"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Bisnis  

Danantara Jamin 30 Persen Porsi Ekuitas di Proyek Waste to Energy

JAKARTA — Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menegaskan keterlibatan Danantara dalam skema pendanaan proyek waste to energy (WTE) dilakukan dengan porsi minimal sebesar 30 persen. Pandu menjelaskan, secara umum struktur pendanaan proyek WTE dirancang dengan komposisi sekitar 70 persen berasal dari pinjaman (debt) dan 30 persen dari ekuitas.

“Kita kan minimum 30 persen dari 30 persen itu, kurang lebih begitu. Karena kan ada juga mitra teknologi yang ikut datang. Seperti yang sudah kami umumkan, semuanya minimal 30 persen dari total ekuitas,” ujar Pandu usai menghadiri acara China Conference: Southeast Asia (CCSEA) 2026 South China Morning Post (SCMP) bersama Danantara Indonesia dan Kadin Indonesia di The St. Regis Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Ia menegaskan porsi tersebut tidak dihitung dari total pendanaan proyek, melainkan hanya dari bagian ekuitas. Dengan demikian, keterlibatan Danantara tidak mencakup keseluruhan pembiayaan proyek.

“Bukan dari total pendanaan. Jadi kalau nanti financing pun kita akan buka, bukan berarti semuanya Himbara. Kita ingin semua bank ikut. Jadi ini penting,” sambung Pandu.

Pandu menambahkan skema tersebut berlaku untuk seluruh proyek WTE yang berada dalam portofolio Danantara Indonesia. Ia menjelaskan mekanisme pembiayaan akan dilakukan secara terbuka melalui proses lelang konsorsium, sehingga setiap pihak dapat mengajukan skema pembiayaan terbaik.

“Ini berlaku untuk semua proyek,” tegasnya.

Terkait proses pemilihan mitra pembiayaan, Pandu menekankan Danantara tidak membatasi sumber pendanaan hanya pada bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Danantara, lanjut Pandu, membuka kesempatan bagi berbagai lembaga keuangan untuk terlibat.

“Itu kan kita buka. Jadi terserah mereka nanti mau membawa siapa pun financing-nya, pasti pembiayaan yang terbaik untuk proyek tersebut. Setiap proyek mungkin agak berbeda-beda sedikit, yang penting siapa yang membawa proyek itu dan bisa dari bank mana pun,” kata Pandu.

Strategi Pendanaan Proyek Waste to Energy

Strategi pendanaan proyek waste to energy (WTE) yang diterapkan oleh Danantara Indonesia memiliki beberapa elemen penting yang perlu dipahami. Pertama, porsi minimal 30 persen dari ekuitas ditempatkan sebagai partisipasi langsung Danantara. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa perusahaan tetap memiliki pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan terkait proyek WTE.

Selain itu, struktur pendanaan yang digunakan biasanya terdiri dari 70 persen pinjaman (debt) dan 30 persen ekuitas. Ini merupakan model standar yang umum digunakan dalam proyek infrastruktur besar. Dengan pendekatan ini, Danantara dapat mengoptimalkan modal yang dimiliki sambil tetap memperoleh dukungan finansial dari pihak ketiga.

Pandu menjelaskan bahwa porsi 30 persen ini tidak dihitung dari total pendanaan proyek, melainkan hanya dari bagian ekuitas. Artinya, keterlibatan Danantara tidak mencakup seluruh pembiayaan proyek, tetapi hanya sebagian kecil dari total ekuitas yang diperlukan. Dengan demikian, proyek WTE tetap dapat didanai oleh berbagai pihak, termasuk bank dan lembaga keuangan lainnya.

Mekanisme Pembiayaan Terbuka

Mekanisme pembiayaan yang diterapkan oleh Danantara Indonesia adalah terbuka dan transparan. Proses lelang konsorsium dilakukan untuk memastikan bahwa setiap pihak yang tertarik dapat mengajukan skema pembiayaan terbaik untuk proyek WTE. Dengan demikian, proyek tidak hanya didanai oleh satu pihak saja, tetapi melibatkan berbagai institusi keuangan.

Pandu menekankan bahwa Danantara tidak membatasi sumber pendanaan hanya pada bank-bank Himbara. Sebaliknya, perusahaan membuka kesempatan bagi berbagai lembaga keuangan untuk terlibat dalam pendanaan proyek WTE. Hal ini dilakukan agar proyek dapat mendapatkan dukungan finansial yang lebih luas dan beragam.

Dalam proses pemilihan mitra pembiayaan, Pandu menyatakan bahwa Danantara memberikan kebebasan kepada pihak-pihak yang ingin terlibat. “Itu kan kita buka. Jadi terserah mereka nanti mau membawa siapa pun financing-nya, pasti pembiayaan yang terbaik untuk proyek tersebut. Setiap proyek mungkin agak berbeda-beda sedikit, yang penting siapa yang membawa proyek itu dan bisa dari bank mana pun,” tambahnya.

Keuntungan dari Pendekatan Ini

Pendekatan pendanaan proyek WTE yang diterapkan oleh Danantara Indonesia memiliki beberapa keuntungan. Pertama, dengan membagi pendanaan menjadi 70 persen pinjaman dan 30 persen ekuitas, perusahaan dapat mengurangi risiko finansial yang terkait dengan proyek besar. Selain itu, pendekatan ini memungkinkan proyek untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk bank dan lembaga keuangan lainnya.

Kedua, dengan mempertahankan partisipasi minimal 30 persen dari ekuitas, Danantara tetap memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan terkait proyek. Hal ini penting untuk memastikan bahwa proyek WTE berjalan sesuai dengan visi dan tujuan perusahaan.

Terakhir, pendekatan terbuka dan transparan dalam pembiayaan proyek WTE memungkinkan adanya kompetisi antara pihak-pihak yang ingin terlibat. Dengan demikian, proyek WTE dapat mendapatkan pendanaan yang terbaik dan efisien.

Kesimpulan

Dengan strategi pendanaan proyek waste to energy (WTE) yang diterapkan oleh Danantara Indonesia, perusahaan berhasil menciptakan model pendanaan yang seimbang dan berkelanjutan. Porsi minimal 30 persen dari ekuitas dan 70 persen dari pinjaman menjadi dasar utama dalam pendanaan proyek WTE. Pendekatan ini tidak hanya memastikan keterlibatan Danantara dalam proyek, tetapi juga memungkinkan proyek untuk mendapatkan dukungan finansial dari berbagai pihak.

Dengan mekanisme pembiayaan terbuka dan transparan, Danantara Indonesia berhasil menarik minat berbagai lembaga keuangan untuk terlibat dalam pendanaan proyek WTE. Hal ini memastikan bahwa proyek WTE dapat berjalan dengan baik dan efisien, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *