya yang tinggi besar. Dengan satu nyala lilin, akan terlihat kedua matanya yang jeli lagi jenaka. Dengan dua nyala lilin nampaklah hidungnya yang besar, dan dengan tiga lilin … senyum lebarnya yang ramah.
Dua guru istimewa
Dia akrab, pernah dekat, atau pernah berurusan dengan nama-nama yang bagi kita umumnya cuma dikenal lewat buku sejarah atau media massa. Bung Karno? Bung Hatta? Sutan Sjahrir? Tunku Abdul Rahman? Tun Abdul Razak? Fidel Ramos? Corazon Aquino? Pangeran Bernhard dari Belanda? Jacques Cousteau? Sarah Ferguson? Sebut lagi tokoh-tokoh pemerintahan kita sekarang, pastilah dia punya satu, dua, atau segudang cerita yang senantiasa disampaikan dengan penuh warna.
Apakah dia juga seorang tokoh? “Ha ha ha … saya adalah saya,” katanya. Di kantornya yang sederhana, di depan meja kerja yang padat dengan tebaran buku, makalah dan segala macam, duda dengan 4 anak dan 5 cucu ini memulai kisahnya.
“Saya lahir 17 November 1927. Ibu saya Halijah, ayah saya Abubakar. Ayah keturunan Ternate-Palembang, tetapi bagi masyarakat Banda, garis keturunan ibulah yang lebih penting.” Begitulah, Halijah adalah putri seorang tokoh yang pernah besar di Banda dengan reputasi internasional, sehingga dengan bangga Des Alwi dapat mengatakan, “Saya adalah cucu Said Baadilla.”
Kalau kakeknya itu boleh dikata sangat kooperatif dengan pemerintah Belanda, perjalanan nasib membuat Des dan saudara-saudaranya malah menjadi anak-anak revolusi. Ketika Bung Hatta dan Sutan Sjahrir memasuki kehidupan mereka, para cucu Baadilla tak lagi menikmati kelimpahan materi kakek mereka.
Mula-mula Hatta menjadi pembimbing ketiga putra Cipto sambil membantu tiga orang dewasa belajar tata buku. Namun kemudian dia bergabung dengan Sutan Sjahrir menjadi pembimbing anak-anak keluarga Baadilla. Dari merekalah anak-anak ini belajar bahasa asing dan “melihat dunia luar” lewat buku secara gratis.
Maklum saja. Kemewahan yang dinikmati kedua tokoh pergerakan ini memang buku. Kesibukan utama mereka belajar dan mempersiapkan strategi untuk merebut kemerdekaan.
Buku yang mereka lalap menembus pelbagai disiplin ilmu: filsafat Jerman, sastra Prancis, sejarah Inggris, politik Belanda, teori-teori dan praktik revolusi di Rusia, Turki, Cina, dan Jepang. Untuk anak-anak, mereka menyediakan buku khusus pula, seperti yang dituturkan Des.
“Kami banyak membaca buku. Melihat saya suka ketawa-ketawa begini, Pak Hatta memberi saya buku Don Quixote, Baron van Munchausen, dll.” Dengan penguasaan bahasa Belanda dan Inggris, sudah tentu jangkauan bacaan mereka cukup luas.
Sebagai “balas jasa”, anak-anak ini membawa kedua guru mereka berjalan-jalan ke kebun pala, berlayar, berenang, memancing ikan dan menikmati keindahan bunga karang, mengamati burung-burung merpati hijau makan buah pala, semua saja kenikmatan alam Banda.
Bagi kedua tokoh ini, anak-anak Baadilla adalah obat sepi. Apalagi menurut Des, “Saya suka mencuri mangga di pohon orang, sehingga pemiliknya kadang-kadang datang dan melapor kepada Pak Hatta.” Karena sifat kekeluargaan orang Banda, tak lama kemudian biasa pula anak-anak makan atau jatuh tertidur di rumah mereka.
“Hobi” Des yang lain adalah berkelahi, walaupun penyebabnya cumalah masalah sepele. Menilik tubuhnya yang besar, andaikan nasibnya meleset dari yang sekarang, ada kemungkinan Des menjadi petinju yang sukses.
Sambil tergelak dia bercerita, “Pernah ada seorang keturunan Ambon – Banda yang menjadi petinju terkenal. Menurut Pak Sjahrir, dia bisa hebat karena dulu sehari-hari berkelahi dengan saya.” Namun cita-cita Des kecil sebenarnya adalah menjadi nakhoda.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











