"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Budaya  

Suara merdu dari kacamata karnivalesque: Lebih dari sekadar hiburan

Fenomena Sound Horeg: Hiburan Berisik dan Dinamika Budaya



Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah bentuk hiburan masyarakat yang identik dengan suara lantang yang bahkan cenderung bising dan menggelegar semakin sering terlihat di ruang publik Indonesia. Bentuk hiburan ini dikenal sebagai sound horeg, yang mencerminkan dinamika sosial dan budaya yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Tidak hanya sebagai gangguan kebisingan, sound horeg juga menjadi ekspresi sosial dan budaya tertentu.

Sound horeg adalah istilah populer untuk aktivitas hiburan menggunakan sound system berdaya besar yang mengeluarkan suara keras dan getaran kuat dalam acara seperti karnaval, hajatan, festival lokal, dan peringatan hari keagamaan tertentu. Suara keras ini sering kali memicu kontroversi—sebagian masyarakat melihatnya sebagai hiburan dan sumber kebersamaan, sementara banyak pihak merasa terganggu karena efek suara yang menggelegar dan mengganggu ketenangan lingkungan.

Kegembiraan vs Keresahan: Dualitas Suara Berisik

Sound horeg mencerminkan dualitas budaya populer. Bagi sejumlah penikmatnya, suara berisik adalah elemen yang menghadirkan euforia, semangat sosial, dan pengalaman kolektif ketika berkumpul bersama di acara besar. Di sisi lain, suara yang sama bisa menimbulkan keresahan, gangguan tidur, dan bahkan potensi gangguan pendengaran serta gangguan kesehatan lain karena paparan frekuensi tinggi bagi pendengar yang dekat dengan sumber suara fisik.

Beberapa fatwa dan imbauan aparat menunjukkan bahwa sudah terdapat kebijakan yang berorientasi untuk menyeimbangkan antara hiburan dan kenyamanan warga.

Teori Karnivalesque dan Hiburan Berisik

Dalam kajian budaya, fenomena seperti sound horeg dapat dipahami melalui teori karnivalesque Mikhail Bakhtin. Meski bukan secara langsung membahas sound horeg, menurut akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Fadhil Munawwar Manshur, teori ini menjelaskan bagaimana perayaan, kebisingan, dan kekacauan dapat menjadi mekanisme pembebasan sosial dari norma dominan dalam konteks karnaval.

Dalam karnivalesque, suara keras, tawa, dan ekspresi berlebihan menjadi bentuk sementara di mana hierarki sosial dibongkar dan ruang publik diisi oleh suara rakyat yang tak terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Menurut pandangan ini, suara berisik yang menggebu dalam festival atau parade bukan sekadar “gangguan”, tetapi juga raungan simbolik dari kerumunan yang ingin didengar, meski melampaui aturan kesopanan atau norma keseharian, menandai sebuah ruang di mana struktur sosial biasa dilonggarkan.

Fenomena Serupa di India



Fenomena suara keras sebagai bagian dari ekspresi budaya juga dapat dijumpai di berbagai festival di India, secara spesifik di Benggala Barat, meskipun tidak persis sama dengan sound horeg. Misalnya, Durga Puja Carnival di Kolkata, atau Poush Mela dan Rash Mela adalah beberapa perayaan besar yang erat dengan latar belakang religius, akan tetapi di era modern melibatkan parade, musik (lengkap dengan speaker yang ditumpuk di atas kendaraan), tarian, dan kerumunan besar yang memenuhi jalanan dengan suara riuh dan kegembiraan kolektif.

Festival seperti ini berkembang menjadi ruang publik besar penuh musik dan suara yang menopang identitas budaya bersama serta menjalin kebersamaan antarwarga. Karnaval budaya lainnya seperti yang menggabungkan arak-arakan musik, tarian, dan kerumunan besar masyarakat selama beberapa hari. Tradisi-tradisi ini, meskipun berakar pada ritual agamis, agraris dan sosial, sering melibatkan musik yang keras dan irama yang kuat sebagai bagian dari ritus perayaan mereka—yang bahkan menjadi salah satu agenda wisata yang dimuat dalam website resmi pariwisata negara bagian Benggala Barat, wbtourism.gov.

Sound Horeg, Identitas Sosial, dan Ruang Publik

Kedua fenomena di atas, baik di Indonesia maupun India, tidak hanya memperlihatkan dinamika kebisingan, tetapi juga menggambarkan bagaimana komunitas mencari identitas sosial melalui suara. Menurut studi fenomenologis yang dilakukan oleh Risma Auliana Devi, Arief Sudrajat, dan Nuraini Inayah dari Universitas Negeri Surabaya di Lumajang (yang dimuat oleh Jurnal IKADBUDI UNY terbitan Juni 205), remaja / generasi muda kerap memaknai sound horeg sebagai ekspresi identitas sosial mereka di tengah keterbatasan ruang hiburan formal, menunjukkan bahwa suara keras dan partisipasi kolektif dapat membentuk solidaritas komunitas.

Dalam konteks ruang publik yang semakin sempit dan sistem hiburan yang komersial, fenomena semacam ini muncul sebagai respons terhadap keterbatasan akses hiburan representatif dan ruang berkumpul yang aman dan nyaman bagi kalangan menengah ke bawah.

Singkatnya, fenomena hiburan berisik seperti sound horeg adalah contoh nyata bagaimana suara dan kebisingan bisa menjadi bentuk ekspresi budaya, ruang komunikasi sosial, serta tanda solidaritas kelompok masyarakat tertentu, bukan sekadar “hiburan” atau bahkan gangguan akustik semata. Melihatnya melalui lensa teori karnivalesque membantu kita memahami suara berlebihan sebagai fenomena budaya yang kompleks — sebuah ledakan ekspresi kerumunan yang menantang norma kebisingan, sekaligus memicu pertanyaan tentang batas hak publik, kenyamanan warga, dan makna hiburan dalam ruang publik kontemporer.

Melalui perbandingan dengan festival-festival di Benggala Barat seperti Durga Puja Carnival dan berbagai mela (festival) tradisional, kita juga melihat bagaimana suara kuat dalam perayaan sangat terkait dengan identitas budaya dan rasa kebersamaan, meskipun masing-masing masyarakat memiliki cara berbeda dalam menyeimbangkan hiburan, nilai sosial, dan toleransi terhadap lingkungan sekitar.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *