Inovasi NTT Mart untuk Mendorong Ekonomi Kerakyatan
Pengusaha Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tidak lagi kesulitan dalam memasarkan produk-produknya. Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT telah menghadirkan NTT Mart sebagai wadah jual beli produk lokal yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah.
NTT Mart menjadi solusi atas tantangan yang dihadapi oleh pelaku IKM, terutama dalam hal pemasaran produk. Dengan adanya NTT Mart, pemerintah berupaya membeli produk dari pengusaha IKM dan menjualnya secara langsung kepada masyarakat. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengusaha kecil dan menengah serta meningkatkan perputaran uang di wilayah setempat.
Kerja Sama yang Melibatkan Berbagai Pihak
Program NTT Mart digagas oleh Pemprov NTT bekerja sama dengan berbagai mitra seperti Dekranasda, GMIT, dan sekolah. Pemprov menyediakan produk serta sarana prasarana pendukung, sementara mitra NTT Mart bertugas menyediakan tempat sekaligus mengelola operasional NTT Mart.
Setiap produk yang dibeli oleh Pemprov NTT dan ditempatkan di NTT Mart akan dijual dengan kenaikan harga antara 10 hingga 15 persen dari harga pembelian. Tujuan dari kenaikan harga ini adalah agar produk bisa lebih cepat berputar dan menghasilkan pendapatan yang lebih baik. Selain itu, NTT Mart juga diharapkan menjadi jembatan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kerakyatan.
Dari kenaikan harga tersebut, 60 persen akan diberikan kepada pengelola NTT Mart, sedangkan 40 persen akan diberikan kepada Pemprov NTT. Hal ini menunjukkan bahwa pengelola memiliki peran yang lebih besar dalam pengelolaan NTT Mart.
Jumlah NTT Mart yang Sudah Beroperasi
Saat ini, sudah ada sebanyak 20 NTT Mart yang beroperasi di berbagai kabupaten dan kota di NTT. Hanya dua kabupaten, yaitu Alor dan Sabu Raijua, yang belum memiliki NTT Mart. Rencananya, pembentukan NTT Mart akan rampung pada bulan Februari 2026.
Setelah semua NTT Mart terbentuk, Pemprov NTT akan melakukan evaluasi setiap tiga bulan untuk melihat pendapatan, pengelolaan, dan dampaknya terhadap masyarakat, khususnya pengusaha IKM. Evaluasi ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi kelemahan atau kekurangan yang bisa menjadi bahan perbaikan agar NTT Mart bisa lebih luas lagi.
Transaksi Virtual dan Pengawasan Produk
Selain menjual langsung di gerai NTT Mart, produk yang tersedia juga ditawarkan melalui transaksi virtual. Sistem online ini bekerja sama dengan Bank NTT dan sudah diluncurkan setelah NTT Mart lengkap di seluruh daerah. Dengan sistem ini, masyarakat di mana pun bisa membeli produk lokal NTT secara online.
Produk yang dijual di NTT Mart harus memiliki izin PIRT atau Pangan Industri Rumah Tangga, sertifikat halal, BPOM, dan merek. Meskipun ada syarat-syarat demikian, Pemprov NTT memberi kelonggaran agar produk bisa masuk ke NTT Mart. Pemerintah akan melakukan identifikasi dan pendampingan hingga mengurus penerbitan izin yang belum lengkap.
Pelatihan dan Pendampingan bagi Pengusaha IKM
Selain itu, Pemprov NTT juga membantu dalam pelatihan manajemen usaha dan produk. Zeth Sony Libing, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTT, mengatakan bahwa kendala utama dalam pembentukan NTT Mart adalah minimnya jumlah produk. Beberapa kabupaten seperti Malaka, Nagekeo, Manggarai Timur, Lembata, dan Ngada memiliki keterbatasan produk, terutama yang berkaitan dengan kuliner. Oleh karena itu, pelatihan produk diperlukan agar semakin banyak produk bisa masuk ke NTT Mart.
Selain itu, Disperindag NTT juga berperan dalam implementasi program Dasa Cita Gubernur dan Wakil Gubernur NTT tentang “dari ladang, laut ke pasar” melalui hilirisasi. Peran lainnya adalah melakukan pelatihan dan pendampingan bagi pengusaha IKM, termasuk mengurus dokumen penting seperti BPOM, sertifikat halal, izin PIRT, dan merek.
NTT Mart sebagai Solusi Defisit Perdagangan
NTT Mart juga dihadirkan untuk mengatasi defisit perdagangan yang mencapai Rp 51 triliun. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa masyarakat NTT cenderung berbelanja produk dari luar NTT. Dengan adanya NTT Mart, pemerintah berharap dapat menekan defisit tersebut sekaligus menjaga harga diri melalui produk yang disiapkan dan dinikmati oleh masyarakat NTT sendiri.
Zeth Libing mengajak masyarakat untuk memanfaatkan NTT Mart sebagai tempat membelanjakan berbagai kebutuhan. Ia menegaskan bahwa NTT Mart adalah simbol harga diri NTT yang terwujud dalam karya para pengusaha IKM, kriya, fashion, dan kuliner. Dengan berbelanja di NTT Mart, masyarakat dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
Data Jumlah NTT Mart
Berikut data terkait NTT Mart hingga saat ini:
- Jumlah NTT Mart yang beroperasi: 20 Kabupaten/Kota
- NTT Mart yang akan launching Februari 2026: Alor dan Sabu Raijua
- Total anggaran: Rp 3,6 miliar untuk pembelian produk dan sarana prasarana penunjang NTT Mart
- Jumlah produk tiap NTT Mart: 1.000
- Jumlah IKM yang dilibatkan: 40-50 pengusaha IKM
- Mitra NTT Mart: GMIT di Kabupaten Kupang, SMAN 2 Rangke Lembong Manggarai, dan sisanya kerja sama Dekranasda
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











