Kunjungan Ketua DPD PDIP Lampung ke Taman Purbakala Pugung Raharjo
Ketua DPD PDIP Lampung, Winarti, menekankan pentingnya peran seluruh pihak, termasuk struktur partai dan anggota fraksi di daerah, dalam mendukung kemajuan sektor pariwisata berbasis sejarah dan budaya. Hal ini disampaikan oleh Winarti saat berkunjung ke Taman Purbakala Pugung Raharjo, Kabupaten Lampung Timur, pada Sabtu (31/1/2026).
Winarti tidak datang sendirian. Ia didampingi oleh jajaran Wakil Ketua DPD PDIP Lampung, seperti Yanuar Irawan, Ali Johan Arif, Apriliati, Donald Harris Sihotang, I Wayan Aryudi, Watoni Noerdin, Piego Wilyasa, Ni Ketut Dewi Nadi, Budhi Condrowati, Irfan Fadillah Mabsus, serta Grace Purwo Nugroho. Turut hadir juga Sekretaris DPD PDI Perjuangan Lampung Palgunadi, Bendahara Kostiana, dan pengurus DPC dan PAC PDI Perjuangan Lampung Timur.
Keistimewaan Taman Purbakala Pugung Raharjo
Winarti menyatakan bahwa Taman Purbakala Pugung Raharjo merupakan aset yang sangat bernilai, tidak hanya bagi Lampung Timur tetapi juga bagi Provinsi Lampung secara keseluruhan. Oleh karena itu, ia menitipkan kepada seluruh anggota fraksi dan struktur partai di daerah untuk ikut mendukung, menjaga, dan mengembangkan kawasan tersebut.
“Kunjungan kami kesini merupakan bentuk dukungan sekaligus upaya mempromosikan salah satu objek wisata sejarah dan budaya unggulan di Provinsi Lampung,” ujar Winarti.
Bupati Tulangbawang periode 2017-2022 ini menjelaskan bahwa kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen PDI Perjuangan dalam mendorong pelestarian warisan budaya sekaligus pengembangan pariwisata berbasis sejarah.
Peninjauan dan Penjelasan Mengenai Situs Bersejarah
Dalam kunjungan tersebut, Winarti dan rombongan meninjau berbagai taman budaya dan titik-titik penting di kawasan Taman Purbakala Pugung Raharjo. Mereka dipandu oleh Widi Prasetio, Juru Pelihara Cagar Budaya dari Kementerian Kebudayaan.
Selain meninjau sejumlah titik penting di kawasan situs, rombongan juga mengunjungi kolam megalitik. Kolam megalitik ini adalah salah satu peninggalan purbakala yang menjadi daya tarik utama Taman Purbakala Pugung Raharjo. Kolam ini merupakan struktur batuan kuno yang diperkirakan berasal dari masa megalitik dan diyakini memiliki fungsi ritual atau simbolik pada zamannya, serta menjadi bagian dari sistem budaya masyarakat masa lampau.
Pesan dan Harapan untuk Pengelolaan Kawasan Wisata
Disela kunjungan, Winarti berpesan agar seluruh pihak bersama-sama menjaga alam, menjaga kebersihan, serta mengelola sampah dengan baik, demi keberlanjutan kawasan wisata sejarah Pugung Raharjo. Menurutnya, pengembangan objek wisata sejarah seperti Pugung Raharjo tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat lokal.
“Ini bisa menjadi sarana edukasi yang penting bagi generasi muda,” paparnya.
Sejarah dan Nilai Budaya Taman Purbakala Pugung Raharjo
Taman Purbakala Pugung Raharjo merupakan salah satu situs kepurbakalaan terpenting di Lampung. Secara administratif, situs ini berada di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur. Kawasan ini terletak di dataran berketinggian sekitar 80 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi tanggul yang diyakini sebagai peninggalan sistem pertahanan pada masa lampau.
Situs ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi karena menyimpan peninggalan dari berbagai periode. Mulai dari zaman prasejarah (megalitik), klasik Hindu-Buddha, hingga zaman Islam. Keberagaman temuan tersebut menjadikan Pugung Raharjo sebagai laboratorium sejarah terbuka yang sangat penting bagi dunia pendidikan.
Berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Situs Pugung Raharjo pertama kali ditemukan pada tahun 1957 oleh warga transmigran saat membuka hutan. Temuan awal berupa arca yang kemudian dikenal sebagai Arca Bodhisatwa, yang menunjukkan adanya pengaruh Hindu-Buddha di wilayah tersebut.
Penelitian lanjutan dilakukan secara berkesinambungan oleh berbagai lembaga dan pakar kepurbakalaan. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa kompleks megalitik Pugung Raharjo memiliki luas sekitar 25 hektare dan telah mengalami proses pemugaran sejak akhir 1970-an hingga awal 1980-an oleh pemerintah pusat.
Berbagai peninggalan ditemukan di kawasan ini antara lain, punden berundak, batu berlubang, lumpang batu, kapak batu, kompleks batu mayat, kolam megalitik, arca Bodhisatwa, prasasti klasik, hingga prasasti dan nisan dari masa Islam. Keberagaman artefak tersebut menunjukkan adanya kesinambungan peradaban yang panjang di wilayah Lampung.











