Kehidupan dan Mimpi Esther Aprilita Sebelum Tragedi Pesawat
Esther Aprilita, seorang pramugari asal Bogor, memiliki mimpi sederhana yang terwujud dalam cara yang tidak pernah ia bayangkan. Dalam kehidupan sehari-harinya, ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan bersemangat. Namun di balik profesinya sebagai awak kabin, ternyata Esther memiliki impian yang sangat berbeda: menjadi selebritas TikTok.
Impian itu terungkap melalui unggahan terakhirnya di akun TikTok pribadinya. Dalam video dan foto yang diunggah, Esther tampak menikmati waktu makan malam di sebuah restoran. Ia membagikan momen santai tersebut dengan gaya rambut pendek dan pakaian hitam. Unggahan tersebut mencerminkan sisi lain dari dirinya, yang ingin dikenal oleh publik.
Sahabat Esther, Magdalens, mengungkapkan bahwa ia sering bercerita tentang keinginannya untuk menjadi selebtok. “Ter lu pernah bilang ke gua lu mau jadi selebtok, minta ajarin gua gimana cara nya. Sekarang lu liat akun lu jd rame banget ter, se indonesia nyari akun lu, tp gua sedih ter akun lu rame tp dengan cara yang kaya gini ter, apasih terrr. Ayo ter pulang,” tulis Magdalens.
Peristiwa Tragis di Gunung Bulusaraung
Tragedi pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung pada Sabtu (17/1/2026) menjadi peristiwa yang menyedihkan bagi banyak orang. Pesawat yang mengangkut delapan kru, termasuk Esther Aprilita, mengalami kecelakaan di wilayah Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Dalam peristiwa tersebut, Esther menjadi salah satu korban yang meninggal dunia.
Dari daftar kru pesawat, terdapat Kapten Andy Dahananto, First Officer Yudha Mahardika, Sukardi, Hariadi, Franky D. Tanamal, Junaidi, Florencia Lolita, serta Esther Aprilita S. Proses pencarian dan evakuasi korban masih terus dilakukan oleh tim gabungan di medan yang sulit.
Berdasarkan laporan terbaru, Tim SAR telah menemukan satu korban berjenis kelamin laki-laki dan satu korban berjenis kelamin perempuan. Korban tersebut ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Selain itu, serpihan pesawat juga telah ditemukan. Bagian ekor pesawat dan puing-puing lainnya terdeteksi di puncak serta tebing Gunung Bulusaraung pada Minggu (18/1/2026).
Pangdam XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawako, menyampaikan perkembangan evakuasi korban. Ia menegaskan bahwa satu jenazah telah berhasil dievakuasi oleh Tim SAR gabungan. “Akan dibawa ke Posko Aju, lalu dibawa langsung menggunakan ambulans ke RS Bhayangkara, tim DVI sudah stand by di sana sehingga memudahkan proses identifikasi jenazah,” katanya.
Chat Terakhir dan Harapan Keajaiban
Keluarga Esther masih menanti keajaiban setelah tragedi tersebut. Orangtua Esther yang tinggal di kawasan Rancamaya, Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, menguraikan cerita mereka. Ibunda Esther, J Siburian, mengaku bahwa ia masih berkirim pesan dengan sang putri pada Jumat (16/1/2026). Dalam chat tersebut, Esther mengabari sang mama kalau dia sedang berada di Jogja dalam rangka tugas.
Esther pun aktif membagikan lokasinya ke sang mama. “Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu komunikasinya ‘aku sudah di sini mah, di sini mah’,” ujar J Siburian. Namun pada hari kejadian yakni pada Sabtu, Esther sama sekali tak ada kabar.
Diungkap ayah Esther, Adi Sianipar, putrinya tidak membalas chat-nya satu hari kemudian. Padahal di hari Sabtu itu Adi mengaku ingin menjemput Esther pulang sama-sama ke Bogor. “Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA dia karena saya lagi ke Jakarta, dia kan kos di Jakarta, jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif,” pungkas Adi dalam wawancaranya di Kompas TV.
Hingga akhirnya pada Sabtu sore, Adi dikabari oleh perusahaan tempat Esther bekerja. Bahwa pesawat yang ditumpangi Esther hilang kontak. “Saya dihubungi sama kantor IAT tempat dia bertugas. Mulai ditelepon tapi karena lagi di jalan, enggak saya angkat. Dia WA, bahwasanya pesawat yang ditumpangi Esther dari Jogja-Makassar lost contact,” imbuh Adi.











