Membuka Dunia Na Willa dengan Kehangatan dan Keajaiban
Film Na Willa yang akan dirilis pada Lebaran 2026 kembali mengajak penonton untuk merasakan kembali kebahagiaan masa kecil melalui petualangan sederhana sehari-hari. Di acara press conference peluncuran trailer dan poster film ini, para pembuat film, penulis novel, dan pemeran utama berbagi pengalaman di balik layar. Berikut adalah lima hal menarik tentang film Na Willa yang dekat dengan hati anak-anak.
Makna “Selamat Datang di Dunia Na Willa”
Frasa “selamat datang di dunia Na Willa” bukan hanya sekadar kata pembuka, tetapi juga menjadi pelukan hangat bagi penonton. Reda Gaudiamo, penulis novel Na Willa, menjelaskan bahwa frasa ini ingin membawa penonton kembali ke suasana bahagia masa kecil.
Dalam film, frasa ini menghubungkan penonton dengan keseharian dunia Na Willa yang sederhana, seperti anak-anak pergi ke pasar, minum orange crush, bermain bersama teman, dibacakan buku, dan tidur. Kehidupan sehari-hari ini kemudian dijahit menjadi narasi utuh dalam film, menggabungkan live action dan drama musikal.
Latar Tahun 1960-an dari Sudut Pandang Anak
Era 1960-an dalam film Na Willa tidak ditampilkan sebagai sejarah biasa, melainkan sebagai taman penuh keajaiban melalui mata anak berusia enam tahun. Hal-hal kecil seperti melihat bumbu dapur yang biasa saja bagi orang dewasa menjadi sesuatu yang menarik dan penuh makna bagi anak-anak.
“Apa pun latarnya, rasa menjadi anak-anak tidak pernah berubah, yang berubah adalah kita sebagai manusia,” ujar Reda. Fokusnya bukan pada zamannya, melainkan pada rasa menjadi anak-anak yang muncul dari memori masa kecil.

Kreativitas dan Inisiatif Luisa cs di Lokasi Syuting
Film Na Willa menekankan pengalaman anak-anak langsung di lokasi syuting. Ryan Adriandhy, sutradara dan penulis naskah, menjelaskan bahwa berbeda dengan animasi yang bisa diatur per frame, live action membuat anak-anak memberi masukan sendiri selama proses berlangsung.
Karena anak-anak profesional, mereka bisa menilai sendiri adegan yang dimainkan dan mengajukan retake bila perlu. Produksi mengandalkan kolaborasi dan sinergi dengan anak-anak di lokasi, sekaligus terasa seperti pengalaman parenting bagi tim pembuat film.

Kenyamanan Kru dan Pemain di Lokasi Syuting
Tim produksi film Na Willa berupaya menciptakan lokasi syuting yang nyaman dan aman bagi kru maupun pemain. Untuk anak-anak, disiapkan playground, sudut bacaan, perosotan, dan tempat tidur kecil agar bisa beristirahat atau tidur siang setelah makan siang.
“Kayanya Na Willa satu satunya film yang memberlakukan syarat tidur siang setelah break makan siang deh,” canda Ryan. Aturan tidur singkat ini membantu menjaga energi dan kesehatan mereka, sehingga siap kembali ke syuting dengan kondisi prima.
Selain itu, makanan sehat selalu disediakan untuk anak-anak maupun seluruh kru. Selama 26 hari syuting, semua kru saling mengingatkan untuk menjaga pola makan, termasuk sarapan sayuran rebus setiap pagi dan membatasi konsumsi makanan tinggi gula. Area syuting pun dijaga bebas rokok, agar suasana tetap aman dan nyaman bagi semua.

Keterlibatan Reda dalam Produksi Film Na Willa
Reda terlibat langsung untuk memastikan semua tokoh dan cerita punya fungsi di dalam film. Karena novel awalnya berbentuk slice of life, tim produksi perlu menjahitnya menjadi narasi utuh yang cocok untuk film.
Urutan bab tidak selalu urut. Misalnya, adegan dari bab 1 bisa disambung ke bab 3, lalu kembali ke bab 2, sesuai kebutuhan alur. Hal-hal yang dijaga dalam proses adaptasi novel ke film ini adalah:
- Dialog dijaga agar tetap mencerminkan setting 1960-an, karena terlalu modern bisa mengacaukan suasana
- Reda ikut mengarahkan akting, terutama karakter Mak (Irma Rihi) agar sesuai karakter
- Memberikan pandora box berisi foto masa kecilnya untuk memperkaya ide dan visual film
“Semoga semua generasi bisa merasakan kembali lensa kehidupan yang pernah pudar, lensa anak-anak,” harapnya.

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











